Hakikat Kemanusiaan Kita, Menyelami Sejatinya Kesementaraan Hidup

MENGAPA harus ada manusia atau dengan kata lain, mengapa manusia diciptakan?

Tentu bukan tanpa maksud, terutama ketika melihat struktur manusia yang terdiri dari materil dan immateril.

Pasti ada maksud dan tujuan khusus di balik kehadiran manusia di muka bumi ini. Dibandingkan dengan makhluk hidup lainnya, jelas manusia yang paling unggul.

Ilustrasi (source: pixabay)

Manusia memiliki kemampuan berpikir, mengetahui, dan menyelesaikan masalah. Bahkan, manusia dengan fisiknya yang tak sekuat binatang, mampu mengatur dan menjadi penguasa di muka bumi ini.

Manusia yang serba terbatas secara fisik, mampu melampaui kemampuan makhluk hidup lainnya dalam memenuhi kehidupan.

Ketika burung dengan sayapnya terbang bebas kesana kemari. Manusia juga mampu terbang dengan burung besinya.

Ketika ikan mampu menyelam dan hidup di dalam air. Manusia dengan kapal selamnya, tidak kalah dengan seluruh makhluk laut.

Berdasarkan sedikit fakta tentang manusia yang unggul di atas segala makhluk, tentu bukan suatu kebetulan jika manusia ini hadir di permukaan bumi.

Sekiranya tidak ada maksud, lalu mengapa manusia memiliki keunggulan luar biasa yang tidak dimiliki oleh makhluk lain?

Jadi, sangat jelas. Manusia hadir karena mengemban misi mulia dan tanggung jawab yang tidak ringan.

Akal-akalan manusia (filsafat materialisme) tidak akan pernah sampai pada satu pemahaman yang utuh terkait dengan kehadiran manusia.

Bagi materialisme, manusia tak ubahnya binatang lainnya, hanya saja manusia bisa berpikir, demikian kesimpulan kaum materialis yang sangat dangkal.

Maka, jangan heran, kalau di buku-buku pelajaran manusia sering disebut sebagai hewan. Bagi ekonomi, manusia adalah hewan ekonomi, bagi filsafat manusia adalah hewan berpikir, dan seterusnya.

Jika cara pandang tersebut juga kita gunakan maka sama saja kita tidak mengenal Tuhan.

Secara historis, teori materialisme itu adalah teori yang lahir dari para pemikir Barat yang besar dalam masa kegelapan. Atas teori materialisme itu Barat tampil menjadi peradaban superior.

Tetapi mereka terlampau apatis terhadap agama, sehingga ketika mereka melihat Islam, dianggapnya Islam sama saja dengan agama yang pernah membelenggu kecerdasan mereka.

Akibatnya, materialisme mau tidak mau diakui sebagai cara pandang yang menjiwai seluruh bidang kehidupan, terutama epistemologi (filsafat ilmu).

Maka dari itu, tidak heran jika peradaban Barat adalah peradaban materi. Sebab cara pandang mereka terhadap kehidupan ini, tidak lebih dari sekedar kehidupan materi.

Realitas bagi mereka adalah yang nampak semata. Tidak ada yang hakikat di balik materi. Atas doktrin materi itulah, Barat menjadi anti Tuhan, anti agama, dan anti kebenaran mutlak.

LANTAS, UNTUK APA MANUSIA DICIPTA?

Satu-satunya cara untuk mengerti dengan haq (benar) mengapa ada manusia di muka bumi ini, mau tidak mau kita harus merujuk pada kitab suci kita sendiri (Al-Qur’an).

Sepanjang sejarah manusia, di luar kaum yang diutus nabi oleh Allah SWT tidak pernah mampu mendefinisikan siapa sebenarnya manusia. Umumnya terjebak pada aspek jasadiah dan seringkali irasional.

Maka tidak heran jika di dunia ini kita menemukan berbagai macam praktek budaya yang bermacam-macam.

Hal itu karena setiap kaum mendefinisikan dirinya berdasarkan dugaan dan kungkungan tradisi budaya yang sangat kuat.

Islam mendefinisikan manusia dengan tepat, rasional, dan empirik. Manusia itu tidak disebut hewan dalam Islam. Manusia adalah Abdullah dan juga Khalifatullah.

Artinya, sebagai Abdullah atau hamba Allah manusia harus total beribadah kepada-Nya, tidak mempersekutukan-Nya, dan siap berjuang di atas ajaran-Nya.

Sebagai Khalifatullah, manusia berkewajiban mengelola alam semesta ini dengan amanah, jujur, akuntabel, kredibel berdasarkan syariat-Nya.

Jika tidak, maka manusia sendiri yang akan mengalami kerugian, kesusahan, dan kesengsaraan dalam kehidupan ini.

Oleh karena itu, manusia bertanggung jawab penuh atas kelestarian dan keselamatan alam dunia ini.

Berdasarkan dua jawaban dalam Islam di atas, dengan sangat mudah kita bisa memahami bahwa dasar penciptaan manusia itu hanyalah beribadah kepada Allah.

Pertanyaannya, kenapa mesti beribadah hanya kepada Allah semata? Allah yang menciptakan seluruh alam semesta ini, termasuk manusia.

Kemudian Allah telah mengirimkan manusia-manusia pilihan (para nabi dan rasul) untuk membimbing manusia. Allah juga mewahyukan Al-Qur’an, kitab abadi sepanjang zaman.

Kemudian Allah memberikan manusia perangkat yang dengan sangat mudah manusia dapat membedakan mana benar, mana salah, mana baik mana buruk, yaitu berupa akal, hati, dan panca indera.

Ibarat sebuah barang elektronik atau otomotif dengan merk A misalnya. Kita tidak diperkenankan melakukan perbaikan ke layanan servis merk C. Karena hanya pemilik merk A yang benar-benar mengerti tentang seluk beluk produknya.

Jika dipaksakan diservis ke layanan merk C, boleh jadi barang akan tidak baik, dan jaminan garansi dari produsen merk A “hangus”.

Demikian pula manusia. Sampai kapanpun manusia akan berada dalam kekeliruan, kekalahan, kebodohan, kemiskinan, manakala dalam praktik kehidupannya tidak mengikuti petunjuk-petunjuk Allah SWT yang telah diperagakan oleh Rasulullah dan ditegaskan di dalam Al-Qur’an.

Karena, tidak ada yang mengerti hakikat alam, manusia, dan kehidupan ini secara mutlak, selain Allah SWT.

Jadi, logis, rasional, dan beralasan kuat jika kemudian Islam mengharuskan umatnya untuk beribadah hanya kepada-Nya.

Al-Qur’an telah memberikan tantangan sekaligus jawaban akan argumentasi penting tentang eksistensi manusia ini.

Tinggal kita sendiri, benar-benar mau berpikir atau sekedar ikut-ikutan saja?

Yang jelas, sesuatu yang tersusun rapi, indah, lagi kuat, mustahil ada dengan sendiri-Nya. Dan, kehadiran manusia jelas mustahil tanpa Sang Pencipta.

______
IMAM NAWAWI, penulis adalah kolumnis Parentnial.com. Artikel ini dikutip dari buku beliau yang berjudul "Mindset Surga" dan dapat dibeli di toko buku di kota Anda atau klik di sini.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel