Membangun Masyarakat Rasional Religius

TIDAK ada satu yang abadi selain perubahan. Demikian doktrin ilmu sosial dalam kajian sosiologi. Karena doktrin tersebut, Barat sebagai sebuah peradaban tak mengenal kata ‘tetap’. Semua harus berubah.

Mereka sangat anti dengan namanya kemapanan, apalagi kemapanan dalam bentuk tradisi atau budaya. Setidaknya pengalaman sejarah telah mengantarkan mereka berkeyakinan seperti itu.

Baginya, dunia harus berubah dan terus berubah. Meski sesuatu itu adalah kebenaran agama bahkan wahyu. Terbukti, Bibel di Barat tidak lagi dianggap sakral tidak lama setelah teori hermeneutika diakui valid untuk menelaah Bibel dari sisi akademik.

Pada akhirnya, agama pun harus berubah. Itulah sejarah Barat. Maka sejak mereka mengerti bahwa agama yang mereka yakini banyak menyalahi dasar-dasar rasionalitas. Barat pun melakukan perlawanan terhadap agama. Terjadilah babak baru dalam sejarah benua biru itu, yakni sekularisme.

Inkuisisi menjadi bukti paling empiris betapa gereja telah menjadi tempat penghukuman manusia rasional yang berbeda pandangan secara ilmiah dengan para pendeta. Copernicus, Galileo, dan Bruno adalah beberapa saintis Barat yang harus rela menerima hukuman pengkebirian oleh kalangan gereja.

Sekularisme pun mendapat sambutan bahkan dielu-elukan oleh kaum terpelajar di Barat. Terutama ketika Rene Descartes hadir dengan cogito ergo sum-nya. Saya berpikir maka saya ada. Saat itulah Barat benar-benar masuk babak baru sebagai penganut antrophosentrisme.

Antrophosentrisme berhasil "membunuh" tuhan dan menegasikan agama. Beberapa abad lamanya, sekularisme menggiring manusia Barat pada liberalisme. Terjadilah kehidupan bebas, sebebas burung terbang. Tanpa aturan, tanpa norma, semua boleh dilakukan asal senang dan tidak ada yang dirugikan. Dan, bebas yang mereka maksud adalah bebas dari agama, bebas dari religiusitas.

Bahkan Auguste Comte yang diklaim sebagai bapak sosiologi Barat mengkategorikan manusia dalam tiga kelompok. Manusia yang berpikir modern; ilmiah, rasional, dan empiris adalah manusia paling tingi peradabannya. Sementara manusia yang masih memiliki keyakinan theologi, dikategorikannya sebagai manusia terbelakang. Jadilah Barat semakin bebas, bablas, tanpa batas.

Kebebasan itulah yang belakangan juga menjangkiti para kaum terdidik di berbagai negara berkembang, termasuk Indonesia. Sebagian dari mereka bangga dengan kebebasan. Padahal, masa sekularisme yang menemui puncaknya pada era liberalisme ini tidak lama lagi akan mengalami perubahan.

Arnold Toynbee termasuk yang sepakat bahwa dunia akan terus diwarnai oleh perubahan. Bahkan ia sangat yakin peradaban Barat sebagai peradaban hegemonik di era modern ini sedang menuju kehancuran. Karena setiap peradaban pasti akan menuju kepunahan dan tidak akan pernah abadi. Sebagaimana sifat asli dunia yang semu dan profan. Jadi, tidak salah, perubahan memang benar-benar akan terjadi.

Indikasi Keruntuhan
Tapi, pertanyaannya kemudian adalah apakah benar Barat akan benar-benar runtuh? Sebagai sebuah peradaban, Barat memang telah melewati masa kejayaannya. Bangunan logika dan epistemologinya goyah seiring perjalanan zaman. Bahkan, Barat sendiri terperosok dalam kekeliruan cara pandangnya sendiri.

Berbagai krisis yang melanda Eropa dan Amerika dewasa ini menjadi bukti empiris bahwa secara konsep, kebenaran cara pandang mereka terhadap dunia mulai goyah dan terbukti rapuh. Kerapuhan itu terihat pada terjadinya krisis ekonomi dan moral yang melanda Barat sejak lama.

Kerapuhan moral telah menjadikan warga Eropa, setidaknya yang diwakili oleh Yunani dan Spanyol, kehilangan nalar kemanusiaannya. Hal itu tidak bisa dipungkiri, karena tidak ada cara lain untuk bisa bertahan hidup selain dengan cara mencuri dan memakan apa yang mungkin bisa mengobati rasa lapar.

Selain itu, secara kolektif, Barat bukanlah masyarakat yang mengenal tali persaudaraan layaknya Indonesia. Kapitalisme mendorong mereka terjerembab pada paham individualisme yang berorientasi pada diri pribadi.

Sigmeun Freud menyatakan bahwa manusia eksis karena ego dan naluri seksnya. Oleh karena itu di Barat ketika orang sudah tidak produktif maka ia akan berada di rumah sendirian dengan ditemani oleh anjing yang dipeliharanya. Ia tidak lagi bisa bebas berekspresi untuk masuk dalam pergaulan bebas.

Sementara itu, jika ditinjau dari aspek keilmuan, keruntuhan Barat ini tidak sulit untuk diidentifikasi. Terutama jika melihat hasil teknologi Barat yang justru berpotensi sangat destruktif bagi kelangsungan kehidupan manusia itu sendiri.

Teknologi otomotif misalnya, telah memicu terjadinya polusi udara dan stress berat bagi masyarakat kota yang setiap hari harus berjibaku dengan kemacetan.

Kemudian secara politik, Amerika sebagai pemimpin dunia ternyata lebih suka melakukan pelanggaran HAM. Padahal di lain sisi, mereka mengklaim diri sebagai penegak HAM. Artinya, Barat telah kehilangan konsistensi berpikirnya, sehingga nampaklah ambisi jiwanya untuk menguasai dunia dengan cara-cara yang terlarang dan berbahaya.

Melawan Kebenaran
Keruntuhan peradaban Barat tentu akan menjadi tonggak sejarah kehidupan dunia baru. Dan, pasti banyak orang bertanya mengapa Barat bisa bangkrut dan punah. 

Secara normatif, kehancuran pasti akan diterima oleh siapa saja yang menolak kebenaran. Kitab suci telah memberikan bukti dengan kematian Fir’aun yang diktator, Namruz yang ambisius, dan Qarun yang materialis.

Secara kolektif kita bisa melihat apa yang dialami oleh kaum para Nabi-nabi utusan Tuhan yang tercatat dalam kitab suci. Semuanya mati dan lenyap dari peredaran sejarah. Padahal sebelumnya mereka adalah bangsa yang kuat dan tangguh. Tetapi, hukum Tuhan pasti berlaku, siapapun yang melawan kebenaran pasti akan menjumpai kebinasaan.

“Belumkah datang kepada mereka berita penting tentang orang-orang yang sebelum mereka, (yaitu) kaum Nuh, 'Aad, Tsamud, kaum Ibrahim, penduduk Madyan dan negeri-negeri yang telah musnah? Telah datang kepada mereka rasul-rasul dengan membawa keterangan yang nyata, maka Allah tidaklah sekali-kali menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri” (Qs 9 At-Taubah : 70).

Dalam konteks keindonesiaan, doktrin tersebut sangat efektif untuk mendorong terjadinya perubahan sosial. Jika Barat sedang menuju kehancuran atau kepunahan peradabannya, berarti peluang bangkit dan maju ada pada peradaban lain.

Sebagai negeri yang memiliki hampir semua kebutuhan dunia baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia, adalah langkah tepat, cerdas, lagi bijaksana, jika bangsa Indonesia mempersiapkan diri untuk menjadi bangsa yang mampu menjadi pemimpin peradaban dunia. Semua serba mungkin terjadi, karena yang abadi adalah perubahan.

Momentum Perubahan
Dalam Islam perubahan itu hanya mungkin terjadi manakala manusia sendiri yang secara sadar mendesain sebuah perubahan. Tuhan akan memberikan jalan bagi terciptanya perubahan itu dan tidak akan pernah ada sebuah perubahan tanpa ada usaha sadar dan upaya kreatif dari manusia itu sendiri.

“Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (QS. 13 : 11).

Berarti secara kolektif, bangsa Indonesia harus benar-benar mengupayakan terwujudnya suatu perubahan untuk menjadi pemipin peradaban dunia. Sepintas seperti bombastis, tetapi jika dikomparasikan dengan kemerdekaan, rasanya bukan mustahil bangsa Indonesia menjadi bangsa yang besar, maju dan disegani. Seperti kata orang, tidak ada yang mustahil di bumi ini. Sejauh ada kemauan pasti ada jalan.

Pertanyaanya kemudian, perubahan apa yang harus diwujudkan? Apalagi kalau bukan perubahan konsep pembangunan, yang semula berpusat pada ekonomi material belaka. Menuju pembangunan masyarakat yang rasional-religius. Sebuah masyarakat yang progress dari sisi ilmu, tetapi semakin bermoral, semakin beradab dari sisi akhlak. Seperti tercantum dalam sila pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa.

Dari pengamalan sila pertama yang diwujudkan dengan pembangunan masyarakat rasional-religius, maka terwujudnya idealisme pada sila kedua hingga sila kelima adalah satu hal yang sangat mungkin sekali terwujud.

Upaya membangun masyarakat rasional-religius di Indonesia bukanlah pekerjaan yang sangat berat. Sebab secara historis bangsa Indonesia adalah bangsa yang religius. Secara naluriah masyarakat Indonesia akan sangat antusias dengan upaya pembangunan seperti itu. Hanya individualisme saja yang menolak fakta ini.

Jika benar-benar disepakati secara keseleruhan oleh semua elemen bangsa di tanah air, maka perubahan bangsa Indonesia dari negara berkembang menjadi negara tangguh bukan sekedar isapan jempol.

Karena, sejarah telah membuktikan, bahwa bangsa yang mampu menjadi pemimpin peradaban dunia adalah bangsa yang rasional-religius. Bukan rasional semata. Bagaimana, sudah siapkah untuk berubah?.*

IMAM NAWAWI

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel