“PAUD Bukan Pendidikan Anak, PAUD itu Bisnis Atas Nama Pendidikan Anak"

KALIMAT yang keras dan tajam. Judul di atas merupakan salah satu serial twit yang sempat dilontarkan dr. Jiemi Ardian di akun Twitter pribadi miliknya. Jiemi bukan orang sembarangan.

Jiemi Ardian adalah seorang dokter dan residen bidang psikiatri dan hipnoterapis. Twit Jiemi di atas dilontar pada 5 Januari 2018 lalu. Tak pelak, kata singkat menuia pro dan kontra di kalangan warganet.

Dalam wawancara dengan situs berita Tirto yang dikenal sebagai in deep newsportal satu-satunya di Indonesia saat ini, Jiemi berbicara terkait cuitannya itu. Dia menjelaskan, anak di bawah 4 tahun tidak akan bisa berpikir formal serta tidak akan paham mengenai tugas dan sekolah.

Ilustrasi /  Pixabay

Dia juga sempat menjelaskan bahwa hal pertama yang mendorong dia membuat serial twit tersebut adalah pengalaman anak seorang kenalannya yang merasa terbebani dengan tugas di PAUD.

Tirto juga bertanya mengapa ia menekankan pada isu komersialisasi PAUD, ia menjabarkan alasannya adalah karena PAUD yang mengajarkan dua bahasa atau lebih cenderung menetapkan biaya tinggi.

Komersialisasi PAUD ini kian subur menurut dr. Jiemi lantaran ada orangtua yang berlomba-lomba menyekolahkan anaknya di PAUD mahal meski sebenarnya anak usia di bawah 7 tidak membutuhkan sekolah.

Twit dr Jiemi itu  kemudian menuai beragam sikap. Banyak yang setuju, namun tidak sedikit juga yang tak sepakat. Semua kembali kepada pribadi masing-masing sesuai dengan pengalaman yang dirasakan.

Belakangan, dr Jiemi menyatakan permohonan maaf apabila twitnya tersebut membuat pihak-pihak tertentu tersinggung. Walaupun  pendapatnya itu terkesan menggenaralisir, namun apa yang diutarakan dr Jiemi sebenarnya relevan dan tetap patut menjadi perhatian.

Kritik Jiemi ini  harus dilihat secara positif dan konkstruktif,  sebab dalam beberapa kasus ada saja PAUD yang memberlakukan hal-hal seperti yang diutarakan dr Jiemi.

Keprihatinan Jiemi menjadi keprihatinan bersama demi untuk penyelenggaraan PAUD yang lebih baik di masa mendatang.

Dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) pasal 1 butir 14 disebutkan, “Pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.”

Sebagai catatan, menurut data Kemdikbud tentang PAUD tahun 2016/2017, terdapat 105.005 PAUD yang terdiri dari kelompok bermain, taman penitipan anak, dan satuan PAUD sejenis pada 2016, serta 88.381 TK di Indonesia.

Menurut dosen dan peneliti bidang pendidikan anak usia dini dari Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, Vina Adriany, banyaknya PAUD yang ada, tentu setiap institusi memiliki karakteristik dan persoalan yang berbeda.

Opini pukul rata kondisi PAUD ini juga bisa didukung oleh kemampuan media sosial dalam menyebarkan klaim-klaim yang belum dibuktikan lewat penelitian.

Menurut Vina, tidak semua PAUD yang ada di kota juga mementingkan komersialisasi. Persoalan sekarang, orang mudah sekali menggeneralisasi.

"Ada PAUD yang terjebak dalam komodifikasi pendidikan memang betul, dan itu tidak hanya di kota besar. Cuma memang sekarang fenomenanya banyak terjadi di kota besar,” ungkapnya dari  sumber yang sama.

Kesadaran Orangtua

Titik tekan sebetulnya adalah pada orangtua. Sejauh mana kemudian orangtau memahami posisinya sebagai madrasah (sekolah) pertama untuk anak-anaknya.

Pada kenyataannya, tidak sedikit orangtua yang merasa nyaman menitipkan anaknya di PAUD. Apalagi orangtua generasi millenial saat ini. Bahkan fenomena ini kian menggejala.

Kami tidak dalam posisi mendukung atau menolak asumsi sebagaimana paragraf awal tulisan ini, namun persoalannya adalah cara pandang yang keliru bahwa seorang anak itu harus sekolah di usianya yang sangat dini.

Idealnya, menurut kami, anak usia antara 0-5 tahun memang tidak dititipkan kepada orang lain termasuk PAUD. Masa-masa tersebut adalah momentum emas untuk menanamkan nilai-nilai mendasar yang sayang sekali jika sampai dilewatkan oleh orangtua.

Mungkin sedikit merepotkan jika harus mengurus anak kecil apalagi jika si adik memiliki adik lagi di usia yang berdekatan. Atas alasan tersebut, tidak sedikit orangtua yang kemudian akhirnya kewalahan dan memilkih menitipkan anaknya di Baby House/ Play Group.

Sebagian yang lain beranggapan jika si adik tetap di rumah, jiwa sosialnya tidak terangsang. Jadi akhirnya di-PAUD-kan. Padahal, anak usia tersebut rumahlah tempat terbaiknya untuk mengasah emosional motoriknya.

Padahal, omelan dan cerewenya ibu di rumah saban hari merupakan impulsif lahirnya kedekatan antara orangtua khususnya ibu. Inilah yang disebut dengan cerewet yang baik.

Omelan seorang ibu kepada anak-anak kecilnya, selama tidak disertai tindakan fisik, hal itulah yang akan menumbuhkan kejiwaan positif anak. Jadi bukan masalah si anak tetap di rumah di usia emasnya. 

Tentu saja kesadaran untuk menyelenggarakan pendidikan anak usia dini adalah keharusan, namun masuk pendidikan PAUD adalah pilihan. Lagi-lagi, kedewasaan dan kebijaksanaan orangtua dituntut di sini.

KEANU ABDULLAH

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel