Bukan Semata Tentang Harta dan Kedudukan, Beginilah Sejatinya Sukses

SUNGGUH menakjubkan saat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda ihwal manusia terbaik.

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad, Ath-Thabrani, dan Ad-Daruqutni)

Dari hadis ini, sudah jelas. Ukuran dan tolok ukur manusia terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.

Ilustrasi (source: pixabay)


Karena itu, tolok ukur kesuksesan hakiki bukanlah kesuksesan secara individual. Sukses menjadi pengusaha kaya raya. Sukses menjadi pejabat negara. Sukses meraih gelar doktor. Sukses memiliki harta benda, kendaraan mahal, dan perhiasan yang banyak.

Apalah arti kesuksesan itu semua tanpa memberi manfaat kepada orang lain? Hanya dinikmati sendiri. Tidak berdampak kepada orang lain. Keberadaanya sama seperti ketiadaanya.

Memang benar. Sukses meraih apa pun yang diinginkan tidaklah salah. Bercita-citalah setinggi mungkin. Seperti nasihat presiden pertama Indonesia, Soekarno, “Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit.”

Bermimpi dan berusaha menjadi sukses di masa depan boleh-boleh saja. Kita justru dianjurkan mengoptimalkan potensi yang dimiliki. Jadilah pribadi yang sukses di masa depan.

Sebab, itulah bentuk syukur kepada Allah. Mengoptimalkan seluruh energi dan potensi yang dimiliki. Mengoptimalkan pikiran, tenaga, fisik, dan sebagainya.

Akumulasinya, kita dapat meraih kesuksesan setinggi mungkin. Namun, yang perlu diingat apakah kesuksesan yang diraih itu dapat memberikan dampak atau manfaat kepada orang lain atau tidak? Inilah yang penting.

Bersyukurlah seseorang yang dapat meraih kesuksesan duniawi. Sukses menjadi pengusaha kaya raya, sukses meraih gelar doktor bahkan professor, sukses menjadi pejabat publik, dan sukses dalam bidang lainnya.

Kesuksesan itu adalah anugerah luar biasa yang diberikan oleh Allah. Ada hak orang lain yang terselip di balik setiap capaian dan kesuksesan kita. Lebih dari itu, ada tanggung jawab besar yang harus kita lakukan.

Ingatlah beberapa poin berikut ini! 

Semakin tinggi kesuksesan yang diraih, semakin besar pula tanggung jawab dan kebermanfaatan yang harus dilakukan.

Semakin tinggi gelar pendidikan dan ilmu yang didapat semakin besar amanah untuk menyampaikannya kepada orang lain.

Semakin banyak kekayaan yang didapat sebanyak besar zakat mal dan sedekah yang harus dikeluarkan untuk orang lain.

Semakin tinggi jabatan, semakin besar tanggung jawab dan amanah untuk membantu dan menyejahterakan rakyatnya.

Bayangkanlah! Begitu sayangnya jika kenikmatan berupa keberlimpahan kesuksesan itu tidak memberikan dampak apa pun. Harta yang banyak hanya dinikmati sendiri.

Rumah yang mewah. Tetapi, tetangga yang lainnya tinggal di gubuk reyot. Jika musim hujan kemasukan air dan basah.

Setiap hari dia kenyang makan berbagai makanan lezat dan nikmat. Sedangkan orang-orang di sekelilingnya kelaparan.

Begitu sayangnya orang yang berilmu, tetapi ilmu tersebut hanya disimpan. Ilmu yang banyak itu tidak diajarkan kepada orang lain. Hanya dinikmati sendiri. Tidak mau dibagi.

Padahal, orang-orang di sekelilingnya membutuhkan bimbingannya agar keluar dari kegelapan kebodohan. Banyak yang masih buta huruf. Tidak sedikit yang belum bisa baca Al-Qur’an dengan benar.

Padahal, ketika kita berbagi pada hakikatnya kita sedang berinvestasi kebaikan dan pahala. Kebaikan itu akan datang kepada kita suatu saat.

Tidak ada yang sia-sia. Meski hanya membuang duri di tengah jalan. Meski hanya memberi sebungkus nasi. Meski hanya mengajarkan satu ayat. Apalagi jika lebih dari itu? Masyaa Allah. Dahsyat!

Ingatlah, satu hadis HR. Muslim yang akan membuat kita bersemangat untuk bermanfaat kepada orang lain:

“Barangsiapa yang memudahkan kesulitan seorang mukmin dari berbagai kesulitan-kesulitan dunia, Allah akan memudahkan kesulitan-kesulitaannya pada hari kiamat. Dan siapa yang memudahkan orang yang sedang dalam kesulitan niscaya akan Allah memudahkan baginya di dunia dan akhirat.”

Suatu saat kebaikan yang kita berikan kepada orang lain akan berbalik kepada kita.

Kita tidak mungkin akan hidup di atas terus. Seperti roda pedati. Kadang di atas. Kadang pula di bawah. Tidak mungkin hidup bahagia berhias tawa dan senyum terus.

Suatu saat, ada waktunya bersedih dan menangis. Ketika menghadapi kesulitan, Allah pun akan memudahkan kesulitan kita. Sebagaimana kita memudahkan kesulitan orang lain.

_____ 
SYAIFUL ANSHOR, penulis adalah kontributor Parentnial.com. Naskah ini sebagian besar diambil dari bukunya berjudul "Journey to Success". Mau mendapatkan buku karya beliau, klik di sini. 

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel