Cerita tentang Marshmallow dan Membangun Kebiasaan Anak Mengendalikan Diri

ANDA tahu marshmallow? makanan manis yang disukai anak-anak itu, loh! Kalau belum terbayang silahkan Googling dulu, deh.

Makanan manis marshmallow (Source: Pixabay)
Dalam sebuah eksperimen, dikumpulkanlah anak-anak yang masih kecil dan juga lucu. Satu-persatu dari mereka masuk ke dalam laboratorium dan duduk sendirian di dalamnya.

Sesaat setelah mereka duduk, mereka diberikan marshmallow dan dua pilihan:

Pertama, boleh memakannya tapi hanya dapat SATU marshmallow itu saja.

Kedua, menahan diri untuk tidak memakannya dalam beberapa menit, kemudian dia akan dapat DUA marshmallow.

Sebaiknya, anda lihat video ini dulu sebelum meneruskan membaca! (Gunakan earphone atau headset anda yah :)


Udah nontonnya ?

Lanjut!

Dalam eksperimen ini, ada anak yang memakannya langsung dan ada anak yang tidak memakanya (memilih untuk mendapatkan marshmallow lebih banyak).

Apa yang menarik dari penelitian ini adalah, sang peneliti rupanya mengikuti sang anak sampai puluhan tahun hingga sang anak menjadi orang dewasa bahkan sampai berumah tangga.

Hasilnya?

Anak-anak yang mengambil pilihan pertama (memakan marshmallow) terlibat banyak dengan tindakan-tindakan kriminal, perceraian, melanggar aturan di masyarakat, dan tindakan-tindakan meresahkan lainnya pada saat dewasa, dibandingkan anak-anak yang mengambil pilihan kedua (menunda untuk memakan marshmallow).

Kemampuan menahan diri (self-control) sebaiknya diajarkan semenjak dini. Jangan turuti segala yang anak mau. Karena itu tidak melatihnya untuk berpikir (kognitif) dan merasakan (emosi) seperti apa menahan diri.

Self-control itu seperti otot. Semakin sering dilatih, maka ia akan semakin kuat. Jika tidak pernah digunakan, sekalinya dapat beban yang agak berat sang otot tak akan mampu membawanya atau efek sakitnya bisa keseluruh tubuh seperti orang yang baru pertama kali fitness.

Anak hari ini adalah orang dewasa esok hari. Jika hari ini tidak dipersiapkan kemampuan self-controlnya, besar kemungkinan ketika ia dewasa dimana beban hidup menjadi semakin banyak, ia tidak akan mampu menghadapinya.

Nah, pada saat itulah muncul berbagai permasalahan kehidupan, seperti, menjadi orang yang agresif verbal (kata-kata) maupun fisik terhadap anggota keluarganya ataupun orang lain, mudah tersinggung, perselingkungan, tak mampu menahan emosi, dan segudang permasalahan lainnya.

So, mulai hari ini ! Jangan turuti segala kemauan anak, karena itu hanya akan menjerumuskannya ke jurang kenistaan ketika ia menjadi orang dewasa kelak dimana kita tidak mampu lagi untuk mengubahnya!.


IHSAN GUMILAR
Penulis adalah Pakar neuropsikologi syaraf dan pengamat sosial

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel