Mendulang Hikmah Kisah Nelayan dan Seorang Pebisnis, Bacalah Bersama Pasangan

SELALU ada pelajaran berharga dari setiap kejadian. Tinggal tergantung kita bagaimana memaknai perjalanan hidup di dunia ini.

Kepenatan dan kesedihan akan melanda orang-orang yang tak mau membuka hatinya untuk menyambut hikmah kehidupan.

Kita perlu untuk selalu menyadari bahwa hidup ini menyenangkan, namun juga bisa melenakan. Hidup ini menggembirakan tapi bisa juga menestapakan.

Kita boleh saja bersenang-senang sepuasnya tapi jangan sampai terbuai hingga bisa hilang akal. Harus ada proporsi yang ideal antar keduanya. Secukupnya saja. Jangan berlebihan.

Ilustrasi nelayan di lautan lepas (source: Pexels

Kisah berikut ini setidaknya memberikan pelajaran bagi kita bahwa bahagia itu sederhana. Bahagia itu simpel. Bahagia itu adalah kesuksesan sebenarnya. Jika Anda bahagia, Anda telah sukses.

Namun sukses sejati adalah ketika kegembiraan yang kita rasakan bisa meluas sehingga dapat pula dirasakan dan dipetik oleh orang lain tidak saja anak, istri, atau kerabat kita. Mari selalu menyebarkan energi positif tersebut.

Kisah klasik yang berlatar pesisir pantai Brazil ini sebenarnya telah beradar luas di tengah masyarakat dan sudah sering dibagikan ke grup-grup komunikasi gawai seperti WhatsApp dan sebagainya karena mengandung nilai inspirasi yang dalam.

Karena itu, agar bisa direnungi kembali, Parentnial.com kembali menyadurnya yang dikutip dari laman penulis terkenal, Paulo Coelho, dengan beberapa penyuntingan untuk penyesuaian kedisinian. 

Alkisah, ada seorang pebisnis sukses tengah berdiri di tepi pantai dan memandang ke arah laut, ketika seorang nelayan merapatkan perahunya.

Bisnismen itu bertanya: "Berapa lama waktu yang Anda habiskan untuk menangkap ikan sebanyak ini?.

“Tidak lama, cukup 5 jam,” jawab nelayan.

“Mengapa tidak pergi lebih lama lagi dan menangkap lebih banyak lagi,” tanya si pebisnis.

“Ini sudah cukup buat keluargaku," jawa nelayan.

“Apa yang Anda lakukan diluar menangkap ikan?”

“Bermain dengan anak-anakku, tidur siang, makan siang bersama keluargaku, mengantar dan jemput anak ke sekolah, bermain gitar, ngobrol dengan teman-temanku, ya, hidup yang begitu kunikmati”

“Aku punya ide untuk membantumu,” ujar si pebisnis.

“Aku lulusan master dari Amerika. Saranku, habiskan waktumu lebih banyak untuk menanggkap ikan, beli perahu yang lebih besar, dapatkan lebih banyak uang, beli lagi beberapa perahu"

Sang manajer melanjutkan pesannya:

"Jangan jual ikan keperantara. Jual langsung ke pengolahan sampai Anda memiliki pabrik sendiri. Kendalikan produk, distribusi dan produksinya. Setelah itu Anda pindah ke kota besar kemudian ke luar negeri untuk mengembangkan usaha ini”

“Menarik, tapi berapa lama waktu yang dibutuhkan supaya aku bisa seperti itu,” tanya nelayan mulai tertarik.

“Lima belas tahun paling cepat. Dua puluh tahun paling lambat,” jawab si bisnismen.

“Setelah itu pak, Pak,” tanya nelayan.

“Inilah bagian yang paling menarik. Anda bisa menjual saham perusahaan di bursa dan menghasilkan uang miliaran,” jawab sang pebinis.

Wah, miliaran ya. Lalu apa setelah itu Pak?”

“Lalu, Anda bisa istirahat dan pulang ke rumah. Pindah ke desa kecil di tepi laut, memancing, bermain dengan anak-anak, tidur siang, makan bersama istri, mengantar anak ke sekolah, bermain gitar serta ngobrol dengan teman-teman dekat"

"Ohh, kalau tujuan akhirnya cuma itu, sekarang saya sudah mendapatkan apa yang saya inginkan. Kalau menunggu 20 tahun lagi, anak-anak saya sudah besar. Jadi gak mungkin lagi saya bermain dan mengantar mereka ke sekolah," sahut si nelayan sambil meninggalkan pebinis yang kebingungan.

####

Kisah Sang nelayan di atas mengajarkan kita tentang sikap proporsional. Dia menohok kebiasaan umumnya manusia yang begitu sangat ambisius namun tidak realistis.

Lebih dari itu, kisah di atas meneruskan pesan kepada kita sebagai orangtua tentang betapa pentingnya keluarga terutama kebersamaan dengan anak istri.

Sebagai orangtua, jangan sampai kita kehilangan kesempatan penting dalam berinteraksi dengan anak-anak kita di masa usia emasnya.

Sahabat yang mulia hatinya, yuk kembali kepada firtah kemanusiaan kita. Kepada para ayah, ayo kembali ke rumah. Jangan lupa membawa oleh-oleh secukupnya untuk anak dan istri.

Dan, kepada para Bunda yang mulia hatinya, engkaulah wanita terindah yang mengantarkan kebahagiaan itu. Dunia akhirat, Insya Allah.

ABDUL MAATIN

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel