Menjawab Krisis Multidimensi


PERADABAN modern kini mulai nampak tak berdaya menghadapi problem yang justru ditimbulkan oleh perkembangan sains dan teknologi yang lahir dari rahimnya sendiri. 

Euforia rasionalisme yang menggema sejak abad XVI kini telah mengalami kebuntuan. Seperti kisah dalam cerita kuno, peradaban modern (Peradaban Barat) telah salah menggunakan senjata. Alih-alih memenangkan pertarungan, yang terjadi justru senjata makan tuan.

Situasi itu tidak lain karena masyarakat Barat yang traumatis dengan sejarah kelam mereka di bawah asuhan otoritas Gereja, sehingga tatkala rasionalisme menemukan momentumnya, serentak masyarakat Barat menolak agama, ‘membunuh’ Tuhan, dan tanpa sadar menuhankan diri sendiri (antrophocentrisme). Setidaknya itulah yang digambarkan oleh Ismail Fajrie Alatas dalam bukunya ‘Risalah Konsep Ilmu dalam Islam’.

Kesadaran yang tinggi terhadap potensi intelektual, menjadikan masyarakat Barat kegirangan luar biasa, sehingga terjadilah desakralisasi ilmu pengetahuan yang menjadi awal munculnya arus sekularisme dan liberalisme. 

Dan, gelombang liberalisme itu semakin meninggi ketika Descartes membuat pernyataan, Cogito ergo sum, sebuah pernyataan yang secara gamblang menjadikan Peradaban Modern kian jauh dari Tuhan.

Akibatnya jelas, sains yang berkembang di Barat –sebagai motor penggerak modernisme- kehilangan visi dan misi manusiawinya. Jadi, tidak mengherankan jika semua produk yang dihasilkan oleh sians, juga mengabaikan aspek etika dan moralitas. 

Akhirnya, masyarakat Barat lari dari satu titik esktrim ke tititk ekstrim lainnya. Ketika para saintis dan filosof modernis menyeru umat manusia agar ‘lari’ dari Gereja, sains pada gilirannya menjebak manusia pada pemujaan akal dan menjerumuskan manusia pada pabrik-pabrik dan industri yang tak berhati nurani.

Dimensi-dimensi substantif dalam diri manusia dilenyapkan, sehingga kehadiran manusia tersubordinasikan ke dalam mesin-mesin industri. Manusia di zaman modern ini, kata Van Cleve Morris tak lebih dari sekadar menjadi “sekrup industri”. Di satu sisi manusia dimanjakan oleh sains dan teknologi, dalam memperoleh berbagai kemudahan teknis dan peralatan, tetapi di sisi lain eksistensi dan kehidupan manusia itu sendiri hancur berantakan. Inilah zaman dimana manusia justru kebingungan di tengah kecanggihan peralatan.

Krisis Kehidupan
Dunia saat ini menghadapi suatu krisis yang sangat luar biasa. Suatu krisis yang menurut Firtjof Capra, belum pernah terjadi dalam sejarah peradaban manusia. Krisis yang tidak saja melanda alam semata, tetapi juga merusak nalar, hati, dan manusia itu sendiri. 

Belum ada sejarahnya manusia yang memiliki kemajuan dalam bidang sains tetapi justru tidak mampu menghadapi berbagai macam persoalan kehidupan. Sebut saja, penyakit kanker, penyakit ini jelas ditimbulkan oleh industri makanan dan industri lainnya, tetapi hingga kini, ilmu kedokteran belum benar-benar mampu mengatasinya.

Dalam bidang sosial kemasyarakatan, sudah sedikit rasanya manusia modern yang tidak mengenal ilmu atau pendidikan, tetapi situasi memberikan gambaran terbalik. Di tengah kemajuan teori dan metode pendidikan, sekolah dimana-mana, tetapi manusia kian jauh dari amalan ilmu. Umumnya manusia kian jauh dari berbudi pekerti luhur dan malah bangga dengan segala bentuk pelanggaran dan dosa.

Konsep Solusi
Berdasarkan uraian di atas dapat kita pahami bahwa krisis multidimensi yang melanda kehidupan mansuia modern adalah dampak dari materialisme, sekularisme, dan liberalisme yang terjadi pada masyarakat Barat di akhir abad pertengahan. 

Dengan kata lain, secara konseptual apa yang menjadi landasan, tolok ukur, dan cara pandang peradaban Barat terhadap kehidupan ini tidak mungkin bisa digunakan untuk mengatasi masalah yang amat serius ini.

Satu-satunya alternatif yang sangat mungkin untuk bisa menjawab krisis multidimensi ini adalah dengan kembali membangun semangat wahyu (Al-Qur’an). Al-Qur’an sudah tidak seharusnya dipandang secara salah. Al-Qur’an adalah firman Allah, ia terbuka untuk dibaca, bahkan dikaji dan digali kandungan ilmu dan manfaatnya bagi manusia, termasuk untuk menjawab krisis multidimensi saat ini.

Tentu, ada syarat mutlak untuk dapat mengambil energi besar mukjizat akhir zaman itu, yakin iman. Sangat mustahil seorang intelektual akan memahami Al-Qur’an dengan baik, jika hatinya tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Kecuali ada niat yang kuat untuk benar-benar memahami Al-Qur’an kemudian mengimaninya dengan sepenuh hati.

Krisis multidimensi yang terjadi pada kehidupan kita sekarang, secara historis dapat kita sebut sebagai akumulasi kekeliruan cara pandang umat manusia terhadap Tuhan, ilmu, alam dan manusia itu sendiri. Hal semacam ini telah terpapar dengan sangat detail di dalam Al-Qur’an dan terbukti secara nyata dalam kehidupan kontemporer. 

Umat manusia yang sengaja membangkang aturan Tuhan, padahal dirinya memahami kebenaran dengan sangat gamblang, mereka terseret pada masalah kehidupan yang sangat rumit dan berakhir dengan kenistaan berupa adzab yang pedih. Itulah yang dialami kaum Ad, Tsamud, dan Kaum Fir’aun.

Dengan demikian, jawaban untuk menghadapi krisis multidimensi ini tiada lain adalah dengan menemukan mainstream kebangkitan umat. Hal ini merupakan syarat utama untuk keluar dari kerumitan masalah kehidupan yang membelenggu umat manusia selama lebih dari empat abad ini. 

Dan, jika mengacu pada historisitas kenabian Muhammad saw, maka mainstream kebangkitan itu tiada lain adalah dengan membangun kembali kekuatan akhlak dan ekonomi yang didasarkan sepenuhnya kepada nilai-nilai wahyu, bukan spekulasi filosofis, apalagi elaborasi berbagai macam warisan budaya, nilai, bahkan peradaban lain.

Krisis multidimensi yang melanda kehidupan umat manusia di abad modern ini disebabkan oleh lemahnya akhlak dan kroposnya perekonomian. Meskipun faktor paling mendasar yang mendorong manusia berbuat zalim adalah lemahnya akhlak sebagai konsekuensi dari rapuhnya iman seseorang. 

Namun demikian, faktor ekonomi juga menjadi determinan yang menentukan cara pandang dan pilihan hidup seseorang. Oleh karena itu, menjawab krisis multidimensi ini harus dengan mengangkat program penguatan akhlak dan ekonomi secara beriringan sesuai kaidah Al-Qur'an.

______
*) IMAM NAWAWI, 
penulis adalah kolumnis . Ikuti juga cuitannya di @abuilmia

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel