Mustahil Tanpa Tuhan














PERNAHKAH ada orang yang menggugat zaman modern seperti sekarang ini? Mungkin ada, tetapi yang lebih banyak adalah tenggelam dalam suguhan zaman yang memanjakan nafsu jasadiyah umat manusia. 

Malah mungkin ada yang sangat menikmatinya hingga akhirnya secara lantang menolak semua bentuk pemikiran yang tidak bersumber dari filsafat modern.

Sehingga tak berlebihan jika kemudian ada pandangan bahwa pemikiran yang paling dibenci di era modern ini adalah pikiran yang mengajak manusia untuk kembali mengimani Tuhan dan mengamalkan kehendak Tuhan.

Inilah sebabnya mengapa sekarang banyak orang beragama namun tak berperilaku sebagaimana aturan agama yang diyakininya. Akibatnya mereka tak pernah risau dengan masalah etika, moral, apalagi norma. Bahkan tatkala ilmu tak lagi menjadi panglima dalam mengatur kehidupan, mereka pun diam. Semua bisu seolah tidak terjadi apa-apa. Tetapi tatkala kepentingan pribadinya, kelompoknya, sedikit mendapat kritik, mereka langsung bangkit dan berusaha menangkis sekuat tenaga.

Inilah situasi yang ingin saya sebut sebagai kerancuan zaman. Karena di zaman inilah ilmu hanya menjadi konsumsi otak. Ilmu tak boleh menjelma menjadi aksi apalagi sistem sosial, utamanya ilmu yang berlandaskan pada nilai-nilai ke-Tuhan-an. Hanya ada satu ilmu yang boleh mewujud yaitu ilmu sekuler, ilmu liberal atau sederhananya ilmu anti-Tuhan. Oleh karena itu definisi manusia cerdas pun kini berada di tangan mereka.

Fakta demikian dapat kita saksiskan dari hasil penelitian tiga intelektual Barat di tahun 2010 lalu. Mereka adalah Richard Lyon (Ulster University, Irlandia Utara), Helmuth Nyborg (Universitas Aarhus, Denmark), dan John Harvey Sussex (Inggris).

Penelitian yang dilakukan tiga professor itu meliputi 137 negara, tak terkecuali juga Indonesia. Riset tersebut mengkaji adanya korelasi negatif antara IQ dan Iman atau antara kecerdasan dan keimanan. Hasilnya pun disimpulkan bahwa:

Semakin cerdas seseorang itu ia akan semakin sekuler dan bahkan atheis.

Semakin bodoh seseorang itu ia semakin religius.



Di Barat penelitian seperti itu sudah bisa dikatakan sebagai tradisi. Bahkan ada sebuah penelitian yang dilakukan di Belanda pada 1538 mengatakan bahwa agnostik, ateis rata-rata memiliki kecerdasan IQ dengan angka 4 poin lebih tinggi dari orang beriman. Jadi negara yang penduduknya maju, pinter, atau cerdas dapat dilihat dari seberapa banyak penduduknya yang ateis. Semakin banyak yang ateis maka semakin cerdaslah penduduk di negara itu.

Jadi kian tampaklah apa yang saya maksud dengan kerancuan zaman ini. Sebuah situasi dan kondisi di mana Tuhan tak lagi boleh ikut dalam membuat aturan dalam kehidupan. Semua hal sudah bisa diatasi oleh manusia dengan kecanggihan sains dan teknologi. Tanpa Tuhan pun kini dunia bisa diatur dengan lebih baik. Demikianlah pandangan hidup manusia modern hari ini, utamanya masyarakat Barat secara umum.

Irasionalitas
Entah lupa, tidak tahu, atau bahkan sengaja, zaman modern tak pernah menyentuh dampak negatif dari apa yang mereka klaim sebagai kemajuan. Mulai dari tercemarnya alam lingkungan hingga rusaknya moral dan adab manusia. Tidak saja itu, sains dan teknologi pada sisi lain ternyata tak mampu berbuat banyak atas apa yang kini menjadi beban manusia modern.

Fritjof Capra menyatakan bahwa hari ini manusia menemukan diri mereka berada dalam suatu krisis global yang serius, yaitu suatu krisis kompleks dan multidimensional yang segi-seginya menyentuh setiap aspek kehidupan kesehatan dan mata pencaharian, kualitas lingkungan dan hubungan sosial, ekonomi, teknologi, dan politik.

Krisis tersebut, menurut Capra, merupakan krisis dalam dimensi-dimensi intelektual, moral, dan spiritual; suatu krisis yang belum pernah terjadi sebelumnyaa dalam catatan sejarah umat manusia. Pendapat Capra ini tidaklah berlebihan, utamanya jika dikomparasikan dengan situasi terakhir pada beberapa negara di dunia, lebih khusus bangsa Indonesia.

Orang tentu sangat tercengang dengan kondisi bangsa hari ini. Bagaimana tidak, ahli hukum justru melanggar hukum. Belum lagi situasi perekonomian global yang cenderung memburuk berdampak pada siklus perekonomian dalam negeri. Padahal seperti kita ketahui bersama, ahli di berbagai bidang tersebut juga tidak sedikit jumlahnya.

Secara lebih sederhana saya akan paparkan beberapa fakta yang menunjukkan irasionalitas di negeri ini;

1. Sumber alam Indonesia adalah sangat kaya tetpi rakyat kita sekarang miskin dan akan terus miskin (jika tidak ada perubahan fundamental berupa pandangan hidup dan frame berpikir).

2. Indonesia tidak kekurangan ahli-ahli ekonomi jebolan dalam dan luar negeri. Tetapi kondisi ekonomi kita tetap tak mampu memihak rakyat kecil .

3. Dalam keadaan rakyat miskin, malah semakin banyak oknum yang terang-terangan melakukan korupsi bahkan kian solid secara kolektif dengan sesama koruptor.

4. Sebagian besar para pemimpin belum memiliki jiwa negarawan dan negarawan tidak memiliki jiwa kepeimpinan.

5. Semakin banyak orang yang bablas (melampaui batas) dalam hidup ini. Mereka hanya mengisi hidupnya untuk mengejar kekuasaan, kesenangan, dan penghormatan.

Jadi bisa disimpulkan bahwa kita saat ini sedang berada dalam zaman yang dipenuhi dengan kerancuan-kerancuan. Jika al-Ghazali mengeluarkan karya fenomenalnya dengan judul Tahafut al-Falasifah (Kerancuan Pemikiran Para Filosof), nampaknya hari ini kita perlu memahami fakta terjadinya kerancuan zaman yang kerancuannya meliputi segala macam bidang.

Dengan beberapa fakta di atas rasanya tidak berlebihan jika diprediksi bahwa bangsa Indonesia masih akan terbelit masalah kemiskinan dalam rentang waktu yang cukup panjang ke depan.

Indonesia tidak akan pernah bisa memiliki solusi-solusi ekonomi yang tepat bagi rakyat miskin yang jumlahnya sangat besar, karena hingga kini belum atau tidak ada orang-orang ahli ekonomi yang mengatahui secara pasti, luas, dan mendalam terkait penderitaan “Hidup-Mati” yang sungguh-sungguh diderita dan dialami oleh diri-diri rakyat miskin.

Bagaimana mungkin para ahli ekonomi akan menemukan solusi yang tepat bagi rakyat miskin sementara mereka hidup dalam kemewahan dan seumur hidupnya belum pernah mengalami sendiri kemiskinan sebagaimana diderita oleh orang-orang miskin itu sendiri. Jadi utopia belaka kemiskinan akan bisa diatasi oleh para pejabat, wakil rakyat, atau bahkan ahli yang mereka tak pernah mau sungguh-sungguh peduli dan cinta kepada rakyatnya yang miskin.

Back to God
Melihat paparan di atas rasanya sudah mustahil akal manusia bisa mengatasinya. Sebagai negara yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, tidak ada jalan lain lagi selain kembali kepada Tuhan, Allah SWT. Kembali kepada Allah SWT yang dimaksud adalah dengan cara kembali mengasah kecerdasan spiritual melalui ketekunan beribadah, menuntut ilmu, dan tradisi berpikir yang berlandaskan pada cara pandang yang sebenar-benarnya.

Seberapapun dana yang dikeluarkan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa atau mensejahterakan seluruh rakyat Indonesia, manakala aparat dan penduduknya sama-sama mengabaikan Tuhan maka sejauh itu, kedamaian, kesejahteraan, dan kecerdasan bangsa hanya akan menjadi kalimat normatif yang jauh dari realita.

Saatnya kita berpikir obyektif bahwa dengan kembali kepada Allah SWT semata manusia akan selamat dari kehancuran dan kebinasaan. Bukankah sejarah membuktikan itu lewat kehadiran Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang berhasil merubah kebodohan menuju kecerdasan? Sosok beliau diulas dengan bagus sekali oleh Michael H. Hart dalam bukunya The 100, A Ranking of The Most Influential Persons In History, tahun 1978.

Demikian pula dengan Umar bin Abdul Aziz yang mampu mensejahterakan seluruh rakyatnya hanya dalam tempo dua tahun masa pemerintahannya. Keberhasilan itu tidak lain karena kecerdasan akal dibalut dengan kecerdasan iman. Moral mereka hidup dan menggerakkan. Hati mereka juga segar dan menyegarkan. Ucapannya adalah hikmah, perbuatannya adalah keteladanan, dan keputusannya adalah kemaslahatan.

Jika pemimpin hari ini seperti dua profil manusia agung di atas tentu tidak akan terjadi bencana kemanusiaan seperti sekarang kita saksikan. Kembali kepada Tuhan berarti menggunakan akal sehat dengan sebaik-baiknya untuk memahami ayat-ayat Tuhan sekaligus secara sistematis dan produktif menderivasikan kehendak Tuhan dalam kehidupan sehari-hari umat manusia.

Diakui atau tidak panggung sekularisme, liberalisme dan tentunya juga demokrasi kini sedang menuju akhir cerita. Lihat saja bagaimana sekarang Eropa dan Amerika sedang mengalami krisis multidimensi yang sangat buruk. Pada saat yang sama kesadaran para intelektual terhadap kelemahan sistem demokrasi kian meluas.

Tetapi jika para pecinta Tuhan tak melakukan persiapan-persiapan untuk menyongsong akhir cerita demokrasi, maka episode panggung anti Tuhan akan terus berlanjut dan itu berarti penderitaan akan berjalan semakin panjang. Sebab siapa yang sengaja mengabaikan Tuhan sesungguhnya kebodohan itu adalah teman setianya.[KTC]


*Imam Nawawi adalah kolumnis www.kaltimtoday.com dan mantan Pengurus Daerah Persatuan Pelajar Islam Indonesia (PD PII) Kutai Kartanegara, Kaltim

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel