Cemas Penggunaan Internet Anak dan Perlunya Orangtua Melek Teknologi

FENOMENA ledakan teknologi informasi terutama penggunaan internet kian tak terbendung. Indonesia saja menghadapi kenyataan tersebut, apalagi di Eropa yang terbilang lebih maju terutama di Inggris.

Tidak saja semakin tak terbendung, ternyata pemanfaatan teknologi informasi ini pun ternyata juga mencemaskan banyak pihak khsusnya orangtua.

Seperti yang terangkum dalam sebuah survei yang dilakukan oleh situs hiburan anak-anak yang berbasis di London, Inggris, Beano.com. Mereka telah melakukan survei terhadap 2.000 orangtua di Inggris.

Ilustrasi (source: pixabay)

Beano dalam surveinya diketahui, tiga dari empat orangtua tidak percaya internet adalah tempat yang aman untuk anak-anak.

Sementara itu, survei Beano juga menemukan bahwa kurang dari seperempat orangtua yang memikiki anak berusia 6-12 tahun percaya internet aman bagi remaja tanpa pengawasan orang dewasa.

Alhasil, sebagian besar orangtua merasakan khawatir tentang keamanan anak-anak mereka saat berselancar di dunia maya, bahkan saat bersama mereka sekalipun.

Menurut Beano, lebih dari tiga perempat anak-anak atau 76 persen yang berusia 6 tahun memiliki akses ke perangkat berkemampuan internet seperti smartphone. Adapun usia 10 tahun sebesar 92 persen dan usia 12 tahun mencapai 96 persen.

Ketika ditanya siapa yang harus bertanggung jawab untuk memastikan keamanan anak-anak mereka saat menggunakan internet, 95 persen menjawab ada pada diri sendiri, 64 persen mengatakan platform internet seperti Google, 42 persen menyebut pemerintah, dan 42 persen lainnya memilih guru sekolah.

"Enam belas persen menyebut kalau orangtua berharap kakak laki-laki atau perempuannya bisa mengawasi adik-adiknya. Data survei kami juga menemukan bagaimana orangtua mencoba sebagai 'polisi' kepada anak-anak mereka," demikian lansir Beano.com seperti dikutip Dailymail, Senin, 5 Februari 2018.

Tak hanya itu, dalam surveinya, Beano.com juga menemukan bahwa 69 persen anak berusia 6-12 tahun cenderung menggunakan YouTube ketimbang YouTube Kids, platform ramah anak.

Tercatat, 64 persen anak-anak berusia 10 tahun menggunakan YouTube dan 80 persen anak-anak berusia 12 tahun diizinkan untuk menjelajahi platform tanpa pengawasan.

BACA JUGA: Hysterical Parenting dan Pentingnya Orangtua Melek Kepengasuhan Anak

Pada Januari 2018, YouTube mendapat kecaman dari kritik ketika salah satu bintangnya yang paling banyak diikuti, Logan Paul, yang populer di kalangan anak-anak, karena meng-upload video yang menunjukkan mayat korban bunuh diri.

Menanggapi penelitian ini, Parents Helpline Manager YoungMinds, Emma Saddleton mengatakan, internet menawarkan banyak kesempatan yang menakjubkan.

Akan tetapi, penelitian ini menunjukkan betapa mayoritas orangtua khawatir tentang dampak internet yang ditimbulkan pada anak-anak mereka.

"Orangtua tidak bisa menyembunyikan semuanya dari mereka di ranah online. Jadi, yang terpenting adalah lakukan komunikasi dari hati ke hati dan mengajarkan anak tentang internet sejak usia dini," kata Emma.

Tujuannya, ia melanjutkan, adalah menaruh minat pada aplikasi dan permainan yang digunakan anak serta menetapkan batasan yang realistis.

"Apapun itu, penting bagi orangtua untuk tetap terlibat dari apa yang sedang dilakukan anak-anak di ranah online. Dengan meyakinkan mereka kalau komunikasi adalah hal penting, tanpa anak-anak merasa terganggu," jelas Emma.*

ACHMAD SYUQRAN

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel