Jangan Bohong dan Penuhilah Janji kepada Anak, Jika Tidak Sesal Kemudian

JIKA engkau berjanji pada anakmu realisasikanlah. Baik itu janji memberinya hadiah dari hasil kebaikan-kebaikannya atau bahkan hukuman-hukuman jika ia bersalah.

Jangan mengatakan sesuatu kepadanya, sesuatu yang tidak dapat ditunaikan. Hindarilah kebohongan walau sifatnya ingin memberinya peringatan.

Karena sejatinya mengajarinya kebaikan dengan cara menipunya, tidak lain hanya menjadikannya sebagai seorang penipu.

Ilustrasi anak menagih janji (source: Pexels)
Usaha menjadikan anak baik, dengan cara tidak baik, hanya akan menghasilkan anak yang tidak baik. Sebab kebaikan haruslah dilakukan dan disampaikan dengan cara yang baik juga. Pun sebaliknya.

Orangtua sebagai role model yang seharusnya dekat dengan anak dan menjadikan dirinya dapat digugu dan ditiru.

Namun apa kiranya yang kan terjadi bila justru kebaikan yang diinginkan justru tidak didapatkan ada pada orangtua itu sendiri. Maka yang terjadi kemudian adalah anak akan berbalik menjadi satu-satunya orang yang paling membencinnya.

Dalam buku How to Talk so Kids Will Listen and Listen so Kids Will Talk ditulis pemerhati parenting Adele Faber asal Amerika, disebutkan bahwa ancaman tak lain adalah bentuk rasa tidak percaya orangtua atas kemampuan anak untuk mengatur hidupnya, sehingga butuh ada ancaman untuk memastikan anak melakukan tugas-tugasnya.

Menurut Adele, anak yang terbiasa diancam akan tumbuh menjadi anak yang tidak punya kepercayaan diri, mudah takut, atau sebaliknya cenderung memberontak.

Olehnya janganlah memojokkan diri sendiri dengan membuat aturan yang kerapa kali orangtua tidak dapat menjaganya dan konsisten dengannya.

“Kalau nanti kamu masih tidak belajar Ayah buang mainanmu. Itu mainan kamu kalau tidak bisa kamu rapikan nanti Ayah kasih ke orang semuanya...”

Adakah yang suka sekali melontarkan kata-kata serupa, lalu kemudian tidak dilakukan. Dengan melakukan hal semacam itu orangtua sesungguhnya telah mengucapkan ancaman konyol yang mungkin orangtua sendiri tidak mungkin merealisasikannya.

Mungkin maksud hati orangtua ingin untuk mendisiplinkan agar dapat menuruti kehendak orangtua, hingga  dengan tanpa sadar orangtua mengeluarkan ancaman atau menakut-nakuti.

Walau cara ini mungkin saja, sesekali bisa berhasil, tapi seringkali anak tidak mempan lagi diancam. Karena sejatinya banyak orangtua yang menganggap pola pendidikan reward and punishment adalah yang terbaik.

Ancaman tidak akan pernah bisa menumbuhkan respek di dalam hati anak. Sebaliknya, dalam jangka panjang hubungan orangtua dan anak menjadi renggang dan tidak harmonis lagi.

Anak yang kerap mendapatkan ancaman niscaya akan kesulitan untuk berpikir secara positif. Sebaliknya, anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang paranoid dan selalu menaruh kecurigaan berlebihan kepada orang lain.

Yang ditakutkan kemudian Anak-anak dengan kondisi demikian pada akhirnya akan menemukan kesulitan-kesulitan saat mencoba berbaur dan menjadi bagian dalam masyarakat luas.

Rasa percaya diri anak sejatinya tumbuh melalui kasih sayang serta dukungan dari orangtua, itulah mengapa ketika orangtua memberikan ancaman maka anak-anak justru akan tumbuh menjadi pribadi penakut.

Ingat bahwa orangtua adalah role model bagi anak, memperbaiki sikap saat ingin memberinya pengajaran adalah niscaya.

Jadi, pastikan orangtua selalu menyelesaikan ancaman dan janjinya, dan janganlah memojokkan diri dengan melontarkan ancaman yang diri sendiri ragu untuk dapat mewujudkannya. Berpikirlah sebelum berbicara, ingatlah dampak dan bahayanya.

NASER MUHAMMAD

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel