Sadarkah, Anda Sedang Sibuk Apa?


Oleh A.W Andrea Muzackye

"SORRY, aku lagi sibuk"
"Aku gak ada waktu"
"Banyak yang harus saya kerjakan"


MUNGKIN itulah jawaban yang sering dilontarkan bila kita ingin minta bantuan dari kawan kita. Kalimat kalimat tersebut bisa jadi lebih sering lagi didengar ketika kita mengajak rekan bergabung pada kegiatan kegiatan produktif. Atau dalam hal ini program-program yang berkaitan dengan tema keagamaan.

Ada pertanyaan yang muncul, benarkah semua orang sibuk atau hanya dibuat-buat?. Saya yakin memang semua orang sibuk, cuma persoalannya apa yang mereka sibukkan. Kata Imam al Ghazali, "Rugilah mereka yang sibuk tetapi segala kesibukan mereka hanya untuk dunia saja".

Lalu, bagaimana pula dengan kita. Pertanyaan ini patut kita ajukan kepada diri kita sendiri. Apa sebenarnya yang kita sibukkan? Adakah kita sibuk menyiapkan bekalan untuk hari pertemuan dengan Tuhan, Allah SWT. Atau sebaliknya, kita sibuk dengan kenikmatan dunia hingga menyebabkan hati kita terlalu keras untuk mendengar peringatan atau nasihat?. Berapa persenkah kesibukan kita untuk akhirat? Sudikah kita tergolong dalam golongan orang-orang yang rugi seperti yang dimaksudkan oleh Imam Al Ghazali.

Di dalam satu surah Al-Qur’an, Allah SWT berfirman yang artinya, "Sesungguhnya orang-orang yang rugi itu adalah orang yang merugikan diri mereka dan ahli keluarga mereka di Hari Qiamat. Itulah 'kerugian' yang sebenarnya".

Sekiranya kita tidak fikirkan sekarang, kita akan menyesal pada hari pertemuan kita dengan Allah SWT, hari di mana akan dibentangkan kitab amalan kita. Ada yang akan menerima kitabnya dari sebelah kanan, ada yang akan terima dari sebelah kirinya dan ada pula yang akan menerima kitab amalannya dari belakang. Bagaimana pula yang kita harapkan.

Maka, apakah di saat-saat demikian baru kita menyadari diri dan menyesali sejadi-jadinya karena kita melihat dengan nyata ternyata kesibukan diri kita selama ini hampir semuanya untuk dunia semata-mata.

Apakah nilainya penyesalan kita pada saat itu? Banyak yangg menyesali perbuatan mereka pada masa itu dan minta supaya dikembalikan ke dunia untuk mereka beramal soleh kembali. Tapi nasi sudah jadi bubur, saudaraku, permintaan manusia yang menyesal ini dijawab oleh Allah dengan sindiran, tak ada lagi artinya penyesalan dan tak tak jua berguna secuil pun.

"Dan (alangkah ngerinya), jika sekiranya kamu melihat ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata): “Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin". (Q.S. As-Sajdah: 12)

"Orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling siap menghadapinya. Mereka itulah orang-orang cerdas. Mereka pergi dengan membawa kemuliaan dunia dan kemuliaan akhirat ”.
(HR. Ibnu Majah).

Sekaranglah waktunya untuk kita merenungkan waktu-waktu yang kita lalui,apakah bermanfaat untuk bekal kita di akhirat kelak, atau malah merugikan diri kita sendiri. Dan, berhati-hatilah dengan tipu daya dan belitan syaitan, kerana tipu dayanya terlalu halus. Jangan buang waktu kita sia-sia!Waullau a’lam.

*Penulis adalah seorang Blogger asal Bontang. 

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel