Gerakan Indonesia Berhijrah


BANGSA Indonesia, sekali lagi bertemu dua momentum besar, meskipun kali ini tidak persis bersinggungan, tetapi sangat dekat makna dan korelasinya. Yaitu momentum Hijrah (Tahun Baru Hijriyah) dan Hari Pahlawan (sepuluh November).

Seperti dalam catatan sebelumnya –Hari Sumpah Pemuda dan Hari Kemerdekaan– yang lebih awal kita alami, kali ini bangsa Indonesia bertemu kembali dengan dua momentum spektakuler dalam sejarah. 

Hari pahlawan pada 67 tahun silam dan peristiwa Hijrah umat Islam pada 14 abad silam adalah dua sejarah penuh inspirasi yang harus diteladani oleh seluruh elemen bangsa Indonesia, utamanya untuk membangun Indonesia masa depan.

Mengingat Hari Pahlawan telah banyak dibahas dalam buku-buku sejarah, kali ini perkenankan saya untuk lebih fokus membahas tentang Hijrah secara filosofis, kaitannya untuk mengambil intisarinya, guna menata diri, menata keluarga, dan tentu lebih luas lagi menata masa depan bangsa.

Tinjauan Sejarah
Secara historis Hijrah dapat dipahami sebagai sebuah gerakan perpindahan manusia yang beragama Islam, yang dipimpin oleh Rasulullah Muhammad SAW, dari Makkah menuju Madinah.

Hijrah itu sendiri terjadi disebabkan oleh berbagai faktor. Pertama, perintah Allah kepada Rasul-Nya. Kedua, sikap intoleransi orang-orang kafir Quraisy terhadap entitas umat Islam, yang dalam banyak peristiwa, seringkali membahayakan jiwa dan raga umat Islam.

Sebagai agama perdamaian, Islam tidak menghendaki pertikaian apalagi peperangan. Maka, demi kedamaian bersama, umat Islam pun –tentu atas bimbingan wahyu– lebih memilih Hijrah ke Madinah. Dengan Hijrah, maka mereka akan hidup aman dan bebas dalam mengekspresikan keyakinan dalam tata kehidupan sosial sehari-hari.

Martin Lings, seorang Sejarawan Inggris dalam bukunya “Muhammad : His Life Based on the Earliest Source” memberikan satu gambaran, mengapa Hijrah sangat perlu dan mendesak bagi umat Islam.

Dikisahkan bahwa Abu Bakar sempat membangun sebuah masjid kecil di depan rumahnya. Masjid itu dikelilingi oleh dinding, namun terbuka ke langit tanpa atap. Ia shalat dan membaca Al-Qur’an di masjid mungilnya itu. 

Tetapi, karena dinding-dindingnya tidak cukup tinggi, aktivitas ibadah yang dilakukan Abu Bakar dapat dilihat dengan mudah oleh orang-orang yang berlalu lalang. Siapapun yang melewatinya, pasti akan melihat, betapa Abu Bakar sangat menghormati Kitab Suci Al-Qur’an. 

Aktivitas Abu Bakar dianggap para pembesar Quraisy sebagai kegiatan ilegal. Oleh karena itu harus segera dihentikan, apapun caranya. Mengetahui penilaian pembesar Quraisy yang sewenang-wenang itu, Abu Bakar tidak bisa terima. 

Akan tetapi, di hari itu juga Rasulullah menemui Abu Bakar dan berkata kepada ayah Aisyah itu, “Aku telah ditunjukkan tempat hijrah kalian. Aku melihat sebuah lahan yang subur, kaya pohon kurma, berada di antara dua jalur batu-batu hitam,” demikian kata Nabi seperti ditulis Lings. Tempat itu tiada lain adalah Yatsrib.

Tinjauan Makna
Karena Hijrah itu adalah perintah Allah, maka Hijrah di sini tidak sekedar berdimensi fisik, berupa pindah tempat belaka. 

Lebih dari itu adalah upaya visional untuk mewujudkan suatu kehidupan yang beradab. Oleh karena itu, Hijrah secara makna berarti mengikuti secara total ketentuan Allah di dalam Al-Qur’an, yang telah dicontohkan oleh Rasulullah.

Dari hal inilah, lahir suatu ketentuan sangat fundamental dalam Islam, bahwa setiap aktivitas, apapun bentuknya, harus diniatkan karena Allah. Tidak boleh ada maksud dan tujuan rendahan lainnya. 

Jadi, secara sederhana, Hijrah ditinjau secara makna berarti niat hati secara total untuk seratus persen mengabdi kepada Allah dengan cara mengikuti secara utuh tauladan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah.

Hijrah Kenegaraan
Berdasarkan paparan di atas, ada banyak nilai, prinsip, metode, dan perspektif yang bisa kita tarik ke dalam konteks kekinian untuk merancang suatu tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik. 

Seperti kita ketahui, bangsa Indonesia hari ini dipenuhi dengan berbagai macam konflik; dari vertikal hingga horizontal; dari ekonomi hingga birokrasi, korupsi dan TKI; dari integritas hingga kualitas; dari bencana alam hingga bencana moral. Semua tertuang di negeri ini.

Semua permasalahan itu, tidak akan bisa diatasi, jika seluruh elemen bangsa tidak melakukan Hijrah Kenegaraan. Yaitu upaya untuk melakukan perubahan paradigma dalam membangun bangsa dan negara.

Logika mana yang bisa menerima fakta ironi di negeri ini. SDA melimpah, posisi geografi bangsa strategis, jumlah penduduk sangat menjanjikan, ketersediaan bahan baku industri, pertanian, peternakan, semua tersedia. Sementara rakyat hidup miskin dan menderita.

Tentu irasional, apalagi jika dibandingkan dengan Singapura, Jepang, dan Korea Selatan, yang semuanya tidak memiliki kekayaan seperti apa yang dimiliki Indonesia. 

Satu-satunya cara untuk membalikkan kondisi irasional kenegaraan kita tiada lain adalah Hijrah Kenegaraan, yang berarti Hijrah Paradigma. 

Terkait Hijrah paradigma ini, saya pernah menulis sebuah artikel Hikmah di Harian Republika yang saya beri judul Visi Muslim, yang akan saya jadikan sebagai akhir dari pembahasan kita kali ini tentang Hijrah. 

Jadi, Hijrah Kenegaraan adalah merubah cara pandang seluruh elemen bangsa dalam upaya bersama membangun negara. Sudah bukan masanya, jika kita ingin menjadi bangsa yang dihormati, melihat jabatan sebagai kehormatan, melihat uang sebagai tujuan, dan melihat kekayaan sebagai ‘Tuhan’.

Cara pandang instan, pragmatis, materialis, dan hedonis itulah yang menjadikan bangsa Indonesia menderita di tengah limpahan kekayaan alamnya. Ingin kaya tanpa kerja, ingin kekuasaan tanpa iman, ingin bahagia tanpa hati, dan ingin maju tanpa ilmu. Jelas, inilah biang kerok kebobrokan bangsa kita.

Lantas, apakah itu mungkin? Masih butuh waktu dan energi untuk mewujudkannya. Tetapi secara pribadi, kita bisa upayakan itu dari sekarang. 

Niat itu harus tertanam sejak sekarang, ingat sejak sekarang, dalam diri kita masing-masing. Maka, siapapun kita, sekaranglah saatnya menjadikan momentum Hijrah untuk berdaya dan berjaya secara halal. 

Visi Bersama
Ketika Rasulullah mempersaudarakan kaum Muhajirin dengan kaum Anshar, Abdurrahman bin Auf dipersaudarakan dengan seorang Anshar yang berkecukupan secara materi, yaitu Saad bin Rabi’.

Sebagai seorang Muslim Saad telah memiliki visi besar yang hendak diraihnya dalam kehidupan dunia akhiratnya. Maka atas dorongan imannya yang membaja, Saad menawarkan separuh dari apa yang dimilikinya kepada Abdurrahman bin Auf.

“Saya memiliki dua rumah dan dua kebun. Jika engkau berkenan saudaraku, ambillah separuh darinya. Saya juga punya dua orang istri, jika engkau berkenan silakan lihat satu di antaranya. Niscaya aku akan menceraikannya untukmu,” demikian tawar Saad bin Rabi’.

Aneh dan sangat mengejutkan, Abdurrahman bin Auf justru mengatakan kepada Saad bin Rabi’ agar ditunjukkan kepadanya lokasi pasar. Ia berkata kepada Saad bin Rabi’, “Tidak saudaraku, aku tidak membutuhkan semua itu. Keberkahan bagi harta dan keluargamu. Tunjukkanlah kepadaku dimana pasar”.

Kisah ini sangat mengagumkan. Bagaimana mungkin ada seorang manusia yang rela memberikan separuh harta yang dimilikinya untuk saudara seimannya. Dan, lebih mengagumkan lagi, bagaimana ada seorang manusia yang mendapat tawaran harta lalu menolaknya dengan penuh kesantunan.

Berbeda dengan saat ini dimana sebagian orang yang kaya memilih hidup kikir dan yang miskin begitu bernafsu mendapatkan bantuan. Bahkan umumnya manusia kini sibuk berlomba-lomba mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Sebagian besar malah tidak peduli lagi dengan cara mendapatkannya; halal haram hantam.

Sebagai seorang Muslim, kisah antara Saad bin Rabi’ dan Abdurrahman bin Auf sangat layak untuk dijadikan bahan renungan guna peningkatan iman dan takwa kepada Allah SWT. Keduanya sama sekali tidak terbelenggu oleh kenikmatan harta dunia. 

Sebagai seorang Muslim yang memulai hidup baru, dimana tidak ada yang dimiliki selain pakaian di badan, Abdurrahman bin Auf memiliki etos kerja yang tangguh. Visinya untuk menjadi seorang Muslim yang paling bermanfaat bagi perjuangan, menjadikannya sebagai seorang pedagang sukses.

Sampai akhirnya dia berhasil menjadi konglomerat. Tetapi karena visi ukhrowinya yang kuat, ia tidak terjebak pada kekayaan yang digenggamnya. Ia berhasil keluar dari jebakan harta dunia yang telah menenggelamkan Qarun, dan menistakan Tsa’labah.

Seolah tidak mau kalah dari Saad bin Rabi’ yang begitu dermawan, ketika ia telah menjadi seorang konglomerat, seluruh harta yang dimilikinya, sepenuhnya disedekahkan untuk perjuangan dan kelangsungan hidup umat. Bahkan Abdurrahman bin Auf telah menyumbangkan 700 ekor unta dan muatannya untuk umat Islam. Suatu peristiwa istimewa yang tentu untuk hari ini sangat langka kita menemukannya.

Siapa yang lebih memilih mencintai harta dunia dari pada mencintai Allah dan Rasul-Nya, maka belum sempurna keimanannya (QS. 3 : 92). Padahal hanya dengan kesempurnaan iman visi seorang Muslim benar-benar akan merealita. Yakni menjadi manusia yang paling bermanfaat bagi yang lainnya. 

Inilah pesan inti dari Hijrah, mari kita renungkan dan upayakan. Masih banyak jalan dan kesempatan, mari kita perjuangkan. Jika bukan kita, siapa lagi?

________
IMAM NAWAWI, penulis adalah kolumnis. 

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel