Memajukan Pendidikan Bangsa

SIAPA tidak miris melihat bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang terbelakang, hampir di segala bidang kehidupan. Dengan tetangga Malaysia saja, Indonesia sudah sangat ketinggalan.

Jangankan di bidang pendidikan, sains dan teknologi, yang diprediksi banyak analis sebagai sebab banyaknya intelektual Indonesia nyebrang ke negeri orang yang lebih menjanjikan, di bidang olahraga saja, sebut yang terpopuler, sepak bola, Indonesia jauh di bawah Malaysia.

Sepakbola Indonesia berada pada urutan 168. Selain itu, Indonesia juga terlempar dari lima besar Asia Tenggara. Indonesia yang sebelumnya berada di urutan keempat di bawah Thailand, Vietnam dan Filipina, kini harus rela dilompati Malaysia dan Singapura yang peringkat FIFA nya menyalip Indonesia.

Bisa dibayangkan bagaimana kualitas pembangunan manusia di Indonesia. Data dari Badan Pembangunan Perserikatan Bangsa Bangsa (United Nation Development Program, UNDP) menyebutkan bahwa Indeks Pembangunan Manusia atau Human Development Index dari 182 negara, ternyata hanya 0,617. Berarti, Indonesia berada di peringkat 124 dari 187 negara. Peringkat ini jauh tertinggal dari Malaysia yang berada pada posisi 61 dunia dengan angka 0.761.

Lebih jauh peringkat Indonesia juga tercatat berada di bawah rata-rata kawasan negara Asia Timur dan Pasifik, yaitu 0,671. Sementara Indeks Malaysia berada di atasnya. Bahkan, Indonesia tertinggal di hampir semua sektor kehidupan dibanding Malaysia.

Keberanian Pemerintah
Pertanyaannya, apakah penduduk Indonesia memang rendah kualitas intelektualnya atau karena pemerintah belum memberikan perhatian yang semestinya terhadap dunia pendidikan, yang merupakan bidang terdepan dalam pembangunan bangsa dan negara?


Ada tiga dosen Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UIN Jakarta yang meraih penghargaan dari Pusat Pengembangan Sains dan Teknologi (Pusbangsitek) UIN Jakarta dalam kompetisi "Call Research Presentation 2012” pada Senin (29/10/2012), menjadi pertanda bahwa Indonesia tidak kekurangan ilmuwan-ilmuwan yang baik.

Di bidang pemikiran Islam, Indonesia punya banyak sekali putra bangsa yang handal dan berkapasitas internasional. Seperti Dr. Ugi Suharto, Dr. Syamsuddin Arif, yang selain hafidz Qur’an juga menguasai 7 bahasa ilmu dunia, seperti Bahasa Ibrani dan Bahasa Latin.

Kini, mereka semua tidak di Indonesia, karena pemerintah belum secara ilmiah mau memandang mereka sebagai aset negara. Sebagai negeri dengan mayoritas penduduknya beragama Islam, sangat pantas jika negara memanggil mereka untuk menjadikan pendidikan Islam di Indonesia menjadi rujukan dunia.

Kemudian di bidang teknologi, Indonesia punya sederetan nama unggulan yang diakui di luar negeri. Sebut saja di antaranya adalah Dr. Irawan Satriotomo, PhD, yang saat ini menjadi peneliti di Comparative Biosciences Department, Wisconsin University memberikan kuliah tamu di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tentang neurosains yang di Indonesia belum banyak dipahami.

Irawan sempat ke Indonesia ketika menghadiri undangan Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional yang didukung Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) Kementerian Pendidikan Nasional dalam International Summit 2010.

Tetapi sayang sungguh sayang, potensi mereka tidak bisa dimaksimalkan di negeri sendiri. Bahkan banyak kalangan yang hanya bisa berserah kecewa dengan realita itu. Pemerintah, baik melalui Kemenristek atau pun Kemendikbud belum bersungguh-sungguh untuk ‘memulangkan’ putra terbaik bangsa di negeri orang itu.

Jika, pemerintah tidak ‘berani’ memanggil putranya sendiri, lalu kapan Indonesia akan maju? Keberadaan I-4 (Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional) di negeri ini memang sudah bagus. Tetapi bagaimanapun akan sangat bagus jika ilmuwan Indonesia yang tersebar di berbagai negara itu disatukan untuk benar-benar membangun negeri sendiri.

Penghormatan Terhadap Ilmu
Sejarah dengan telanjang telah memberikan bukti bahwa bangsa yang maju adalah bangsa yang handal pendidikannya. Jepang bisa menjadi negara adikuasa di bidang elektro dan otomotif dunia saat ini, karena fokus negeri Sakura itu dalam bidang pendidikan.

Jauh beberapa abad sebelum Jepang, Ahmad Syalabi dalam bukunya “History of Muslim Education” menyatakan bahwa Rasulullah sangat memperhatikan masalah pendidikan.

Ketika umat Islam menang dalam Perang Badar dan mempunyai beberapa tawanan yang memiliki ilmu baca tulis, kepada mereka diberikan jaminan bebas, dengan syarat mentransfer ilmu yang mereka miliki kepada umat Islam, sampai umat Islam mampu baca tulis seperti mereka mampu baca tulis.

Masalahnya saat ini bukan pada tidak adanya pendidikan di negeri ini, tetapi belum adanya penghormatan yang semestinya terhadap ilmu dan tentunya kepada orang berilmu. Di Indonesia, kalangan liberal malah sempat mengutuk MUI dan mengusulkan pembubaran MUI. Padahal, ulama dalam Islam adalah pewaris para nabi.

Di samping itu, negara dengan berbagai macam kebijakannya, masih memposisikan guru jauh di bawah profesi lainnya. Seorang pegawai pajak bisa mendapatkan gaji 10 juta perbulan, sementara seorang guru, apalagi honorer, honor mereka 10 persen di bawah pegawai pajak. Jangankan layak, cukup saja sudah tidak.

Pantas jika minat generasi muda yang bercita-cita menjadi guru terus meredup. Bahkan, jika ada yang menjadi guru, kebanyakan lebih karena keterpaksaan, tidak diterima bekerja di bidang lain. Dan, umumnya hidup dengan keluhan-keluhan finansial. Padahal, semestinya menjadi guru itu adalah panggilan hati, untuk berjuang memajukan bangsa dan negara.

Selama negara tidak memposisikan ahli ilmu sebagaimana mestinya, minimal terhadap para pendidik (guru) di sekolah-sekolah, apalagi masih menganak-tirikan pendidikan Islam, demikian juga seluruh komponen bangsa Indonesia, dan masih keukeuh menggunakan cara pandang yang tidak ilmiah dalam membangun bangsa dan negara ini, maka selama itu, kemajuan bangsa dan negara hanya menjadi utopia belaka.

Generasi terbaik bangsa (para ilmuwan) tetap akan ditarik oleh negara lain dan memberikan potensi mereka yang mampu menghargai ilmunya secara  benar dan adil, meskipun secara biologis mereka adalah putra bangsa Indonesia. Tentu kita tidak boleh memandang ilmuwan itu materialistis, tidak memiliki jiwa nasionalisme, atau tidak berani berjuang untuk bangsa Indonesia.

Mereka pasti mau kembali ke Indonesia, asalkan pemerintah menghargai mereka secara benar dan adil. Karena ilmu tidak bisa tunduk dibawah kehendak politik, apalagi penguasa. Ilmu adalah ilmu, ia menjadi bermanfaat jika diterapkan secara benar tanpa pretensi siapapun.

Itulah mengapa dalam Islam, ulama harus menjadi penyeimbang umara. Jika ulama jongkok di bawah kepentingan umara, maka kehancuranlah hasil akhirnya.

Oleh karena itu, pemerintah dan seluruh stakeholder pendidikan nasional harus membuat program pasti berupa ‘penghormatan’ kepada para guru, sebagai komitmen negara dalam menghormati ilmu, junjung tinggi mereka, hingga mereka bersedia menyerahkan jiwa raganya untuk kebenaran. Dengan cara seperti itu, maka guru, generasi muda, dan intelektual Indonesia akan bangga terhadap negaranya.

Dengan cara seperti itu, maka terealisasilah apa yang diharapkan oleh Rektor UNY, Rochmat Wahab dalam Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia (31/10) lalu di Yogyakarta.

Rochmat mengatakan bahwa pendidikan Indonesia harus mampu melahirkan generasi yang berkarakter; generasi yang religius; bertanggung jawab; cinta Indonesia; berkomitmen atas keutuhan NKRI; menjauhkan diri dari konflik dan tindakan diskriminatif; serta menghargai budaya universal, benar-benar dapat diwujudkan.

Jika semua pihak mendukung dan bersinergis, maka tidak mustahil, tepat satu abad kemerdekaan nanti, bangsa Indonesia benar-benar akan melahirkan Generasi Emas 2045. Generasi yang akan memajukan dan menjayakan bangsa dan negara. Semoga. 


IMAM NAWAWI, penulis adalah kolumnis. 

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel