Menguak Fakta di Balik Politik

GERAH, marah, kecewa, malu, sedih dan prihatin melihat bangsa Indonesia selalu diwarnai pernak-pernik konflik yang semestinya tidak perlu terjadi.

Indonesia dengan mayoritas Muslim selalu menjadi bulan-bulanan kepentingan politik pihak yang berwawasan dangkal dan bertujuan sempit. 

Boleh dikatakan, negeri ini sedang ditumbuhi banyak benalu. Yaitu, manusia yang tidak punya kapasitas dan niat yang tulus membangun bangsa, tetapi sangat bernafsu untuk menjadi pemimpin.

Inilah satu cara pandang pragmatis, individualistis, yang oleh Rizal Mallarangeng dalam kumpulan esainya "Dari Langit" disebut sebagai suatu keniscayaan. Dengan mengutip pendapat-pendapat Adam Smith, Rizal menjustifikasi bahwa liberal itu suatu kebaikan.

Untuk membuktikan bahwa liberalisme itu perlu di era modern ini, Rizal menghadirkan menyebut Karl Marx –pihak yang paling antagonis dalam perjalanan sejarah kapitalisme– sebagai seorang utopis. Gagasan Marx dianggapnya nihil dan tidak realistis.

Tetapi, pendapat Rizal mengenai perilaku sebagian kelompok yang berlindung dibalik kepentingan umum yang sejatinya ingin memuaskan nafsu diri, patut untuk direnungkan. Rizal mengatakan bahwa ada sebagian kelompok yang berteriak kesana kemari mengatasnamakan kepentingan rakyat, padahal hanya keuntungan pribadi yang hendak diraihnya.

Manusia seperti itu sungguh tidak bernilai manfaat bagi siapapun, apalagi terhadap bangsa dan negara. Pertanyaannya kemudian, apa yang harus kita lakukan agar dapat menentukan sikap yang tepat di tengah-tengah pergumulan manusia yang individualistis seperti sekarang?.

Politik. Ya, memahami atau setidaknya mengerti tentang praktik politik menjadi suatu keharusan, agar bangsa Indonesia ini tidak lagi bertikai, bertengkar, apalagi berkelahi sesama bangsa sendiri. Dengan cara seperti itu, maka energi positif seluruh elemen bangsa bisa lebih fokus untuk membangun. Bukan berdebat dan bergulat seperti sering terjadi di masa kini.

Apa itu Politik?

Secara akademis, apabila ilmu politik dilihat hanya sebagai cabang dari ilmu sosial yang memiliki dasar, rangka, fokus, dan ruang lingkup yang sudah jelas, maka politik sebagai ilmu baru berusia 2 abad.

Tetapi, jika ditinjau dalam rangka yang lebih luas, yaitu sebagai pembahasan secara rasional dari berbagai aspek negara dan kehidupan politik, maka ilmu politik dapat dikatakan sebagai ilmu tertua di dunia.

Dan, jika kita melakukan komparasi sejarah, maka kita ketahui bahwa konsep dan aplikasi ilmu politik yang paling maju dan sukses terjadi pada saat Nabi Muhammad dan seluruh sahabatnya berhasil menjadikan Madinah sebagai kota yang beradab.

Di sana terdapat suku yang plural, bahkan agama yang plural, tetapi semua hidup saling berdampingan. Wajar jika kemudian dunia modern mendambakan kota seperti itu dengan semangat mewujudkan kota yang Madani. Yaitu sebuah kota seperti Madinah di zaman Nabi Muhammad.

Nah, secara lebih spesifik berbicara politik sebenarnya hanya mengarah pada satu hal yaitu kepemimpinan yang di dalamnya termasuk kekuasaan (power) dan kewenangan (authority). Ujung pangkal dari pembahasan dan praktik politik adalah kepemimpinan. Hal ini bisa kita lihat dari sistim demokrasi di dunia, termasuk Indonesia.

Seperti yang terjadi di DKI Jakarta dua hari lalu (20 September 2012), itu adalah puncak dari perpolitikan di ibu kota negara yang menjadi sistim perpolitikan tanah air. Selanjutnya setelah perhitungan suara selesai, pasangan terpilih pun mulai bekerja dengan dua bekal utamanya yaitu power dan authority-nya.

Kekuasaan

Bicara politik esensinya bicara kekuasaan. Itulah mengapa kita sering mendengar ungkapan “bagi-bagi kue,” maksudnya adalah berbagi kekuasaan. Itulah mengapa ada istilah koalisi dan oposisi. Oposisi adalah pihak yang tidak dapat kue kekuasaan. Dengan demikian oposisi biasanya kritis terhadap kebijakan pemerintah.

Tetapi, dalam realita kehidupan yang sebenarnya, kekuasaan itu menjadi cita-cita banyak manusia. Dalam bayangan manusia secara umum dengan kekuasaan semua bisa dilakukan dan semua bisa dimiliki. Setidaknya itulah yang terbayang dalam benak Qabil ketika membunuh Habil.

Untuk mendapatkan apa yang diimpikannya, Qabil tidak segan-segan membunuh Habil. Tujuannya satu, mendapatkan apa yang diinginkan. Dengan membunuh Habil, maka kekuasaan untuk mendapatkan impiannya (menikah dengan gadis pilihannya sendiri) dapat diwujudkan dengan mudah.

Selanjutnya, sejarah kehidupan manusia ketika berbicara kekuasaan tidak jauh dari apa yang dipikirkan dan dilakukan oleh Qabil.

Di era modern, pembunuhan atas tujuan mendapat kekuasaan sebenarnya juga tidak hilang. Kematian para pemimpin negara yang tertembak adalah bukti paling empiris akan kondisi tersebut. 

Bahkan, dalam beberapa kasus, konflik politik para penguasa seringkali mengorbankan rakyat kecil. Entah dengan cara menghasut dan mengadu dombanya, atau mendorong mereka berjibaku dalam kerusuhan.

Cerdas dan Tangkas

Hari ini, kepentingan kekuasaan berseliweran di mana-mana. Tidak saja di Indonesia, tetapi juga di Amerika. Bahkan dalam kasus terorisme, secara analitik, rasanya dapat dikatakan itu hanyalah permainan politik Amerika untuk melegalkan tujuan-tujuang terselubungnya di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Kita sebagai generasi muda bangsa harus cerdas, tangkas dan sigap menghadapi situasi seperti sekarang. Setidaknya kita harus paham tentang apa itu politik dan bagaimana sejarah politik sepanjang zaman, terkhusus apa yang ditampilkan peradaban Barat. Sebuah peradaban yang lekat dengan imperialisme, kolonialisme, hingga saat ini.

Terorisme sejatinya rekayasa penguasa dunia hari ini. Mari kita lihat secara analitik. Bangsa Indonesia, apalagi mayoritas rakyatnya yang hidup di bawah garis kemiskinan, yang untuk makan saja susah, mungkin tidak berpikir membuat bom. Tentu tidak.

Apalagi ketika dikatakan bahwa pesantren dan hari ini Rohis sebagai sarang teroris. Lebih tidak masuk akal lagi. Bagaimana mungkin lembaga pendidikan tertua di tanah air itu justru berpikir destruktif seperti itu. Demikian juga dengan Rohis.

Pengalaman saya di Rohis, anak-anak muda di SMU diajak untuk berakhlak mulia dalam bahasa pendidikan modern bagaimana memiliki karakter yang positif dan unggul. Rajin belajar, menjadi siswa yang berprestasi dan pandai menyelesaikan persoalan-persoalan hidup.

Sama sekali tidak ada ajakan untuk membuat bom. Siapa yang bisa buat bom, guru kimia juga tidak mungkin mengajarkan itu. Apalagi guru agama, dari mana pengetahuan membuat bom.

Termasuk tuduhan bahwa di Rohis pesertanya diajak untuk mengatakan pemerintahan RI sekarang adalah pemerintahan thagut, sebuah tuduhan yang naif. Jika berbicara ketidakpuasan terhadap pemerintah, saya rasa partai oposisi lebih tajam dan lebih bersemangat dalam mengkritisi pemerintah dari pada anak-anak Rohis yang masih belia dan sepi dari pretensi.

Prinsipnya satu, kita harus cerdas dalam mengkonsumsi pemberitaan media. Kita tidak boleh dikendalikan oleh media, diprovokasi untuk membenci sesuatu, menyukai sesuatu, termasuk mengidolakan sesuatu tanpa alasan yang jelas dan rasional yang bersandar pada norma agama, sejarah, dan kepentingan bangsa dan negara.

Sebab media hari ini, termasuk di tanah air, tidak bisa begitu saja lepas dari pretensi para politisi yang umumnya sangat ambisius untuk meraih kekuasaan. Kita akan memahami hal ini dengan jelas manakala kita telah mengerti apa itu politik, bagaimana politisi, dan seperti apa politik yang seharusnya.

*Imam Nawawi 

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel