Ketahui Manfaat Dampingi Istri Saat Melahirkan, Optimalkan Sebulan Cutimu

KABAR gembira buat pegawai negeri sipil (PNS) pria. Dulu, mungkin para suami susah untuk ajukan cuti mendampingi istri melahirkan.

Nah, sekarang tidak ribet lagi semenjak dikeluarkannya Peraturan Badan Kepegawaian Negara (BKN) Nomor 24 Tahun 2017 oleh Badan Kepegawaian Negara (BKN).

Ilustrasi suami cuci piring (source: shopify)

Melalui peraturan itu, sang ayah bisa lebih banyak memberi perhatian kepada sang istri dengan mengajukan cuti selama sebulan untuk mendampingi istri saat menjalani proses melahirkan.

Bagaimana dengan gaji, apakah disunat? Tenang. Cuti PNS tersebut tidak memotong jatah cuti tahunan dan penghasilan rutin.

Walaupun tidak semua masyarakat bisa menikmati disahkannya peraturan, namun sudah tentu keputusan itu disambut bahagia oleh aparat sipil negara ini.

Tapi yang penting sekarang, telah siapkah para ayah baru ini menjalani cutinya dengan baik? Sayang dong kalau cuti sebulan tapi ternyata tak optimal dalam mendampingi sang istri yang sedang terkulai tanpa daya.

Karena itu, penting bagi ayah untuk memastikan bahwa peranan Anda benar-benar efektif meringankan beban istri. Jangan malah sebaliknya, bukan main merepotkannya.

Ayah perlu mengetahui apa saja yang harus dilakukan saat dalam proses, sedang, atau setelah istri melahirkan. Jika tidak, suami malah bisa menjadi bumerang tersendiri.

Mendampingi istri melahirkan termasuk dalam proses menuju hari-hari istimewa tersebut, amatlah penting. Namun, pendampingan yang dilakukan harus betul-betul dari hati, bukan malah sibuk cek notifikasi dari HP yang tak hentinya berbunyi.

Dalam sebuah penelitian ilmiah menunjukkan pentingnya keberadaan suami menemani istri saat proses melahirkan.

Penelitian yang melibatkan 100 ibu melahirkan yang ditemani suami dan 100 ibu melahirkan yang tidak ditemani suami itu menunjukkan temuan yang perlu dipahami setiap lelaki.

Penelitian yang dirilis National Center for Biotechnology Information (NCBI) Amerika itu menemukan bahwa ibu melahirkan yang ditemani suami menjalani proses melahirkan dalam waktu yang lebih pendek, serta jumlah kasus asfiksia intrauterin dan operasi caesar lebih sedikit.

Selain itu, suami juga perlu memberikan dukungan moril kepada sang istri yang sedang menghadapi kondisi yang "hidup segan mati tak mau", atau tepatnya -sekarat- itu.

Sebab itu, motivasi dan ucapan membangun harus diutarakan. Jangan mencemaskannya dengan kata-kata yang negatif. Bangunlah moralnya dan kuatkan jiwanya.

Biarkan dia mencubit atau memarahi Anda saat waktu itu menjelang. Anda tak boleh baper apalagi menanggapi amarahnya sebab wanita yang akan melahirkan itu memang bertingkah aneh seperti itu saking beratnya beban sakit yang ditanggung.

Anda pun harus pintar-pintar untuk mengelola urusan belakang seperti mencuci bahkan memasak usai persalinan sukses dilakukan. Soal mencuci, Anda tidak perlu lagi merasa kotor untuk menyentuh, mencolek, menyikat, dan membersihkan feses (tinja) anak Anda. Santai aja.

Usahakan semua urusan pekerjaan rumah Anda ambil alih kecuali yang ringan ringan yang masih bisa dikerjakan oleh istri Anda seperti memandikan bayi atau dirinya sendiri.

Kalau punya cukup anggaran, Anda bisa saja menyewa asisten rumah tangga untuk mengurusi ketersediaan kebutuhan konsumsi sehari-hari dan lain-lain. Cari yang pintar masak dan pembersih supaya istri tetap tercukupi asupan gizinya.

Intinya, manfaatkanlah cuti Anda sebaik-baiknya selama sebulan itu. Sebaiknya sisihkan lebih banyak waktu dengan pasangan ketimbang membuang waktu dengan teman-teman tongkrongan.

Ingat, Anda kini adalah seorang ayah yang dituntut semakin dewasa dan proporsional. Syukurnya, Anda tidak pernah merasakan pedihnya melahirkan.

KEANU ABDULLAH

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel