Membidik Militansi Pemuda Ala Ibrahim


JIKA waktu berputar dan mengantarkan kita pada dua pertemuan, maka itu bukan kebetulan. Jika matahari terbit dari Timur dan terbenam di Barat, tanpa pernah lengah dari kedisiplinannya, tentu bukan peristiwa tanpa pengatur.

Pasti juga bukan suatu kebetulan jika roda waktu saat ini mengantarkan penduduk Indonesia untuk bertemu dua momentum besar di dalam 2012 ini. Setidaknya ada dua titik singgung penting sepanjang tahun ini, terutama bagi umat Islam dan bangsa Indonesia.

Sebelumnya, Agustus lalu yang menjadi momentum peringatan proklamasi RI bersamaan dengan pelaksanaan ibadah puasa, dan Idul Fitri. Sekarang, kita akan kembali bertemu dua momentum besar lagi, yakni Idul Adha dan Sumpah Pemuda.

Setidaknya inilah tugas utama seluruh pemuda di Indonesia. Yakni menggali makna dari setiap perjalanan waktu, peristiwa, sejarah, dan pelajaran atau hikmah dari seluruh hal penting yang mengitari kehidupan berbangsa dan bernegara ini. Karena Tuhan tidak mungkin memberikan maklumat, layaknya pemerintah membuat pengumuman.

Maka tidak ada cara lain untuk bisa memahami makna di balik setiap realita, selain kembali memfungsikan, akal, hati dan indera untuk menemukan hakikat kebenaran, mengakuinya, dan melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari, hingga menjadi satu karakter yang mentradisi, sebagai bukti bahwa kita masih mencintai negeri ini dengan sepenuh hati.

Tragedi Kepemudaan
Rasanya sudah cukup sering motivasi diberikan kepada para pemuda untuk menggambarkan betapa besarnya peran pemuda dalam sebuah perubahan. 

Para penulis, motivator, bahkan mungkin para pendidik di sekolah, juga tidak pernah absen menggambarkan heroisme para pemuda dalam sejarah. Akan tetapi, hingga kini, sebagian besar pemuda di Indonesia belum mampu menyadarinya dengan penuh kesungguhan.

Megawati adalah salah satu pihak yang kecewa dengan perilaku politisi muda Indonesia termasuk kepada kader partainya sendiri yang cenderung bergaya borjuis dan oportunis. Hal itu disampaikannya pada saat berpidato di hadapan ribuan kader dan simpatisan PDIP se-Jawa Tengah di Semarang (1/10).

Politisi yang borjuis itu (termasuk politisi muda), menurut Mega, telah lupa diri. Lupa akan kewajiban menampung, menyalurkan, dan merealisasikan aspirasi masyarakat akar rumput. Dan, seperti diketahui sekarang, sangat langka ada seorang pemimpin, apalagi para elit, yang secara sadar mau turun ke lapangan. 

Sementara itu, pemuda di kalangan masyarakat, cenderung lebih hobi memanjakan birahi dari pada mempersiapkan diri untuk bangsa dan negara. Budaya pacaran di kalangan pelajar, kini sudah menjadi satu hal yang dianggap lumrah. Bahkan, beberapa waktu lalu, Kaltim dikejutkan dengan ulah pelajar dari Kabupaten Kutai Kartanegara yang ikut-ikutan membuat video asusila.

Di sisi lain, para pemuda yang aktif dalam berbagai macam organisasi dan LSM, juga tidak banyak lagi yang berdiri di atas idealisme perjuangan. Sebagian besar menikmati kehidupan layak dengan menjual intelektualitasnya untuk mengkonstruk pemikiran yang salah dengan permainan logika dan retorika. Mereka telah kehilangan ruh sebagai pemuda, sehingga memilih rupiah di atas segala-galanya.

Semakin miris lagi, kalau kita mengingat data tawuran pelajar dan mahasiswa yang seolah telah membudaya. Termasuk meluasnya peredaran narkoba di kalangan pemuda. Kasus Novi Amilia pada 11 Oktober 2012 lalu, menjadi satu catatan berharga, bahwa pemuda kita ternyata lemah nalar, dan lemah spiritualitas.

Narkoba telah menjadi masalah terbesar di Indonesia yang selalu menguntit kalangan muda. Hampir di setiap peradilan di seluruh Indonesia menangani perkara pidana yang separuhnya berkaitan dengan pemuda dan narkoba. Hal ini sebagaimana dipaparkan anggota Komisi Yudisial, Jaja Ahmad Jayus, di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Dalam sampel yang mencerminkan semua wilayah di Indonesia, jelas Jaja, pada setengah perkara pidana, yang bermasalah adalah pemuda dan berkaitan dengan narkoba. Karenanya, KY pun berharap dapat menggandeng lembaga keagamaan dan organisasi kepemudaan untuk mengatasi masalah ini.

Atas tragedi kepemudaan itu, siapa yang mau bertanggung jawab, siapa yang mau turun tangan, dan berhenti berteori dan beretorika? Mengharap pemerintah melakukannya, nampaknya realitas itu belum mampu mengetuk nurani mereka. Lantas?

Tidak ada cara terbaik dari selain setiap pemuda di negeri ini harus kembali menyalakan api idealismenya. Berpikir bukan untuk keuntungan diri dan keluarga, apalagi cita-cita pribadi semata, tetapi lebih luas bagaimana bangsa ini bisa maju dan jaya. Jika tidak, maka nasib negeri ini akan selamanya seperti ini bahkan mungkin lebih buruk.

Pertanyaannya, dengan cara apa kita menyalakan api idealisme itu? Yakni dengan cara meneladani sifat pemberani Nabi Ibrahim sekaligus Nabi Ismail, yang rela mati demi kebenaran, dan tidak mau tunduk kepada siapapun kecuali kebenaran. Rusaknya negeri ini, karena mayoritas penduduknya telah tunduk pada selain kebenaran.

Kultur Berpikir
Jika ada pertanyaan, siapa manusia pertama yang melakukan pengembaraan intelektualitas tentang perkara paling fundamental dalam kehidupan ini, maka Nabi Ibrahim adalah jawabannya. Ia mencari Tuhan, saat semua manusia terperangkap ilusi dusta, bahwa Tuhan adalah berhala.

Ia mencari nilai kebenaran, saat manusia menikmati hasrat duniawinya. Bahkan ia tetap dalam kebenaran sekalipun semua manusia, mulai dari raja hingga rakyat biasa, memusuhinya, karena prinsip dan keteguhan hatinya pada apa yang sebenarnya mereka lihat nyata sebagai kebenaran. 

Menarik apa yang dipaparkan dalam Al-Qur’an perihal pencarian Ibrahim terhadap Tuhan. Ia berusaha menemukan Tuhan yang sebenarnya. Maka tidak heran, jika keimanan Nabi Ibrahim adalah keimanan yang kokoh, sebab imannya bukan karena dogma, budaya, ataupun sekedar warisan orangtua. Tetapi iman yang berlandaskan ilmu, yang hadir sebagai buah dari tradisi berpikir.

Pemuda hari ini, perlu membangun kultur berpikir, untuk menyadari hal mendasar apa yang paling penting. Mana yang harus diprioritaskan dan mana yang bisa ditunda dan ditinggalkan. Tidaklah benar, seorang pemuda, hidup hanya untuk bersenang-senang. Menghabiskan waktu untuk menatap layar HP, laptop, iPad, atau pun ber-facebook, bak pecandu narkoba. 

Ingatlah, negeri ini baru saja merdeka setelah 3,5 abad di jajah Belanda. Kemerdekaan ini bukan hadiah, tapi karena pengorbanan peluh dan darah, bahkan nyawa. 

Berpikirlah, bagaimana bangsa ini maju dan mengungguli Belanda yang pernah menjajah kita, mengungguli Eropa yang pernah mempecundangi Asia, bahkan Amerika. Dan, semua hanya persoalan waktu. Apabila kita mau serius berpikr dan benar-benar sibuk mempersiapkan diri untuk kondisi itu, maka tidak ada mimpi yang tidak akan menjadi nyata.

Coba simak aksi pemuda kita di masa pra kemerdekaan. Mereka tidak sekedar mampu berpikir, tetapi bertindak. Melihat realitas bangsa yang majemuk, dengan kultur dan kepercayaan yang tidak sama, sementara cita-cita merdeka telah membuncah dalam dada, segera mereka satukan pemuda dan terjadilah Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928.

Tidak saja itu, jauh sebelum 1928, persatuan enterpreneur muda Indonesia telah bersepakat mendirikan Syarikat Dagang Islam pada 1908. Satu-satunya gerakan muda yang berskala nasional dalam awal sejarah perjuangan menuju kemerdekaan.

Termasuk pada detik-detik kemerdekaan. Para pemuda langsung bertindak mengamankan Soekarno ke Rengasdengklok, untuk sesegera mungkin memproklamasikan kemerdekaan. Hasilnya luar biasa, pemuda telah menjadi generator kemerdekaan di balik proklamasi yang dibacakan oleh Soekarno-Hatta. 

Berkorban
Lantas, apa yang perlu kita korbankan? Yang jelas bukan lagi darah apalagi nyawa, tetapi waktu, tenaga dan pikiran untuk menata kembali bangsa Indonesia ini. Kita sudah tidak perlu mengangkat senjata menghadapi Belanda. Tetapi kita perlu ilmu dan strategi untuk menjadi negara yang terunggul di dunia.

Mungkinkah? Apa yang mustahil bagi pemuda yang berpikir, bertindak, berusaha, dan berdoa? Maka dari itu, sejak sekarang, lakukanlah pengorbanan atas dirimu. Belajarlah dengan tekun, cintailah ilmu sepenuh hati, gemarlah berdiskusi, dan semangatlah dalam aksi-aksi keilmuan dan kemasyarakatan.

Relakan matamu terbangun di tengah malam untuk menyedot spirit dari Tuhan. Paksakan ragamu untuk tenang dalam menuntut ilmu, dan pastikan, pikiranmu nyaman dalam perpustakaan. Lalu, rancanglah sebuah program untuk kemajuan diri dan bangun sebuah gerakan. 

Tanpa pengorbanan itu, berarti kita telah bunuh diri. Karena tidak ada kemuliaan tanpa pengorbanan. Sebagaimana tidak adanya kemerdekaan tanpa perjuangan. Pantas jika kemudian PII mengajari para kadernya untuk tandang ke gelanggang, walau seorang!.

_______
IMAM NAWAWI, penulis adalah seorang kolumnis nasional.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel