Menyadari Kembali Pentingnya Figur Ayah bagi Anak Kita

AYAH adalah sosok yang sangat penting bagi kehidupan sang anak. Walaupun "jasanya" tidak sebesar ibu yang telah merasakan sakit saat melahirkan, tetapi ayah juga memiliki peran sangat besar.

Ayah sesungguhnya bukan hanya penyedia segala fasilitas keluarga dan secara tradisional berfungsi sebagai pencari nafkah. Ayah sesungguhnya juga merupakan organ penting dalam keluarga yang sewaktu-waktu dapat mengambil peran ibu sekaligus.

Ilustrasi ayah dan anak/ foto: Pexels

Seorang anak sangat membutuhkan figur ayah untuk mempelajari hal-hal yang tidak dia dapatkan dari ibunya, dan setiap anak tentu memiliki sesuatu yang dia butuhkan dari kehadiran figur ayah.

Sosok Seorang ayah juga sangat penting untuk tumbuh kembang anak hingga dia dewasa nanti. Dewasa ini, ayah atau pun ibu memiliki peranan yang sama di dalam memantau pertumbuhan dan perkembangan anak supaya optimal.

Pemisahan wilayah kerja yang mengatakan bahwa ayah hanya bertugas mencari nafkah saja, sementara untuk anak sepenuhnya tanggung jawab seorang ibu perlu untuk dikaji kembali.

Jika sampai hari ini pemisahan peran antara ayah dan ibu masih menjadi polemik, serta pandangan bahwa tugas seorang ayah hanyalah mencari nafkah itu masih diterapkan, maka seorang anak akan kehilangan figur dari sosok ayah.

Mengapa demikian? Karena peran seorang ayah dalam kehidupan anak sangat berarti, terutama untuk membangun kecerdasan emosional, meningkatkan kemampuan untuk berkomunikasi, dan untuk memberi motifasi anak dikemudian hari.

Dampaknya kemudian pabila seorang anak sama sekali tidak merasakan peran dari seorang ayah maka dia akan merasa kesulitan untuk melakukan adaptasi baik di sekolah, lingkungan sosial atau pun dalam perubahan yang lain.

Menjadi seorang ayah memang bukan perkara yang mudah, sebab dia memiliki tanggungjawab yang amat berat yakni menafkahi keluarga.
Terlepas dari itu dia juga memiliki peranan yang amat penting dalam mendidik anak meski telah sibuk di luar rumah seharian.

Hasil dari riset juga menunjukan bahwa seorang anak tanpa sosok ayah: sebanyak 63 % anak akan mengalami masalah psikologis seperti: merasa gelisah, suasana hati yang mudah sekali berubah, fobia, dan juga depresi.

Sebanyak 56 % lebih memiliki daya tangkap di bawah rata-rata. Sebanyak 43 % anak sangat agresif terhadap orang tua.

Seperti dikutip dari Psychology Today, 85% remaja yang berada di penjara karena masalah kriminal dibesarkan tanpa ayah. Ketika sudah dewasa pun mereka yang tumbuh tanpa sosok ayah lebih mungkin untuk melakukan tindak kriminal.

Pada satu penelitian juga, yang dilakukan pada tikus membandingkan perilaku sosial dan anatomi otak pada tikus. Penelitian ini membandingkan antara tikus yang disatukan dengan kedua orangtuanya, dan tikus yang hanya dibesarkan oleh ibunya.

Tikus yang digunakan adalah tikus California, karena jenis tikus ini memiliki kesamaan dengan manusia dalam hal membesarkan keturunannya bersama-sama.

Dr. Gabriella Gobbi, dari McGill University Canada yang menjalankan studi tersebut, menyatakan bahwa ini pertama kalinya ada penelitian yang menemukan bahwa ketidakhadiran ayah dalam pertumbuhan anak dapat memberikan dampak pada sisi neurobiologi.

Tikus yang dibesarkan tanpa ayah mengalami perubahan pada bagian prefrontal cortex di otak, suatu bagian yang mengontrol perilaku sosial dan kognitif.

Tikus tersebut memiliki masalah pada saat berinteraksi secara sosial, memiliki sifat agresif yang jauh lebih dominan jika dibandingkan dengan tikus yang dibesarkan dengan kedua orangtuanya.

Penelitian terkait perubahan perilaku pada tikus ini sejalan dengan penelitian serupa yang dilakukan pada manusia.

Besarnya dampak buruk bagi anak yang kehilangan figur ayah maka diharapkan agar seorang ayah mengembalikan perannya bukan hanya berperan sebagai suami tapi juga dapat menjadi seorang ayah bagi anak-anaknya.

NASER MUHAMMAD

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel