Merindukan Sosok Pemimpin Jenderal Soedirman

Insjafilah!! Barang siapa mati, padahal (sewaktoe hidoepnja) beloem pernah toeroet perperang (membela keadilan) bahkan hatinja berhasrat perang poen tidak, maka matilah ia diatas tjabang kemoenafiekan (Panglima Besar Jenderal Soedirman, 1916 - 1950)

ITULAH bait pesan yang sarat hikmah dari almarhum Panglima Besar Jenderal Soedirman. Perjalanan hidup Soedirman sebagai abdi bangsa patut menjadi teladan bagi anak bangsa hari ini.

Figur Jenderal Besar ini patut menjadi teladan anak muda sebagai pelanjut risalah perjuangan Indonesia menuju apa yang di cita citakan. Soedirman adalah sosok agamis, nasionalis, serta lekat akan spirit kebangkitan.

Sebagai seorang pemuda, di usianya yang ke 29 tahun, Soedriman telah mampu memimpin pasukan perang mengusir sekaligus mempertahankan tanah air Indonesia dari penjajahan kolonial Jepang dan Belanda. Di usianya tersebut, Soedirman sudah memegang tampuk kepemimpinan tertinggi Tentara Republik Indonesia.

Kesederhanaan dan loyalitas sosok Soedirman terhadap perjuangan mempertahankan ibu pertiwi dari kesewenang-wenangan penjajah, membuatnya menjadi pemimpin yang kharismatis dan disegani. Dan oleh anak buahnya, sosok Soediman adalah tauladan.

Dalam perjalanan hidupnya dalam membela tanah air, Soedirman kita tahu tidak pernah terjebak masuk ke dalam perangkap oportunisme.

Juga keuletannya dalam menimba ilmu agama semakin memantapkan idealismenya. Soedirman anak muda sempat bergabung di Hizbul Wathan dan gerakan Muhammadiyah yang didirikan oleh Kyai Ahmad Dahlan.

Dari didikan kedua gerakan tersebut, Soedirman merasa tidak saja berjuang membela negaranya, tapi juga membela kemuliaan agamanya. Sebab seperti apa yang beliau pahami, agama Islam sangat mengutuk penindasan dan penjajahan. Serta kesadarannya bahwa negaranya punya haknya untuk merdeka dari jajahan bangsa lain. Soedirman meyakini betul prinsip itu.

Semangat itu pulalah yang ditransformasukan ke serdadunya. Ghirah mereka untuk membela tanah air mengalahkan segalanya. Sebab selain negara, mereka juga yakin bahwa mereka sedang membela keyakinan hakiki mereka.

Soedirman Kini
Dengan penjajah, Soedirman adalah sosok yang tanpa kompromi. Di matanya, penjajah tetaplah penjajah.

Hingga dalam keadaan sakit parah sekalipun, Soedirman masih bergerilya menyusuri hutan hutan belantara Pulau Jawa untuk melakukan perlawanan. Soedirman tidak pernah menyerah sedikitpun.

Dalam keadaan sakit itu, Soedirman harus ditandu oleh prajuritnya yang tetap setia berjuang bersamanya. Namun, dalam gerilya itu kian hari sakit Soedirman semakin parah.

Akhirnya, dengan kemahabesaran Allah SWT, Panglima Besar Jenderal Soedirman pun syahid di jalan-Nya (Insya Allah). Indonesia hari itu berkabung.

Kepergian Jenderal Soedirman untuk selamanya tersebut tentu saja menyisakan kesedihan mendalam di hati seluruh rakyat Indonesia. Indonesia kehilangan anak terbaiknya. Indonesia kehilangan seorang tokoh pejuang yang penuh wibawa.

Hari ini, Jenderal Soedirman tidak lagi hidup bersama kita. Jasadnya memang telah tiada tapi tidak dengan semangatnya.

Semangat beliau yang membuncah untuk membebaskan Indonesia dari jerat segala bentuk penjajah yang tak berprikemanusiaan mestinya juga tertanam dalam jiwa jiwa kita hari ini. Tak pernah selesai.

Namun yang ironis hari ini, Indonesia yang katanya sudah merdeka, atas jerih payah pejuang pendahulu negeri ini, ternyata –dan sangat nyata- belum sepenuhnya merdeka.

Kita menyaksikannya, tentu. Hari ini sangat jelas tampak di depan mata kita ”penjajahan koloni” masih berlangsung sengit.

Memang tidak semua ”penjajah penjajah” itu dari luar, bahkan umumnya berstatus sebagai ”anak sendiri”. Sangat nyata dipertontonkann bagaimana aset aset negara pelan tapi pasti mulai dikuasai oleh asing.

Pulau pulau kita yang banyak jumlahnya itu, sedikit demi sedikit mulai terkikis dan diklaim oleh bangsa lain sebagai hak milik mereka.

Kekayaan alam kita yang melimpah ruah tapi tak terkelola dengan baik ini pun mulai dicengkram oleh mereka demi untuk kepentingan sendiri dan golongannya saja.

Situasi negeri bernama Indonesia sekarang ini mengharapkan lahirnya kembali sosok nasionalis-religius seperti Jenderal Soedirman.

Kita sangat mengharap lahirnya Soedirman Soedirman baru yang tak gampang menyerah, cerdas dan tegas, serta memiliki komitmen perjuangan yang tak mudah goyah demi membela kemuliaan agama dan negerinya.

Saatnyalah kita untuk berkaca pada negeri sendiri. Terawanglah catatan sejarah yang pernah di ukir oleh orang orang besar di negeri ini. Simaklah sepak terjang para pejuang Indonesia, yang, kata Chairil Anwar, tak pernah mati.

Mari berkaca pada sosok Soedirman. Sosok seperti beliaulah yang –sekali lagi- sangat dibutuhkan untuk mengubah keadaan negeri ini menjadi hebat.

Kita butuh pemimpin yang berani dan berkarakter mulia dalam menuntun arah negeri ini, seperti Soedirman dimasa mudanya yang menjadi Panglima sekaligus tauladan bagi bawahannya.

Kita butuh sosok Soedirman yang tegar dan sabar dalam mendengar dan melayani bawahannya. Kita sama sekali tidak butuh pemimpin yang hanya mengumbar janji, pengeluh, senang mengaku-ngaku tapi nyatanya begitu ambisius lagi tamak.

Panglima Besar Jenderal Soedirman tidak suka dipuji dan tak pula memuji diri. Tidak suka pula ia diperlakukan khusus. Soedirman tidak pernah mengklaim bahwa dia dan prajuritnyalah yang hebat.

Ia berlaku begitu bersahaja. Lihatlah, bagaimana Soedirman masuk hutan dengan pasukannya tanpa ada perbedaan kasta. Mereka bergerak dan berperang bersama sama.

Barulah kemudian beliau ”naik kasta” sedikit ketika sakit parah mengharuskannya untuk ditandu. Sebelumnya, dia tak ubahnya prajurit biasa meski ia sejatinya adalah jenderal besar. Berpakaiannya pun sangat sederhana. Itulah yang membuatnya disegani oleh lawan maupun kawan.

Entah kenapa, kini rasa-rasanya sangat susah menemukan sosok Soedirman, pemimpin yang kita mencintainya dan dia pun mencintai kita.

Kepingin sekali rasanya kita kehadiran seorang pemimpin yang tak angkuh, tak ada kompromi dengan penjajah, pemberani, bermoralitas agung, dan taat beragama. Andakah orangnya yang dinanti itu. (YACONG B. HALIKE)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel