Iklan

Idul Fitri dan Kecerdasan Intuisi

Admin
Jumat, Agustus 09, 2013 | 23:21 WIB Last Updated 2017-03-17T02:14:36Z
RASANYA singkat sekali. Ramadhan telah berlalu. Kini kita kembali hidup seperti biasa. Tanpa puasa, tanpa buka, dan tanpa sahur.

Tentu ada rasa kehilangan kendati tetap harus bahagia. Namun yang tidak boleh dilupa adalah konsistensi jiwa untuk tetap menjadi insan takwa.

Takwa secara umum berarti mentaati perintah Allah dan menjauhi segala larangannya. Dan, Ramadhan adalah media terbaik untuk meraih derajat takwa.

Tetapi secara spesifik, khususnya yang memiliki relevansi dan korelasi kuat dengan idul fitri, takwa itu adalah bersih hati dan cerdas intuisi.

Bersih hati ini penting untuk dikemukakan karena kebersihan jenis ini kurang dipedulikan. Padahal, kotornya hati adalah sebab awal kerusakan hati yang mengarah pada seluruh jenis kerusakan di muka bumi.

Idul fitri memang berarti hari kemenangan. Tetapi apa sebenarnya yang kita maksud dengan kemenangan.

Jika yang kita pahami tentang kemenanga bukan keberhasilan jiwa raga membersihkan hati, maka yakinlah, kemenangan yang dimaksud bukanlah kemenangan yang benar.

Kita boleh jadi hanya terbawa euforia kemeriahan banyak orang menyambut Hari Lebaran. Terlebih jika di hari lebaran dan perjalanan ke depan raga justru terperosok pada kenikmatan maksiat dan dosa belaka. Jelas kita tak meraih apa-apa selama puasa. Bahkan Idul Fitri pun sejatinya tak memiliki arti bagi hati.

Jika demikian, lantas, apa yang semestinya dipahami dari hakikat Idul Fitri. Tidak ada yang lain kecuali bersihnya hati. Islam merupakan satu-satunya ajaran Ilahiyah yang menekankan pentingnya setiap jiwa memperhatikan kebersihan hati.

Bahkan, amalan sebaik dan semulia apa pun, jika tidak didasari hati yang bersih lagi suci maka semua itu tiada bernilai apa pun di hadapan Ilahi.

Kehadiran Idul Fitri sejatinya bisa diibaratkan sebagai hari pelantikan atau hari wisuda kelulusan studi ruhani. Dimana setiap jiwa disumpah dan dinobatkan sebagai insan sejati yang tidak akan melanggar aturan Ilahi hingga mati.

Jadi, siapa pun yang dalam masa kelulusannya tidak menepati sumpah janji maka bisa dipastikan orang tersebut telah kehilangan hati nurani. Dan, tidak ada bencana lebih besar daripada hilangnya hati nurani.

Perilaku korupsi, manipulasi, dan politisasi adalah wujud paling populer dari kematian hati. Termasuk perilaku mengabaikan seruan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

Lebih jauh lagi, perilaku tidak disiplin, pesimisme, dan apatis adalah bentuk kebodohan diri sebagai akibat dari kematian hati!.

Rehabilitasi
Untuk terbebas dari kotoran hati maka kita mesti mengikuti petunjuk Nabi. Sebab, jika dikaji secara lebih dalam lagi, perilaku Nabi sehari-hari adalah prasyarat sekaligus metode atau thoriqat untuk kebersihan hati.

Oleh karena itu Islam mewajibkan segala sesuatu yang diperlukan bagi kesehatan hati. Seperti; sholat, zakat, puasa dan naik haji. Termasuk gemar membaca Al-Qur'an dan belajar di masjid.

Semua itu jika dipahami adalah fasilitas istimewa Ilahi bagi setiap jiwa yang disediakan bagi manusia yang ingin menggapai ridha Ilahi.

Siapa saja insan beriman yang memahami kewajiban itu secara ilmiah tentu akan muncul kesadaran penuh akan kebutuhan diri yang melihat fasilitas Ilahiyah tersebut sebagai sarana terbaik meraih kebahagiaan yang pasti akan tercapai.

Mengapa, karena semua kewajiban Islam itu adalah media rehabilitasi untuk tetap bergerak dan berorientasi pada kebersihan hati.

Dengan kata lain, jika Idul Fitri gagal menyadarkan diri akan pentingnya membersihkan hati maka esok hari kita pasti lupa akan kasih sayang Ilahi.

Kecerdasan Intuisi
Manfaat terbesar bagi manusia pemburu kebersihan hati adalah diperolehnya kecerdasan intusi. Suatu kecerdasan yang hanya akan dicapai melalui tradisi Nabi dan kebersihan hati.

Intuisi adalah elemen paling dasar dan penting dari seorang manusia. Boleh orang hebat karena intelejensinya tapi ia tetap tak mampu menandingi manusia yang cerdas intuisi.

Orang cerdas intuisi bukan tipe manusia intelek yang terpaku dengan kaidah beprikir rasional empiris. Tetapi tipe manusia yang mampu berpikir logis dan ilmiah, melampaui perolehan data, dan akurasi kesimpulan seluruh jenis penelitian akademisi.

Orang tipe ini adalah mereka yang hari-harinya benar fokus membersihkan hati sehingga terbebas dari jebakan apalagi belenggu pretensi-pretensi materi. Dalam sejarah sosok ini ada pada Imam Ghazali, Muhammad Al-Fatih, dan Sholahudin Al-Ayyubi.

Sesungguhnya negeri ini, diakui atau tidak, sangat membutuhkan manusia yang bersih hati dan cerdas intuisi.

Nah, adakah Idul Fitri tahun ini manusia tipe cerdas intuisi akan hadir di Bumi Pertiwi? Daripada kita menanti tidak pasti, apa salahnya kalau kita tempa diri untuk bersih hati dan cerdas intuisi!

Pertanyaanya, bagaimana kita mewujudkannya. Di akhir bahasan ini saya akan ketengahkan nasehat ahli ilmu Ali bin Abi Thalib yang memberi nasehat penting bagi putranya untuk sukses membersihkan hati dan meraih kecerdasan intuisi;

"Sesungguhnya kekayaan yang paling berharga adalah akal. Kemiskinan yang paling buruk adalah kebodohan. Dan, kesepian yang paling mengerikan adalah ujub. Maka dari itu perhatikanlah tiga hal berikut ini: Jauhi berteman dengan orang bodoh, orang bakhil, dan orang jahat".

Nah, kita tidak mungkin bisa melakukan itu semua manakala hati masih kotor dan jorok. Maka benarlah ajaran Islam yang menekankan ummatnya untuk serius menjaga kebersihan hati.*

________
*) IMAM NAWAWI, penulis adalah kolumnis. Ikuti juga cuitan-cuitannya di @abuilmia
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Idul Fitri dan Kecerdasan Intuisi

Trending Now

Iklan