Hai Ayah Bunda, Berbahagialah dan Tak Perlu Larut dalam Kemarahan

SEKALI waktu, konflik kecil di pagi hari yang tak selesai, sanggup membuat pasangan ayah bunda senewen sepanjang hari. Kerja tidak bisa fokus, karena hati tak tenang dan emosi yang tertahan.

Akibat lanjutannya kemudian, prasangka buruk hadir. Sering salah paham, lupa dengan janji, pekerjaanpun jadi berantakan.

Ilustrasi (source: Pixabay)

Di rumah, bunda sering marah tanpa sebab, kakak uring-uringan dengan adiknya. Semua jadi ‘objek derita’, semua jadi salah. Adakah hal ini sering terjadi dalam keluarga kita?.

Ayah Bunda, sebaiknya tidak menganggap sepele soal ini. Perhatikanlah, bagaimana suasana hati yang buruk, bila dibiarkan berlarut, bisa fatal akibatnya.

Ia seperti virus, yang perlahan menggerogoti keharmonisan keluarga. Bila emosi tak pernah dikelola dengan baik dalam keluarga dan dibiarkan menguasai diri, maka ia bisa menjadi pintu gerbang dan jalan yang mudah bagi setan, untuk membisikkan tipu dayanya.

Selanjutnya bisa ditebak. Tak ada komunikasi dalam rumah, apalagi kehangatan. Masing-masing ‘sibuk’ dengan masalah hatinya. Emosi jiwa terabaikan.

Ayah Bunda, ketika situasi rumah mulai tidak menyenangkan, mungkin karena anda berbeda pendapat dengan pasangan, atau salah satu anak membuat kesal saudaranya yang lain, sehingga mulai terdengar suara keluhan dan emosi. Ada komunikasi yang tersumbat.

Segeralah menyadari, bahwa hal tersebut tak boleh dibiarkan berlarut. Jangan terpancing amarah atau larut dalam kesedihan pasca pertengkaran. Bangkitlah. Ambil kendali situasi, sebelum perilaku buruk lain muncul.

Bukankah Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk menahan amarah?

“Barangsiapa menahan amarah padahal ia mampu melakukannya, pada hari kiamat Allah akan memanggilnya di hadapan seluruh makhluk, kemudian Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari yang ia suka” (Hr. At-Tirmidzi, Abu Dawud dan Ibnu Majah)

Cara mengendalikan amarah hendaklah dengan diam, ucapkan ta’awudz, mengubah posisi (dari berdiri ke duduk, dari duduk ke berbaring), berwudhu, atau shalat 2 rakaat. Kuasai diri, tahan amarah, maafkan dan berbahagialah.

Dalam menyelesaikan perselisihan, Muhammad Rasulullah SAW memberi contoh bagaimana beliau bijak memilih kata-kata.

Ketika Rasulullah SAW membantu perselisihan anaknya, Fatimah, dan Ali bin Abi Thalib, beliau lalu mencari Ali, dan ditemuinya sedang berbaring di atas tanah dengan tubuh penuh debu.

Dengan penuh kelembutan dan kasih sayang beliau mengusap pasir tersebut dari punggung Ali seraya berkata, “Duduklah, wahai Abu Turab! Duduklah, wahai Abu Turab!”.

Nama Abu Turab ini adalah nama yang paling disukai oleh Ali, dan ia bangga bila dipanggil dengan nama itu.

Perhatikanlah, Rasulullah SAW memilih kata-kata yang membesarkan hati, untuk menarik simpati dan memelihara perasaan yang bertikai, sebelum mulai menjelaskan dan menyelesaikan perselisihan.

Bila ingin menasehati salah satu anak anda yang bersalah, dekati dan katakanlah secara pribadi tanpa sepengetahuan saudaranya yang lain.

Rasulullah SAW tidak langsung menyalahkan apabila ada seseorang yang datang ke majelis, lalu melakukan pelanggaran. Beliau menahan diri dan menjelaskan dengan bahasa yang lemah lembut, hingga membuat orang yang bersalah tersebut tidak tersinggung namun memahami nasehatnya.

Karena itu, mari kita berusaha meneladani Rasulullah. Sedapat mungkin, berusahalah menyelesaikan masalah yang terjadi di dalam rumah, sekecil apapun itu.

Bilapun tidak selesai karena waktu yang sempit, cobalah menenangkan situasi dahulu. Lalu, sepakati dan jadwalkan waktu untuk duduk bersama menyelesaikan masalah secara baik-baik.

Jangan biarkan suasana hati yang buruk merenggangkan hubungan antar anggota keluarga. Ayah, adalah pemimpin dalam keluarga. Bundapun, adalah pemimpin dalam mengurus rumah dan
anaknya.

Setiap pemimpin kelak akan dimintai pertanggungjawaban tentang yang dipimpinnya. Tanamkan selalu nilai-nilai agama pada keluarga.

Mari bimbing keluarga agar terbiasa berdzikir, beristighfar, mudah bersyukur, bersabar, tidak mudah berprasangka, agar hati selalu tenang dan lapang, jauh dari semua penyakit hati.

Namun, satu hal yang harus diingat, Ayah Bunda tak bisa melakukan semua itu jika tak pernah ada perhatian kepada anak-anak. Karena perhatian adalah kunci pembuka hati.

Seorang anak yang mendapatkan perhatian cukup dari orangtuanya lebih mudah menerima perintah tanpa merasa dipaksa, karena ia merasa dekat dengan orangtuanya.*

LISDIA PRAMUHASTI

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel