Menimbang Studi ke Malaysia















DUNIA ibarat roda pedati, adakalanya di atas adakalanya di bawah. Itulah gambaran dunia yang diakui secara global.

Dahulu pelajar-pelajar dari Malaysia datang ke Indonesia untuk menuntut ilmu. Bahkan beberapa putra Indonesia juga termasuk orang yang cukup ‘berjasa’ bagi Malaysia dengan menjadi tenaga perintis pendidikan tinggi di negeri Jiran itu.

Satu perintis pendidikan di jiran itu diantaranya adalah Hasan Langgulung, pakar pendidikan Islam kelahiran Sulawesi, ada juga Syed Muhammad Naquib Al-Attas, pakar peradaban Islam, filsafat, dan sastra Melayu kelahiran Bogor Jawa Barat. Tetapi kini, orang Indonesia yang harus datang ke Malaysia.

Beberapa tokoh akademisi nasional yang banyak bergerak di bidang peradaban, filsafat, dan sejarah sebagian juga alumnus pendidikan Malaysia. Sebut saja misalnya, Hamid Fahmy Zarkasy, Ph.D., Adian Husaini, Ph.D. Dan, untuk jurusan manajemen ada ketua DPR RI, Marzuki Alie, Ph.D.

Di beberapa kampus Islam baik di Jawa Timur, DKI, dan Jawa Barat, nama Malaysia memiliki image positif dalam bidang pendidikan. Hal ini bisa dilihat dari antusiasme para intelektual muda tanah air yang menimba ilmu ke Malaysia. Bahkan dalam banyak diskusi yang saya ikuti sewaktu kuliah di Surabaya juga demikian. Hampir semua yang gandrung dengan filsafat, pemikiran Islam, peradaban, sosiologi, sejarah, dan termasuk politik, ingin melanjutkan studinya ke Malaysia.

Prinsipnya, diakui atau tidak dari bidang pendidikan, Malaysia lebih unggul dari Indonesia, terkhusus dari aspek bahasa asing, fasilitas pendidikan, dan ketersediaan tenaga pendidik yang betul-betul profesional. Wajar jika kemudian, mereka yang haus ilmu banyak yang menjadikan Malaysia sebagai tujuan berlabuh meneguk kesejukan ilmu.

Di kampus Universitas Islam Antarbangsa (UIA) misalnya, seorang sahabat menuturkan kepada saya bahwa kondisi kampusnya sangat kondusif untuk belajar. Perpustakaan yang berkelas, dosen yang profesional, serta program-program pengembangan diri yang sangat memadai tersedia di kampus tersebut.

Belum lagi kalau berbicara International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) yang dirancang dan didesain langsung oleh sang professor, Syed Muhammad Naquib Al-Attas. “Melihat desain kampus ISTAC kita diajak untuk mengenal masa kejayaan peradaban Islam di Andalusia beberapa abad silam,” ujar sahabat saya yang ketika itu baru sepekan meninggalkan Malaysia dalam acara bedah buku terbarunya tentang jurnalistik.

Kaltim-Malaysia
Beberapa waktu lalu, Pemprov Kaltim yang diwakili oleh Wakil Gubernur menerima kedatangan kunjungan perwakilan Universitas Utara Malaysia (UUM). Kunjungan itu tentu satu momentum yang sangat baik untuk menjalin kerjasama dengan Malaysia, terutama untuk dengan segera merealisasikan program pengembangan SDM unggul dalam rangka terwujudnya Kaltim Bangkit pada 2013.

Secara pribadi saya sangat berharap Wakil Gubernur benar-benar menindaklanjuti tawaran dari UUM kepada pelajar Kaltim. Setidaknya program itu bisa diwujudkan dalam semester II tahun ini. Ada cukup banyak pelajar potensial dari Kaltim yang sangat berminat melanjutkan studinya namun terkendala biaya. Di sini pemerintah harus peka dan langsung melakukan aksi untuk menjaring para pelajar yang berminat meningkatkan pendidikannya.

Sekedar sebagai usulan, akan sangat efektif jika pemerintah Kaltim mengundang stakeholder pendidikan Kaltim secara keseluruhan -termasuk di dalamnya pesantren-pesantren- untuk menentukan arah kebijakan kerjasama ini. Kemudian mengumpulkan kembali data-data para mahasiswa yang dulu pernah mendapat beasiswa studi baik jenjang S1-S2 dari seluruh Kaltim untuk kemudian diberi tawaran melanjutkan kuliah S3 di UUM dengan ketentuan yang telah ditetapkan oleh pemprov.

Usul tersebut mungkin terasa memberatkan. Tetapi jika mengacu pada UUD 1945 mengenai kewajiban negara mencerdaskan kehidupan bangsa, dalam hal ini pemerintah Kaltim, maka langkah tersebut adalah wujud nyata dari realisasi amanah UUD 1945. Tetapi tidak menutup kemungkinan pihak pemerintah sendiri memiliki strategi yang lebih baik. Prinsipnya, momentum ini harus benar-benar dijadikan sebagai gerbang untuk membangun kesasdaran bersama akan pentingnya segera merealisasikan program peningkatan SDM Kaltim yang bisa diandalkan.

Pada saat yang sama pemerintah juga harus memberikan perhatian terhadap kampus-kampus yang sudah ada. Seperti UNMUL di Samarinda, STAIN Samarinda, UNIKARTA di Tenggarong, dan lain-lainnya di seluruh Kaltim. Setidaknya hal ini dapat memberikan ruang bagi mereka yang akan dikirim ke Malaysia dan ketika studinya telah sempurna, bisa langsung mengabdi di berbagai kampus yang ada di Kaltim.

Apalagi minat membaca buku masyarakat di Kaltim termasuk masih tergolong rendah. Pernah pada kali waktu, seorang guru kami ketika saya masih menimba ilmu SMAN 1 Loa Kulu, Kutai Kartanegara, bercerita. Dulu katanya pernah ada pameran buku di Tenggarong. Tapi baru dua hari, pameran sudah tutup. Guru saya bertanya ke panitia, kok sudah tutup. “Iya, pak, di sini tidak ada prospeknya. Jadi kami putuskan untuk segera pindah ke Samarinda,” begitu jawaban panitia kepada guru saya waktu itu.

Tantangan Pendidikan Kaltim
Berbicara Kaltim tentu sangat menyenangkan. Sumber daya alamnya yang melimpah menjadikan Kaltim sebagai wilayah tujuan para investor, pebisnis, dan para pencari kerja. Namun jika melihat kondisi yang terjadi, melihat Kaltim sungguh sangat memprihatinkan.

Tetapi saya tidak akan menyajikan data yang memprihatinkan itu. Saya hanya ingin menyampaikan dan memberikan informasi kepada Kaltim berupa peluang besar wilayah ini di masa depan. Mulai sekarang sudah seharusnya pemerintah berupaya untuk melahirkan para pakar di bidang Kehutanan, Perikanan, dan Pertambangan.

Tiga komponen penting Kaltim itu harus benar-benar bisa diurus dengan baik. Ke depan kalau ingin tahu siapa ahli Kehutanan tanah air, seluruh Indonesia sudah berani menunjuk para intelektual dari Kaltim. Demikian pula dengan bidang Perikanan dan Pertambangan.

Malaysia terlihat superior hari ini bukan tanpa rencana dan kerja keras. Sejak 40 tahun silam, Malaysia telah berusaha sekuat tenaga untuk fokus membangun SDM. Bahkan beberapa tokoh nasional lebih membanggakan Malaysia dari pada Indonesia. Alumnusnya pun bangga karena dirinya telah berhasil mengenyam pendidikan di Malaysia.

Bahkan pernah dalam suatu kesempatan di ruang kuliah, dosen saya memberikan masukan agar kami mahasiswanya belajar S3-nya di Malaysia saja. Jangan di Indonesia. Kalau ambil strata 3 di Indonesia, lanjutnya, nanti wawasannya hanya wawasan Indonesia. “Tapi kalau di Malaysia, wawasanmu bisa wawasan internasional. Di Malaysia ada banyak suku bangsa dari berbagai negara di dunia,” ujarnya kala itu penuh semangat.

Inilah satu fakta terbaru tentang Malaysia. Jika langkah ini diadopsi oleh Pemprov Kaltim dengan segera, simultan atau berkesinambungan, bukan mustahil ke depan, tidak ada lagi cerita hutan kebakaran, pencemaran Sungai Mahakam, atau pun Pertambangan yang mengorbankan manusia. Kelak seluruh dunia akan belajar kehutanan di Indonesia, tepatnya di Universitas Mulawarman Samarinda. PBB pun akan selalu bermitra dengan Kaltim dalam soal penyelamatan paru-paru dunia dan berbagai upaya pelestarian hutan sejagat raya.

Semoga catatan kali ini tidak sekedar menjadi berita atau sekedar informasi belaka. Saya sangat berharap catatan ringan ini benar-benar bisa dipahami dan diresapi untuk kemudian diambil manfaatnya bagi masyarakat Kaltim. Kalau bukan pejabat yang mengambilnya, semoga ada generasi muda yang memahaminya dan menjadikannya sebagai tekad untuk membangun Kaltim masa depan. Semoga.[KTC]


*Imam Nawawi adalah kolumnis www.kaltimtoday.com dan mantan Pengurus Daerah Persatuan Pelajar Islam Indonesia (PD PII) Kutai Kartanegara, Kaltim

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel