Spirit Kebenaran yang Hilang di Negeri Pertiwi

BUKANLAH tindakan bijak menertawakan negeri sendiri. Tetapi kira-kira demikianlah bangsa asing melihat bangsa kita.

Bagaimana tidak, negeri dengan kekayaan luar biasa ini justru hidup dalam kesemerawutan bahkan kesengsaraan.

Saya rasa orang Indonesia pun mafhum bahwa negerinya tidak kurang apa pun. Tapi, entahlah, mengapa ketidakmampuan menjadi warna dominan dalam kehidupan negerinya sendiri.

Emas kita punya, minyak ada, bahkan batu bara di mana-mana. Tapi urusan listrik saja hingga kini belum semua penduduk bisa menikmati.

Lebih tragis lagi, negeri agraris ini berulang kali mengalami kelangkaan kedelai. Bahkan garam sekalipun negeri ini harus impor. Terakhir, daging sapi pun tak mungkin memadai tanpa impor.

Padahal, segala hal yang dibutuhkan negeri ini jika diseriusi bisa dipenuhi dengan usaha tangan sendiri. Selain itu jika ada kemauan sumber daya insan negeri ini juga cukup bisa diandalkan.

Lima tahun silam saya bertemu dengan dosen Institut Teknologi Surabaya (ITS) DR Abdullah Shahab. Dalam diskusi ringan di kediamannya di Surabaya kala itu, beliau mengatakan bahwa Indonesia sebenarnya sudah tidak butuh sumber daya dari negeri mana pun jika pemerintah benar-benar memiliki kemauan untuk mandiri.

Kesal atau tepatnya buntu dengan kondisi yang terjadi, program acara Kick Andy sempat mengundang putra-putri negeri yang dihargai tinggi di luar negeri. Umumnya mereka harus di luar karena di dalam negeri mereka tak begitu diminati.

Situasi ini sungguh sangat menggelikan. Bagaimana mungkin, Indonesia yang ibaratnya punya banyak senjata, tapi menangkap tikus saja tidak bisa. Bukan tikusnya yang besar, tapi karena penduduk dan pemimpinnya tak punya nyali.

Inilah yang tidak ada di negeri ini. Pepatah China mengatakan "Untuk menembus kepungan musuh, kamu perlu senjata, tetapi yang paling utama, kamu perlu keberanian. Karena keberanian mengalahkan apa pun juga."

Dalam konteks ke-Indonesia-an keberanian apa yang diperlukan? Apalagi jika bukan keberanian berdiri tegak di atas nilai iman dan kebenaran. Seperti apa yang telah diteladankan Nabi Ibrahim yang tidak takut dengan kebencian kaum yang gemar melakukan kejahatan.

Nah, mari kita pikir sejenak. Apa sih yang menghalangi Indonesia menjadi negeri besar dalam agraria dan maritim? Tidak ada selain tidak adanya kemauan dan keberanian. Apa sih yang menghalangi negeri ini tampil terdepan dalam perdagangan? Sekali lagi tidak ada halangan melainkan keengganan dan ketakutan.

Kembali kepada pepatah China lagi, "Prajurit yang bertempur tanpa memikirkan hidupnya untuk menembus situasi berbahaya bisa mengalahkan 10 kali jumlah musuhnya. Dalam hal ini keberanian adalah penentunya."

Jadi, keberanian adalah kunci. Keberanian anak bangsa sendiri untuk melakukan perubahan ke arah lebih baik yang akan menumbuhkan wibawa dan superioritas bangsa ini.

Berani Benar
Kala Firaun mengejar Musa dan kaumnya yang tak berdaya itu bukan karena keberanian. Tetapi keangkuhan. Ketika Kaum Quraisy menentang dakwah Islam, itu bukan keberanian. Tetapi kebodohan yang keterlaluan.

Ketika penjajah Belanda membantai banyak penduduk negeri dengan kekuatan militer yang dimiliki, itu bukan keberanian. Tetapi keserakahan.

Keberanian itu hanyalah kemauan kuat yang diikuti langkah maju dalam soal penegakan iman dan kebenaran. Itulah keberanian Ibrahim membabat berhala kemusyrikan. Itulah keberanian Yusuf memaafkan kejahatan saudara sendiri. Itulah keberanian Nabi Muhammad dalam menyebarluaskan ajaran agama yang menjunjung tinggi keagungan moralitas.

Keberanian inilah yang hari ini diperlukan. Keberanian untuk memajukan petani sendiri, keberanian untuk mengelola SDA sendiri. Keberanian untuk memajukan generasi muda sendiri dan keberanian untuk menjunjung tinggi nilai-nilai iman.

Jika tidak ada keberanian karena kebenaran maka sungguh negeri ini laksana prajurit dengan banyak senjata tetapi tidak berani menggunakannya. Percayalah, cepat atau lambat harimau akan menerkamnya.

Kalau saja pemimpin negeri ini memiliki keberanian bertindak di atas iman dan kebenaran, sepertinya akan lain wajah media massa  negeri ini.

Dan, jika itu terjadi maka kemakmuran sangat mungkin bisa diwujudkan. Karena kemakmuran adalah anak dari keimanan dan kebenaran yang ada di dalam hati serta gerak para pemberani.

Pemberani mustahil salah arah apalagi menyerah. Pemberani tidak mungkin berdusta apalagi durhaka. Bahkan pemberani akan mengubur kepandiran dan kezaliman. Dengan demikian bukan mimpi jika nanti negeri ini akan makmur dan menjadi rujukan banyak negeri di muka bumi.

Jadi, bongkar kedustaan! Buang ketakutan dan sifat pengecut yang mengakibatkan 'kelucuan.' Bangun persaudaraan dan kuatkan keberanian.

Jika kita benar-benar mendamba kemakmuran, keadilan dan kejayaan. Hanya dengan keberanian kecerdasan yang bisa membawa perubahan dan kekayaan bisa mendatangkan kemaslahatan.*

______
IMAM NAWAWI, 
penulis adalah kolumnis. Ikuti juga cuitan-cuitan beliau di @abuilmia

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel