Sejatinya Cinta dan Kisah Wanita Istri Ketiga

PEREMPUAN malang. Enam bulan ia terbaring lemah di bangsal rumah sakit. Seorang diri. Ia meniti masa-masa kritis, di tengah kehamilannya yang pertama.

Bagaimana tidak, minimal sekali sepekan ia mesti menerima donor darah secara rutin. Selama masa 6 bulan itu.

Namanya tertera di papan-papan informasi dan kaca jendela rumah sakit. Berharap derma dari orang baik yang mau berdonor secara sukarela untuk ia dan bayi yang tengah di kandungnya.

Usianya masih belasan tahun. Ia istri ketiga. Semenjak sakitnya, tak pernah sekalipun suaminya menjenguk atau bahkan sekedar menanyakan kabar tentangnya.

Kini, setelah belasan bulan usia anaknya. Ia kembali harus menginap di rumah sakit. Pandangannya gelap. Tak bisa melihat lagi siapa yg berada di sekelilingnya.

Kata dokter, ia mesti di rujuk ke rumah sakit di Makassar. Rumah Sakit di kabupaten tempatnya bermukim, memiliki keterbatasan untuk ketersediaan fasilitas dan obat sakit yang ia dera.

Di tengah perihnya sakit yang ia derita, ibu kandungnya pun tak sudi membesuknya. Ibunya marah karena keputusannya untuk kembali hidup bersama suaminya sekira 3 bulan lalu.

Sedikit memar di pipi kirinya masih samar terlihat. Seakan mewartakan, sengitnya cekcok di rumahnya pada malam pekan-pekan yang lalu.

Malam yang ketika paginya, ia berjalan keluar rumah memegang pundak anaknya yang masih belum tahu apa-apa. Sesekali tangannya terlepas, namun ia berusaha meraihnya kembali. Pandangannya kosong, berlinang air mata.

Kusapa dia. Lalu ia berbelok mengubah haluannya berjalan. Anaknya yang belasan bulan menatapku tanpa kata.

Kusilangkan kaki di depan anaknya, mencegah langkahnya yang setapak lagi menjejak parit depan rumah kontrakan kami yang dalam.

Aku yang menggendong anak kecilku. Lalu berteriak memanggil sang istri yang tengah menyapu di dalam rumah. Aku tak bisa berbuat banyak selain menghadang langkahnya agar ia tak terjatuh bersama anaknya ke dasar parit.

Dalam deritanya, tak sedikit pun ia menyimpan benci dan dendam pada suaminya. Besarnya amarah, sakitnya derita, tak mampu mengaburkan cinta dan kesetiaan untuk suaminya.

Sahabat...

Cinta, sejatinya tak buta. Namun ia mampu membutakan mata hatimu. Menjadikanmu tak mampu untuk memilah benar dan salah.

Ketika kadar cintamu kepada apapun, melebih kadar cinta untuk Tuhanmu. Percayalah, cinta itu tak akan menghadirkan kebaikan bagimu, sedikitpun. (SYAMSUDDIN) 

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel