Ketika Kukar Semakin Liar!














KUTAI Kartanegara merupakan sebuah kabupaten yang kaya sumber daya alamnya. Di kabupaten inilah dulu saya sempat menghirup udara sambil mengasah diri dalam banyak kegiatan.

Di kota ini saya menempa diri mulai dari pendidikan, keorganisasian pelajar, hingga interaksi langsung dengan masyarakat. Boleh dikata ada sejuta kenangan indah Kukar dalam diriku. Sebab di Odah Etam itulah saya sangat merasakan kedewasaan menyemai kuat dalam akal dan jiwaku.

Kutai Kartanegara atau biasa kita menyebutnya Kukar saja, merupakan kabupaten yang menyimpan rupa-rupa kekayaan bumi. Satu di antaranya yang paling favorit adalah batu bara. Sejak berstatus pelajar di SMAN 1 Loa Kulu, saya masih ingat, aktivitas tambang di sini memang telah berjalan begitu pesat.

Dulu di desa di mana kedua orangtuaku mengais rizki yaitu di bilangan Jonggon Kecamatan Loa Kulu, ada perusahaan tambang besar dan terkenal yang beroperasi di sana dengan perusahaan rekanannya sebagai pemilik areal lahan. Ada positif negatifnya keberadaan tambang batu bara di sekitar desa Jonggon.

Positifnya, ada sebagian warga yang bisa mendapatkan lapangan pekerjaan meskipun tampak hanya sebagai pelengkap dan penahan gejolak sosial saja. Kadang kala juga memberi kepuasan hati bagi sebagian penduduk yang sedang berjalan kaki di sepanjang jalan desa kemudian ada mobil tambang lewat. Masyarakat senang karena seringkali mobil tambang itu mengajak serta orang yang berjalan kaki untuk diangkut ke dalam mobil.

Akan tetapi jika ditimbang secara proporsional, apa yang dirasakan sudah cukup menyenangkan oleh warga desa Jonggon dengan menjadi bagian pelengkap dari proses tambang yang memberikan keuntungan finansial sangat besar itu sangat tidak sebanding dengan semestinya keuntungan yang didistribusikan ke warga desa secara kolektif.

Aspek negatif yang tidak akan tergantikan adalah kerusakan alam dan ketergantungan terhadap tambang batu bara. Mungkin hari ini sebagian masih bisa membangun rumah dengan mendapatkan remah-remah dari keuntungan batu bara. Tetapi 20–50 tahun ke depan tatkala batu bara telah punah, apakah warga Jonggon A masih akan mampu hidup seperti sekarang.

Di sini saya ingin mengajukan usul kepada Bupati Kutai Kartanegara agar tidak memandang tambang dari aspek ekonomi semata seperti yang selama ini telah terjadi. Keuntungan itu tidak semestinya dilihat secara parsial tapi harus komprehensif. Jangan sampai hanya pejabat yang untung lalu dianggap sudah untung, sementara rakyat buntung.

Sebab cara pandang yang melihat keuntungan hanya pada aspek ekonomi dan mengabaikan aspek yang lain, sesungguhnya tanpa kita sadari keuntungan yang kita anggap memberikan kenikmatan itu pada saat yang sama juga mengundang malapetaka besar.

Benar, malapetaka besar akan terjadi; seperti tragedi kehidupan yang akan memusnahkan semua makhluk hidup. Bukan saja manusianya, tapi juga hutannya, iklimnya, dan tentu hukum alam yang akan mengutuk kerakusan manusia. Bayangkan saja jika hutan ludes untuk area tambang. Aspek hutan saja yang rusak manusia sudah mengalami ancaman kehidupan yang mengkhawatirkan.

Apakah menanam pohon itu bisa satu tahun tumbuh besar?. Apakah menanam pohon tidak membutuhkan area dan dana?. Bagaimana jika kemudian kemarau terjadi berkepanjangan. Dimanakah sumber air akan ditemukan?. Apakah semua itu bukan bukti bahwa kelaparan sedang mengancam, dan kematian massal di depan mata?.

Mungkin hari ini tidak terlihat karena mata memang tidak sanggup menjangkaunya. Tetapi akal yang sehat dan batin yang bersih akan melihat itu dengan sangat jelas sebagaimana jelasnya mata kepala melihat buaya menganga siap menerkam mangsanya.

Keuntungan Komprehensif
Sudah saatnya tambang batu bara menjadi asset daerah yang memberikan keuntungan secara komprehensif dan kolektif. Tidak seperti selama ini terjadi di mana keuntungan tambang hanya mengalir pada bagian tertentu semata. Sementara rakyat tetap berselimut kesusahan, kemiskinan dan kebodohan.

Keuntungan komprehensif itu adalah keuntungan yang memberikan nilai tambah pada semua aspek kehidupan asasi manusia.

Misalnya, keberadaan tambang di suatu desa di Kukar harus menjadikan kehidupan warga lebih bergairah. Mulai dari bidang pendidikan dengan adanya pengalokasian dana untuk pembuatan perpustakaan desa yang bagus. Kemudian pelatihan-pelatihan simultan untuk memanfaatkan potensi pertanian, perikanan, dan kerajinan yang kelak bisa menjadi pengganti yang mumpuni tatkala tambang sudah tiada lagi.

Selanjutnya bagaimana aktivitas tambang tidak mengancam kelestarian lingkungan dan sebaliknya mampu berkontribusi untuk grand design pranata sosial yang lebih maju, unik, dan inspiratif bagi masa depan kehidupan manusia. Sederhananya mungkin seperti kalimat ini; “Ehm, bagaimana, ya, dengan adanya tambang ini kelak dan harus kita mulai dari sekarang tercipta satu pranata sosial dan konstruk alam yang unik, progressif dan inspiratif bagi masyarakat global?”.

Selanjutnya yang tidak kalah pentingnya adalah bagaimana tambang batu bara bisa berkontribusi signifikan terhadap peningkatan keimanan dan ketakwaan seluruh masyarakat Kutai Kartanegara. Jangan sampai keberadaan tambang justru mendatangkan budaya amoral yang merusak eksistensi manusia sebagai makhluk terbaik dari Tuhan.

Jangan Liar!
Beberapa waktu lalu, laman Kompas.com menurunkan berita tentang sentilan (atau lebih tepatnya teguran) yang diberikan oleh Gubernur Kalimantan Timur Awang Faroek Ishak kepada Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari terkait izin pertambangan di Kukar.

Awang menyebutkan, sebagaimana dalam laporan berita itu, "Ada 1.304 kuasa pertambangan batubara di Kaltim, dan mohon maaf, Bupati Kukar (Kutai Kartanegara), izin tambang di Kaltim paling banyak berada di Kabupaten Kukar”.

Sementara itu berdasarkan catatan Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Kaltim —LSM yang konsen mengkritisi tambang batubara— lanjut berita tersebut, Kukar memiliki 687 perizinian kuasa pertambangan (KP) hingga tahun 2009. Sepanjang 2007-2008 saja, dikeluarkan 247 perizinan.

Jatam merinci, Jika dibandingkan dengan jumlah desa se-Kukar, rasionya ada dua perusahaan tambang dalam satu desa. Di Kecamatan Samboja, saja, menurut Jatam, ada 91 izin usaha pertambangan (IUP) yang diterbitkan. Bahkan Koordinator Jatam Kaltim Kahar Al Bahri menyebut jumlah ini merupakan rekor dunia karena terbanyak se-dunia.

Kasus tersebut hendaknya menjadi alarm bagi Bupati Kutai Kartanegara untuk melakukan intropeksi menyeluruh terkait izin tambang dan memperbaharui mekanisme perizinan tambang yang lebih memperhatikan dan memprioritaskan kepentingan rakyat secara utuh.

Harus ada keberanian pada seorang bupati untuk benar-benar melakukan satu perubahan demi rakyat. Bagaimana izin tambang yang diberikan kepada perusahaan tidak mengabaikan eksistensi warga Kaltim, lingkungan Kaltim, yang mana semua itu adalah tonggak-tonggak kehidupan Kaltim sendiri.

Apabila bupati dalam hal ini tidak mampu atau tepatnya tidak mau memperbaiki sistem atau mekanisme perizinan tambang yang mengedepankan kepentingan rakyat secara utuh, maka rakyat banyak yang akan menjadi korban.

Ketika itu yang menjadi pilihan seorang bupati maka sejarah akan mencatat kepemimpinan kali ini sebagai kepemimpinan yang tidak berhasil dan karena itu menjadi contoh tidak baik yang akan diajarkan kepada generasi mendatang agar tidak mengulangi dan mewaspadai cara-cara kepemimpinan yang menyebabkan kegagalan hari ini.

Loa Kulu Tak Senyaman Dulu
Ketika masih menjadi murid SMAN 1 Loa Kulu, sungguh saya tidak pernah membayangkan kalau wilayah itu juga akan ‘dipaksa’ menjadi areal tambang batu bara. Tapi dugaan itu meleset dan sangat mengagetkan. Ternyata kini Loa Kulu juga menjadi target aktivitas pertambangan.

Sejak saya meninggalkan Loa Kulu untuk menimba ilmu ke Jawa, jalanan Loa Kulu menuju dusun Marangan masih terbilang cukup baik. Tapi kini dan sempat saya melihat langsung jalanan itu pada tahun 2009 lalu kondisinya (saya harap semoga saja telah diperbaiki) sudah tidak senyaman dulu. Memang lebih lebar tapi belum diaspal, sehingga tidak jarang pengendara motor yang terjatuh karena jalanan yang licin ketika musim hujan tiba.

Saya semakin prihatin ketika seorang sahabat yang juga kakak kelas di SMAN 1 Loa Kulu mengirim pesan lewat inbox Facebook, “Kita juga harus perduli nih dengan Loa Kulu. Soalnya Loa Kulu sekarang hancur dengan tambang batu bara, sedih melihatnya,” demikian curhatnya.

Mungkin ungkapan sahabat saya itu mewakili jeritan hati seluruh rakyat Kutai Kartanegara dan terkhusus warga Loa Kulu yang terkena dampak negatif dari aktivitas tambang nakal. Kukar kian liar nampaknya bukan satu ungkapan berlebihan. Ia benar-benar terjadi.

Tetapi bagaimanapun generasi muda Kaltim, Kukar khususnya, dan Loa Kulu tentunya jangan berhenti berharap dan berupaya agar tambang menjadi surga yang sesungguhnya. Bukan surga bagi sebagian dan neraka bagi kebanyakan.

Penelitian Ilmiah
Sebuah Karya Ilmiah Remaja 15 Juli 2009 di Kukar juga menunjukkan data yang cukup layak untuk dipertimbangkan secara menyeluruh, terutama dampak lingkungan, kesehatan, dan budaya sebagai konsekuensi penambangan batu bara di Kecamatan Loa Kulu. Karya ilmiah mengungkapkan pada akhir tahun 2008, telah mulai dibuka tambang batu bara di Kecamatan Loa Kulu.

Loa Kulu yang semula sepi pun berangsur-angsur menjadi ramai karena banyak orang-orang dari luar daerah berdatangan untuk mengais rejeki di tambang batu bara. Adanya penambangan batu bara, mempunyai dampak positif dan negatif bagi masyarakat sekitarnya. Namun penelitian ini menilai kedua dampak tersebut sejatinya memiliki kesenjangan yang sangat jauh sehingga diperlukan kearifan sikap pihak-pihak yang berwenang untuk menanganinya.

Hasil dari penelitian itu menunjukkan bahwa dampak positif penambangan batu bara di Kecamatan Loa Kulu menurut 90 responden adalah lapangan pekerjaan bertambah 56,57%, pengobatan gratis 6,67%, bantuan pendidikan 36,37%, bantuan di bidang olah raga 7,78%, perbaikan jalan 28,89%, bantuan dana 44,44% dan ganti rugi lahan 48,89%. Sementara dampak negatifnya adalah gangguan kesehatan berupa sesak nafas 11,11%, batuk-batuk 35,56%, gatal 35,56%.

Selain itu penelitian ilmiah remaja ini juga mengungkapkan dampak negatif terjadi pada aspek lingkungan. Gangguan lingkungan yang terjadi adalah banjir 41.11%, tanah longsor 24,44%, penggundulan hutan 47,78%, jalanan rusak 55,56%, suhu udara semakin panas 86,67%, rusaknya keramba 6,67%, air menjadi keruh 60%, banyak ikan mati 28,89% dan bahaya limbah batu bara.

Aktivitas penambangan ternyata berpengaruh terhadap kesehatan. Hal tersebut tidak hanya dirasakan masyarakat di sekitar lokasi tambang tetapi juga di daerah di luar lokasi tambang. Dari 90 orang responden yang ditanyai, ternyata mayoritas mereka merasakan gangguan kesehatan setelah adanya penambangan.

Gangguan tersebut diantaranya sesak nafas 10 orang atau 11,11%, batuk-batuk sebanyak 32 orang atau 35,56%, gatal-gatal 32 orang atau35,56% dan sebanyak 26 orang atau 28,89% tidak merasakan adanya gangguan kesehatan.

Aktivitas pengeboran dan pengangkutan hasil tambang menyebabkan banyak debu. Debu inilah yang menyebabkan gangguan pernafasan diantaranya batuk dan sesak nafas. Beberapa warga juga menyatakan bahwa kualitas air di daerahnya berubah setelah adanya penambangan. Mereka merasa air jadi keruh dan menyebabkan gatal-gatal jika digunakan mandi.

Selanjutnya masih menurut penelitian ilmiah remaja itu, 90 responden merasakan suhu di kecamatan Loa Kulu mengalami perubahan menjadi lebih panas dari sebelumnya. Hawa panas tersebut dipandang diakibatkan banyaknya pohon yang ditebang. Tumbuhan mempunyai manfaat menyerap CO2 dan menghasilkan O2 dalam proses fotosintesis.

Jika tumbuhan banyak ditebang maka yang bertugas menyerap CO2 berkurang. CO2 dapat menimbulkan efek rumah kaca yaitu panas matahari bisa diserap tetapi tidak bisa dipantulkan kembali ke atmosfer. Hal inilah yang dinilai menjadi penyebab perubahan hawa di Loa Kulu semakin terasa panas.

Meski data tersebut sudah beberapa tahun lalu dan dilakukan sekelompok remaja pelajar, laporan ilmiah tersebut kiranya sudah bisa menjadi bahan renungan kita semua untuk berbenah sejak sekarang. Biarlah fakta ini menjadi sejarah, namun jangan pernah membiarkan diri kita menjadi bagian sejarah yang tidak layak dibanggakan.

Mari fokus pada hari ini. Semua pihak hendaknya berpikir bagaimana kehidupan dirinya memberikan nilai positif dan progressif bagi kelangsungan kehidupan generasi mendatang.

Menarik apa yang disampaikan oleh Yudi Latif dalam tulisan Resonansi-nya di harian Republika beberapa hari lalu. Apa yang membuat kesilaman sebagai kenangan keagungan dan kedatangan sebagai harapan kebahagiaan adalah kesabaran dan keseriusan kita merebut hari ini. Seperti kata Leo Tolstoy, “Dua petarung yang paling kuat adalah kesabaran dan penguasaan waktu”.

Selamat berjuang Kukar, selamat meraih kemenangan dengan tambang yang mensejahterakan seluruh rakyatnya. Jika tidak hari ini diperbaiki kapan lagi? Jika bukan usahamu siapa lagi? Kebahagiaan dan kesejahteraan semoga selalu bersama rakyat Kukar. Teruslah berbenah, perbaiki diri, dan kendalikan segera sifat keserakahan.[KTC]


*Imam Nawawi adalah kolumnis www.kaltimtoday.com dan perintis Kelompok Studi Islam (KSI) Loa Kulu, serta perintis dan mantan Ketua Pengurus Daerah Pelajar Islam Indonesia (PII), Kutai Kartanegara, Kaltim.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel