Membangun Bangsa dan Ironi Mobil Murah

KALAU mau jujur dan pemerintah meminta BPS mendata kerusakan terjadi di negeri ini, mulai yang nampak di darat, laut, dan udara sampai ke dalam jiwa berupa lemahnya integritas, maka daftarnya tak akan cukup termuat di ribuan halaman kertas.

Tetapi, itu tak perlu dilakukan, karena orang biasa pun di negeri ini pasti tahu, bahwa data tentang itu sudah nyata di depan mata. Jadi untuk apalagi membebani Badan Pusat Statistik (BPS) untuk menuliskannya.

Selain itu, tidak sedikit kolumnis, pakar dan juga aktivis dalam negeri yang menyoroti berbagai macam kerusakan di negeri ini.

Indonesia sudah terlampau terjerembab dalam pola pikir modern yang menegasikan Tuhan, sehingga dalam banyak hal, kondisi bangsa Indonesia hari ini dengan setengah abad silam sungguh sangat jauh berbeda. Berbagai macam gelaran mulia untuk rakyat Indonesia yang dahulu dikenal ramah, tertib, sopan dan santun, kini sangat langka dalam realita.

Tidak heran memang, apalagi kalau merujuk pada apa yang disimpulkan oleh George Ritzer dalam bukunya yang sangat tebal tentang Sociological Theory. Menurut guru besar Universitas Maryland itu, dunia modern adalah sangkar besi sistem-sistem rasional yang tidak punya jalan keluar.

Bahkan, Ritzer menyebutkan, dari modernisme melahirkan dua paham yang tidak saja berbeda, tetapi bertentangan, yakni kapitalisme dan sosialisme.

Artinya, modernisme yang diusung Barat adalah sistem berpikir atau sistem rasional yang tidak saja membuat orang lupa kepada jati dirinya, tetapi juga akan semakin bingung dalam menuntaskan masalah yang dialaminya. Pada akhirnya, modernisme akan membawa manusia pada kehancuran tak terkirakan.

Fritjof Capra jauh hari telah membicarakan hal tersebut. Menurutnya, dunia modern adalah dunia gagal dan membingungkan.

Dunia sekarang ini sungguh sangat aneh, para ahli yang seharusnya mahir dan memahami bidang kajian mereka justru sekarang juga tidak lagi mampu menyelesaikan masalah-masalah mendesak yang muncul dalam bidang yang menjadi perhatian mereka.

Ekonom gagal memahami inflasi; onkolog sama sekali bingung tentang penyebab-penyebab kanker; psikiater dikacaukan oleh schizophrenia; demikian juga polisi tidak berdaya menghadapi kejahatan yang terus meningkat. Bahkan, Indonesia yang kaya sumber daya alam ternyata gagal mewujudkan kemakmuran dan keadilan bagi rakyatnya sendiri.

Berawal dari Diri Sendiri
Semua fakta ironi itu diakui oleh seluruh komponen negeri. Tetapi sayang, setiap ironi mengemuka hanya pengamat yang bicara, dimana secara keilmuan, mereka hanya "memaksakan" teori yang mereka kaji sebagai sudut pandang solusi. Padahal, tidaklah demikian sebenarnya yang dibutuhkan.

Negeri ini tidak butuh pengamat, tetapi butuh orang yang siap merubah diri sendiri, yang siap hidup bukan karena gengsi apalagi pretensi.

Disinilah kita mesti sadar dengan sebenar-benarnya bahwa perubahan bangsa ini tidak mungkin bisa diwujudkan kecuali berangkat dari diri sendiri seluruh penduduk negeri ini.

Lebih dari itu, mesti dipahami bahwa perubahan ini butuh waktu dan energi. Oleh karena itu, sebagaimana telah saya tuangkan dalam buku kedua saya tentang perubahan dunia yang berawal dari perubahan diri, setiap generasi muda wajib mengagendakan perubahan diri.

Sungguh, logika aktivis mahasiswa era reformasi tak lagi menjawab tantangan nyata tersebut. Turun ke jalan, aksi ini, aksi itu, mungkin tetap diperlukan, tapi semua itu hanya akan menjadi tradisi bila tidak dikawal dengan agenda perubahan diri.

Tak cukup lagi jargon hanya "sejuta kali turun aksi bagiku satu langkah pasti", tapi dibutuhkan kemantapan berpikir, metode dan sistim gerak yang memastikan perubahan diri menjadi lebih baik di masa depan.

Tidakkah kita perhatikan, bagaimana kejahiliyahan di Arab bisa sirna dengan perubahan diri seorang Muhammad muda. Tidakkah kita perhatikan, bagaimana Islam tumbuh menjadi pioner dalam peradaban ilmu karena perubahan diri para kandidat intelektual muda.

Tidakkah kita perhatikan bagaimana kemerdekaan negeri ini diraih dengan perubahan cara berpikir yang mereka mulai dari diri sendiri, yang kemudian berafiliasi dalam gerakan organisasi.

Perbaikan?
Tentu, semua sepakat bahwa perbaikan negeri ini hanya mungkin terwujud manakala ada perbaikan diri sendiri. Terkait hal ini, ternyata Bapak Sosiologi Dunia, Ibn Khaldun, telah memberikan resep jitu untuk suatu perubahan menuju perbaikan.

Apa saja resep dari pakar ilmu sosial yang menjadi rujukan utama para sosiolog Barat modern itu?.
Pertama, suatu negeri akan mampu melakukan perbaikan diri manakala secara mindset atau cara berpikir, penduduk negerinya sudah tidak lagi tunduk pada bangsa lain.

Sebab, ketundukan cara berpikir kepada bangsa lain tidak saja akan menjadikan negeri yang dihuni terjajah, tapi jiwa yang sebenarnya merdeka akan tertawan bahkan menjadi budak bangsa lain.

Sekarang kita lihat, bagaimana pemerintah rasanya terlihat seperti "sangat bodoh". Beberapa bulan lalu, atas nama subsidi tepat sasaran dan penghematan BBM, pemerintah menaikkan harga BBM. Tetapi, sekarang atas nama rakyat kecil, pemerintah meluncurkan program mobil murah.

Ironisnya, mobil murah itu bukan mobil Esemka seperti yang diharapkan, tetapi mobil produksi luar negeri. Pahitnya, semua menteri, tidak ada yang tidak setuju dengan program LCGC itu.

Kedua, setelah penduduk suatu negeri terbebas dari cara berpikir tunduk kepada bangsa lain, seluruh penduduknya, dari pejabat sampai rakyat harus membangun karakter positif berikut. Seperti yang ditulis oleh Ibn Khaldun dalam pasal 20 kitab monumentalnya, yakni Muqaddimah.

Di antaranya adalah, memupuk sifat dermawan, mudah memaafkan, peduli dengan orang kecil, menghormati dan memuliakan tamu, tetangga dan saudara sebangsa dan setanah air.

Selain itu, juga membangun karakter mulia gemar membantu saudara, memberikan lapangan pekerjaan, sehingga tidak ada pengangguran apalagi kemiskinan dan kebodohan. Kemudian memberikan penghormatan kepadaa kaum intelektual dan ulama, khususnya mereka yang tidak menjual ilmunya demi harta dunia.

Apabila, kedua hal itu tidak dilakukan oleh suatu negeri, maka jangan menyesal bila kehancuran akan datang. Ibn Khaldun secara tegas mengutip ancaman serius dari Allah SWT manakala kedua hal dasar tersebut diabaikan oleh pemimpin suatu negeri:

"Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya" (QS. 7: 16).*

______
IMAM NAWAWI, 
penulis adalah kolumnis. Ikuti juga cuitan-cuitan beliau di @abuilmia

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel