Sejatinya Takkan Ada yang Mampu Merenggut Hati Kita, Tapi...

SEBENARNYA, hati manusia adalah lautan. Jika kita mampu tenggelam di dalam lautan, itu artinya kita tengah menyelami batin. Jika kita mencukupkan di permukaan saja, saat itu sebenarnya kita lalai dari lautan.

Hati kita adalah lautan, hati yang luas dan tak terbatas, namun hati yang dimaksud, bukan hati dalam pemaknaan fisik. Sebab hati adalah jembatan yang terkoneksi dengan samudera. Hati manusia punya ufuk dan keluasannya adalah eksistensial.

Ilustrasi hati nan menawan (source Kaboompics via Pexels)

Segala sesuatu tenggelam di hati manusia, jadi sebenarnya tak kan ada yang mampu merenggut hati kita. Tapi umumnya kita lalai.

Kelalaian kita karena hati begitu terpikat pada permukaan, atau bahkan kita tak tahu lagi siapa diri kita sebenarnya.

Kata Rumi, "Kebun-kebun dan buah-buahan ada di dalam hati manusia, yang nampak di luar hanya fenomenanya fenomena".

G.C Lichtenberg mengatakan, "Tidak ada yang selembut hati dan sekeras hati". Hati sesungguhnya adalah muara dimana manusia menjadi manusia karenanya dan nampak tak layaknya manusia jua karenanya.

Hati itu, kata Rasulullah, bagai segumpal daging yang jasad tak berguna dengan rusaknya pun sebaliknya. Dari An Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ

“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).

Para ulama katakan bahwa walaupun hati (jantung) itu kecil dibandingkan dengan bagian tubuh yang lain, namun baik dan jeleknya jasad tergantung pada hati. (Lihat Syarh Muslim, 11: 29).

Hati punya tingkat sensifitas yang tinggi, dan ia akan menghitam seiring sejalan dengan pemiliknya.

Menjaga hati untuk bisa tetap membimbing pemiliknya pada jalan kebenaran, tak cukup hanya memberi asupan jasadi pada pemiliknya.

Ia harus selalu dijaga dengan doa yang senantiasa diikhtiarkan dan ikhtiar yang senantiasa terdoakan. Sebab hati, senantiasa berada dalam jalur aturan-Nya ia takkan bergeser dan tetap tak bergeming kecuali dengan kalimat "kun-Nya".

Sebab hati, kata Rasulullah,

إِنَّ الْقُلُوبَ بِيَدِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ يُقَلِّبُهَا

“Sesungguhnya hati berada di tangan Allah ‘azza wa jalla, Allah yang membolak-balikkannya.” (HR. Ahmad 3: 257. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini qowiy atau kuat sesuai syarat Muslim).

Karenanya, yang sering Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– minta dalam doanya adalah agar hatinya terus dijaga dalam kebaikan. Beliau sering berdoa,

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

“(Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).”

Ummu Salamah pernah menanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kenapa doa tersebut yang sering beliau baca. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya menjawab,

يَا أُمَّ سَلَمَةَ إِنَّهُ لَيْسَ آدَمِىٌّ إِلاَّ وَقَلْبُهُ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ فَمَنْ شَاءَ أَقَامَ وَمَنْ شَاءَ أَزَاغَ

“Wahai Ummu Salamah, yang namanya hati manusia selalu berada di antara jari-jemari Allah. Siapa saja yang Allah kehendaki, maka Allah akan berikan keteguhan dalam iman. Namun siapa saja yang dikehendaki, Allah pun bisa menyesatkannya.” (HR. Tirmidzi no. 3522. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Semoga setiap langkah kita senantiasa berada di atas kebaikan, dan semoga hati ini tetap berada pada kebaikan yang benar dan sebenar-benarnya kebaikan.

Mulialah Al Hasan Al Bashri rahimahullah yang mengatakan seperti berikut ini:

“Aku tidaklah memandang dengan pandanganku, tidak pula mengucap dengan lisanku, begitu pula tidak menyentuh dengan tanganku, dan tidak bangkit untuk melangkahkan kakiku melainkan aku melihat terlebih dahulu apakah ini semua dilakukan karena ketaatan ataukah maksiat. Jika dalam ketaatan, barulah aku mulai bergerak. Jika dalam maksiat, aku pun enggan.” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 213).

NASER MUHAMMAD
Kaltara, 15 Februari 2018

Referensi

Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar Ihya’ At Turots, cetakan kedua, 1392 H.

Al Minhah Ar Robbaniyah fii Syarh Al Arba’in An Nawawiyah, Syaikh Dr. Sholih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al Fauzan, terbitan Darul ‘Ashimah, cetakan pertama, tahun 1429 H.
Syarh Al Bukhari, Ibnu Batthol, Asy Syamilah

Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al Hambali, tahqiq Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan Ibrahim Bajis, terbitan Muassasah Ar Risalah,cetakan kedelapan, tahun 1419 H.

Syarh Al Arba’in An Nawawiyah Al Mukhtashor, Syaikh Dr. Sa’ad bin Nashir Asy Syatsri, terbitan Dar Kunuz Isybiliya, cetakan pertama, tahun 1431 H.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel