Generasi Muda Dalam Jeratan Pergaulan Bebas


BONTANG merupakan salah satu kota industri terbesar di Indonesia yang ada di Kalimantan Timur. Bercokolnya dua Badan Usaha Milik Negara (BUMN) raksasa yakni PT. Badak NGL dan PT. Pupuk Kaltim membuat kota Bontang menjadi salah satu kota industri dan tujuan para pencari kerja.

Selain itu, beberapa perusahaan yang bergerak di bidang tambang batu bara juga turut ambil bagian dalam menarik tenaga kerja dari luar. Banyaknya pencari kerja yang datang membuat pertambahan penduduk meningkat tajam.

Yang tak kalah unik, hampir semua suku bisa dengan mudah kita temukan di sini. Dinamika-dinamika tersebut sangat mempengaruhi gaya hidup masyarakat di kota ini. 

Namun, tak bisa dielakkan, ada juga nilai-nilai moral masyarakat yang mulai ditinggalkan seiring dengan kemajuan kota ini, atau setidaknya telah mulai terabaikannya norma asusila yang menyebabkan terjadinya pergeseran-pergeseran serta penyimpangan moral di tengah-tengah masyarakat.

Salah satu penyimpangan itu adalah terkait dengan masalah remaja. Sebagai remaja kebanyakan menganggap masa remaja adalah waktu di mana banyak hal-hal baru yang menarik untuk mereka coba. Pikiran yang masih dalam proses pencarian jati diri terkadang menjerumuskan mereka kedalam penyimpangan-penyimpangan nilai moral.

Merujuk pada data hasil survey Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), menyebutkan bahwa sebanyak 32% remaja usia 14-18 tahun di kota-kota besar di Indonesia pernah berhubungan seks. (http://www.kpai.go.id/publikasi-mainmenu-33/beritakpai/119-32-persen-remaja-indonesia-pernah-berhubungan-seks.html).

Data tersebut sungguh mencengangkan, di mana Indonesia yang terkenal dengan budya timur yang sangat teguh memegang nilai-nilai moral malah memberikan kontribusi nilai fantastis dalam kemaksiatan.

Melihat Bontang
Dan, yang lebih parah lagi adalah penyimpangan tersebut melibatkan para remaja yang notabene penerus bangsa ini. Pun yang terjadi di kota Bontang, tak dapat di pungkiri penyimpangan-penyimpangan ini telah terjadi di sekeliling kita.

Tempat favorit para remaja biasanya melakukan kegiatan-kegiatan menyimpang tersebut adalah tempat dengan penerangan yang kurang terang alias temaram, sepi dan jarang didatangi oleh masyarakat. Di kota Bontang sendiri, tempat tersebut salah satunya adalah Bontang Kuala.

Sebenarnya, Bontang Kuala adalah sebuah perkampungan nelayan cikal bakal berdirinya kota Bontang. Sebagai perkampungan yang mengandung nilai historis, pemerintah menetapkan daerah tersebut sebagai salah satu tujuan wisata dengan menata perkampungan tersebut sedemikian rupa untuk menarik wisatawan. Akses menuju perkampungan yaitu jalan yang dilengkapi dengan jalur pejalan kaki lengkap dengan fasilitas untuk duduk santai menikmati suasana di kiri dan kanan jalan.

Namun akibat dari rusak atau hilangnya sejumlah alat penerangan, membuat kanan dan kiri jalan menuju perkampungan tersebut menjadi sedikit gelap di beberapa bagian. Hal ini yang belakangan dimanfaatkan untuk melakukan hal-hal yang menyimpang oleh pasangan-pasangan muda mudi yang sedang di mabuk asmara. 

Hampir setiap malam jika kita menuju ke Bontang Kuala, kita dapat dengan mudah melihatnya. Namun demikian tentu saja kita tidak boleh menyamaratakan bahwa semua remaja berprilaku seperti itu.

Masyarakat dan pemerintah sebenarnya telah melakukan beberapa langkah untuk meminimalisir tindakan-tindakan menyimpang yang dilakukan di tempat ini. Misalnya saja razia oleh Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan segenap para tokoh agama dan elemennya, melakukan perbaikan penerangan, sampai dengan mengusir pasangan-pasangan ini.

Namun, hal tersebut menjadi tak berarti ketika tidak ada niatan baik dari para pasangan tersebut untuk tidak menjadikan tempat tersebut sebagai tempat untuk berbuat hal-hal yang menyimpang. Selain itu, tidak sedikit orang yang melintas justru cuek dan menganggap ini hal yang biasa-biasa saja.

Pengaruh pergaulan remaja yang semakin luas menuntut kedewasaan dalam menyikapinya. Jika para remaja tidak memiliki pengetahuan yang cukup serta kesadaran diri yang kritis, saat mereka ingin mencoba hal-hal yang baru, bisa jadi mereka akan kehilangan arah dan terjerumus untuk melakukan hal-hal yang menyimpang. Selain pengetahuan yang cukup dan kesadaran diri, faktor di mana dia bergaul atau lingkungan juga berpengaruh sangat besar terhadap para remaja.

Lalu, bagaimana nasib para gadis remaja? Akankah namanya selalu menggema-gema di setiap kali ada kabar dalam berita sex relationship? Tentu saja tidak. Pemerintah kota Bontang sering melakukan training dan pembekalan disetiap baik sekolah-sekolah maupun umum dalam urusan keremajaan tapi kenapa para gadis remaja masih saja menjadi korban utamanya.

Peran orangtua dianggap senjata yang paling ampuh untuk mengatasi masalah ini selain dukungan dari masyarakat dan pemerintah. Oleh karena itu, untuk mengatasi masalah yang terjadi di kalangan remaja semua kembali ke lingkungan terdekat remaja itu sendiri yaitu keluarga di mana para orangtua diharapkan dapat memberikan pendidikan moral yang baik dengan mencontohkannya kepada mereka bagaimana cara berperilaku di tengah-tengah masyarakat tanpa melanggar norma dan nilai yang berlaku.

Sehingga dengan begitu, diharapkan kelak akan lahir remaja-remaja yang mampu menangkal pengaruh-pengaruh negatif dalam pergaulan karena mereka memiliki bekal yang cukup untuk menghadapinya. 

Juga agar berlangsung regenerasi bangsa yang berkualitas, pintar, cakap terhadap norma-norma, dan terjaga spiritualnya hingga tidak pupus dimakan zaman yang semakin memanas, modern dan ketatnya persaingan saat ini.

_______
*) NURCAHYANI ARIFIN, Penulis adalah siswa di SMA Negeri 1 (SMANSA) Kota Bontang, Kalimantan Timur.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel