Tidak Ada Kesadaran Kolektif, Bahaya Gadget Semakin Menyeramkan

BAHAYA gadget tak disangsikan lagi. Dari banyak kasus diketahui gadget telah berdampak luar biasa khususnya kalangan remaja dan anak-anak.

Namun, bukan berarti orangtua tidak terdampak. Sama saja. Semua kalangan tanpa batasan usia tertentu telah terpapar teknologi gadget. Bayi baru lahir sekalipun.

Gadget melampaui perangkat teknologi yang ada sebelumnya. Modelnya yang mini, super-mobile yang fleksibel sehingga bisa dibawa ke mana saja serta memiliki multi-fungsi.

Jika tak segera dibangun satu kesadaran kolektif untuk membendung pengaruhnya, bisa jadi massifnya pengaruh gadget kian tak terbayangkan bahkan boleh jadi semakin mengerikan.

Bukan itu saja, gadget juga berpotensi melahirkan anak-anak idiot. Salah satu qoute dari Albert Einstein, entah benar atau tidak, berbunyi "suatu saat dunia akan punyai generasi idiot". Melihat realitanya, rasanya yang dimaksud Einstein adalah generasi gadget.

Generasi gadget adalah masa dimana orang-orang terjangkit wabah teknologi informasi dan komunikasi. Informasi dan komunikasi yang terjalin bahkan tak jarang melampaui banalitas ditambah tak ada lagi demarkasi yang tegas. Generasi gadget memfestivalkan pertempuran kemutakhiran dan kegaduhan interaksi virtual namun di waktu yang sama terpasung dalam ilusi dan kesendirian.

Lantas, siapa yang bertanggung jawab mengurai persoalan ini dan segera menemukan jalan keluar yang betul-betul konfrehensif? Saya kira, tak jauh-jauh. Kita semua.

Kita semua perlu segera membangun kesadaran kolektif bahwa serangan gadget adalah gejala luar biasa yang tak bisa dibiarkan apalagi hanya disesali. Kita perlu mengambil langkah untuk membendungnya.

Karena itu, saya mendukung dan sangat mengapresiasi langkah-langkah yang dilakukan oleh para pemerhati seperti dilakukan Masyarakat Informasi Teknologi (MIT), salah satunya di Banda Aceh.

MIT mendesak Pemerintah Kota (Pemko) Banda Aceh segera menyosialisasikan tentang bahaya penggunaan gadget anak-anak. Tren gadget yang melanda anak dan remaja di Banda Aceh, dinilai tidak dibarengi dengan pengetahuan yang cukup terkait penggunaannya.

Ketua Masyarakat Informasi Teknologi (MIT) Aceh, Teuku Farhan, seperti dikutip Serambi, Minggu (12/3/2017) gadget yang terhubung dengan internet sangat berbahaya bagi anak dan remaja. Bahaya itu terdapat di dalam media sosial (medsos), browser, serta aplikasi android yang kerap ditempeli iklan tak pantas.

Menurut Farhan, pemerintah harus meningkatkan sosialisi penggunaan gadget kepada siswa, guru, dan orangtua. Sebab, lanjut dia, penyalahgunaan gadget oleh anak sudah terjadi sekarang.

Dia mengingatkan, sosialisasi secara masif itu sangat diperlukan mengingat minimnya pemahaman orang tua dan guru soal perkembangan teknologi saat ini.

Farhan mencontohkan, beberapa waktu lalu seorang ayah dari siswi SMP di Banda Aceh datang menemuinya, untuk menceritakan pengalaman buruk yang menimpa keluarganya.

Tanpa sepengetahuan orangtuanya, siswi itu berselfie dengan pakaian minim, dan foto itu tersebar melalui akun instagram yang dilakukan orang tak dikenal (anonim).

Kekhawatiran MIT dan orang-orang seperti Farhan wajar, sebab, faktanya, kita sudah seringkali menemukan cerita-cerita tragis tentang penyalahgunaan gadget. Persis seperti yang dialami anak gadis dan orangtua di Banda Aceh di atas.

Di masa mendatang saya memprediksi eksistensi gadget terus semakin massif. Akan selalu ada pemuktakhiran perangkat-perangkat canggih bak pisau tajam bermata dua tersebut.

Dan, runyamnya, kondisi itu akan semakin menyeramkan apabila kita sebagai orangtua tak segera bangkit dan menyadari fenomena kekinian ini. Kita harus bersikap dan memutuskan sekarang.

Apakah kita hanya terus diam menyaksikan dan membiarkan anak-anak kita terpasung dalam kuasa gadget, atau kita secara bersama-sama memulai gerakan #HariTanpaGadget untuk masa depan yang lebih menggembirakan. (YACONG B. HALIKE)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel