Mengeksplorasi Keindahan Matantimali Hingga Pantai Talise

TEPUKAN tangan Afiqa membangunkan lelapku beberapa menit tertidur. Ternyata pesawat sudah mendarat di bandara Palu. padahal sebelumnya masih mengikuti proses turunnya ketinggian dan kerlap kerlip lampu di sepanjang Teluk Palu.

Palu sebenarnya adalah tujuan antara sebelum ke Pulo Cinta di Gorontalo. Berhubung tidak ada penerbangan langsung Balikpapan ke Gorontalo, kami memutuskan explore Palu dan Luwuk terlebih dahulu sebelum ke Gorontalo.

Idealnya explore Palu dan sekitarnya adalah 3D2N, tetapi karena penerbangan ke Palu dari Balikpapan semua malam hari dan harus melanjutkan perjalanan ke Luwuk lusanya, maka hanya punya waktu 1 hari full untuk explore Palu.

Sesampai di ruang kedatangan kami langsung koordinasi sama teman di Palu yang akan mengantar keliling Palu.

Dalam perjalanan ke penginapan kami membahas rencana untuk besok pagi, yang jelas kami akan sunrise di spot Matantimali. Yang masih belum jelas apakah si kecil ikut atau tidak, karena harus mulai jalan jam 04.00, berarti bangun sekitar 03.30 WITA.

Akhirnya kita putuskan lihat besok pagi saja, kalau ndak rewel akan kita ajak sekalian.

(Di Palu banyak hotel representative sebagai ibukota provinsi, tapi banyak juga guest house dengan harga sekitar 250.000 yang nyaman dengan AC dan air panas dengan kamar yang luas).

1. Bukit Matantimali


Pukul 03.30 kami sudah bangun. Ternyata Si Kecil mau ikut, toh tetap tidur sepanjang perjalanan. Dalam gelap mobil meliuk liuk mengikuti jalan sempit dan semakin menanjak.

Setelah 1 jam perjalanan sampailah di tempat parkir bukit Matantimali. Sudah ada beberapa mobil dan motor. Sebelum melanjutkan perjalanan kaki sepanjang 200 meter menuju tempat terbaik melihat Palu dari ketinggian, kami shalat subuh di pelataran dekat parkir.

Perjalanan 200 meter yang lumayan berkeringat. Di samping menanjak juga karena menggendong 22 Kg si kecil. Cukup ngos ngosan juga.

Dari tempat ini kita bisa melihat kota Palu dari ketinggian, karena masih cukup gelap maka kerlap kerlip lampu menghiasi sejauh mata memandang mengelilingi Teluk Palu.

Semakin siang lampu lampu tersebut mulai meredup dan berganti dengan kabut tipis yang menyelimuti kota Palu. Sunrise merah membara yang saya harapkan tidak datang, berganti mendung yang menggantung di atas kota Palu.

Bukit Matantimali selain sebagai spot sunrise juga terkenal akan olah raga Paralayang, sering juga di pakai event paralayang tingkat nasional maupun internasional.

Setelah puas menikmati keindahan lembah Palu dan mengambil foto foto, kami putuskan untuk turun. Beda dengan naik di waktu gelap, setelah terang kelihatan jurang dan tebing sepanjang perjalanan yang cukup memanjakan mata.

2. Gong Perdamaian Nusantara
Setelah sarapan dan istirahat sejenak di hotel, kami melanjutkan perjalanan menuju lokasi Gong Perdamaian Nusantara. Hanya butuh waktu sekitar 30 menit menuju lokasi.

Gong Perdamaian Nusantara adalah sebagai simbol perdamaian bagi seluruh Nusantara. Dalam Gong yang terletak di bukit Jabal Nur tersebut terdapat simbol simbol semua kabupaten dan propinsi se Indonesia.

Hebat juga si Kecil bisa menemukan simbol/ tulisan Samarinda di antara ratusan simbol. Puas mengabadikan landscape di sekitar Gong kami melanjutkan ke Donggala tepatnya ke Tanjung Karang untuk main di Pantai dan snorkling.

3. Tanjung Karang
Tanjung Karang dapat ditempuh perjalanan 1 jam dari Palu. Sampai di Tanjung Karang sudah tengah hari. Kami langsung memesan makan dengan seafood yang sangat segar.

Sembari menunggu seafood bakar siap hidang, kami menyewa kapal untuk keliling Tanjung Karang. Kapal dilengkapi kaca di badannya untuk bisa melihat keindahan terumbu karang dan ikan ikan.

Lumayan bagus coral yang ada. Rapat dan terjaga dari kerusakan. Ikan ikan juga banyak, namun pantainya banyak sampah kiriman yang mengganggu pemandangan. Hanya di salah satu resort terbaik yang ada pantainya di bersihkan sehingga nyaman untuk bermain.

Sekitar 30 menit keliling sudah cukup membuat hasrat untuk segera snokling. Selesai menikmati seafood bakar segar, kami langsung snorkling. Lokasi terbaik setelah Prince John Dive Resort, jadi kami jalan kaki dulu sekitar 100 meter.

Berhubung membawa si Kecil, maka untuk snorkling tidak bisa langsung berdua sama istri. Harus gantian menemani si Kecil bermain di pantai karena tidak mau ditinggal sendirian atau bersama guide.

Snokling di Tanjung Karang Donggala ini mirip di Sulamadaha - Ternate atau Olele di Gorontalo. Bisa snorkling langsung dari pantai tanpa perlu naik perahu.

Coral dan ikan cukup baik. Tetapi sayang saat itu agak keruh sehingga sedikit mengurangi keindahan bawah laut Tanjung Karang Donggala. Beruntung pantai di sekitar Prince John bersih dan lembut, sehingga Si kecil puas bermain dan berenang dengan ban monyetnya yang kami bawa dari Samarinda.

Puas snorkling gantian istri yang snorkling di temani guide. Saya menggantikan istri menemani main si Kecil. Sekitar jam 4 kami meninggalkan Tanjung Karang menuju Pusat Laut untuk sunset.

4. Pusat Laut - Pantai Kaluku
Pusat Laut dapat dicapai dari Tanjung Karang sekitar 45 menit. Pusat Laut sejatinya adalah sumur yang cukup lebar dan dalam dengan air laut di dalamnya.

Diameternya perkiraan saya sekitar 10-15 meter dan dalamnya 10 meter dan berjarak sekitar 50 meter dari bibir pantai.

Yang menarik dari Pusat Laut di samping merupakan sumur alami yang besar dan jernih adalah aktivitas anak anak kampung yang sering meloncat dari bibir sumur untuk minta pengunjung melemparkan koin atau uang kecil.

Jika ada yang melemparkan koin, mereka akan meloncat dan berebut sambil menyelam untuk mengambil uang coin tersebut. Sore itu banyak pengunjung yang melemparkan koin ke Pusat Laut, jadi lumayan ramai mereka saling berebut coin.

Di sebelah Pusat Laut ada pantai yang terletak di Selat Makasar. Jadi sangat cocok foto landscape. Walaupun pantainya tidak terlalu luas, tapi pasir putih dan air jernih cukup bisa dipakai bermain, apalagi dilengkapi dengan ayunan yang sementara bisa mengalihkan aktivitas si Kecil daripada mengganggu aktivitas pengambilan foto.

Sayangnya, langit selat Makasar sore itu agak mendung, sehingga sunset dengan langit membara tidak kami dapatkan. Tetapi bermain dengan keluarga di pantai lebih dari cukup pengganti foto sunset yang indah.

Sebenarnya di sebelah pantai Pusat Laut ada pantai Kaluku dengan pantai yang lebih luas. Namun, karena sudah terlalu sore kami tidak ke Pantai Kaluku tetapi menghabiskan waktu sampai matahari benar benar hilang dari pandangan baru kembali ke Palu.

5. Pantai Talise
Kembali ke Palu, jalanan sepanjang Pantai Talise cukup macet. Sebagai pusat hiburan murah meriah malam minggu itu cukup ramai, kami makan malam seafood di sekitar Pantai Talise.

Setelah makan kami putuskan langsung ke hotel berhubung si Kecil sudah booring dan juga perlu packing untuk penerbangan besok pagi jam 07.00 menuju Luwuk. Tetap explore keindahan Indonesia! (ABDUL AZIZ)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel