Hai Para Suami, Ketahuilah Istrimu Sering Stres itu karena Ulahmu

MENJADI orangtua itu memang tidak mudah. Bukan hanya Anda bertanggung jawab untuk diri sendiri tetapi untuk orang lain.

Tuntutan untuk memberikan kehidupan terbaik bagi anak-anak Anda baik secara finansial, fisik, dan psikologis, adalah serangkaian aktifitas yang rumit dan seringkali menimbulkan stres.

Ilustrasi:/ pxhere

Sebuah survei terhadap lebih dari tujuh ribu ibu Amerika menanyakan bagaimana mereka menilai tingkat stres mereka pada skala 0-10 (sepuluh menjadi jumlah stres tertinggi).

Tanggapan rata-rata mereka adalah 8,5. Temuan nilai tersebut barangkali tidak mengejutkan. Namun, yang menarik, adalah ketika ditanya sumber stres terbesar mereka, hampir separuh ibu menjawab: suami mereka.

Tidak sedikit yang beranggapan bahwa wanita kerap stres karena disebabkan oleh ulah anak-anak mereka. Namun, dalam riset ini, yang tentu ada antisesisnya, menekankan penyebab stres itu justru karena "ulah" sang suami.

Dalam penelitian itu dilakukan pemetaan. Dalam konteks kehidupan keluarga, sumber-sumber stres berbeda di antara ibu, ayah, dan anak-anak.

Sumber utama stres para ibu yang disurvei ini, sebagaimana dikutip dari penelitian Today dan dilansir Daily Health Post, adalah sebagai berikut:

  1. Tidak cukup waktu setiap hari untuk menyelesaikan semua hal yang perlu dilakukan
  2. Tanggung jawab untuk sebagian besar tugas sebagai orangtua dan rumah tangga.
  3. Bantuan yang tidak memadai dari pasangan mereka.
  4. Para ibu tunggal/ single mothers (dapat dimengerti) mengalami tingkat stres tertinggi, karena mereka tidak mendapat dukungan harian dari pasangan.

Penekan ini didasarkan pada pengalaman umum ibu di dunia industri: umumnya, ibu melakukan dua kali lebih banyak pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan sebagai ayah.

Statistik ini harus dipertimbangkan bersama dengan fakta bahwa banyak wanita lebih suka melakukan beberapa tugas tersebut karena mereka lebih bahagia dengan hasilnya daripada jika pasangan mereka melakukannya (misalnya, mencuci pakaian, membersihkan kamar mandi).

Penelitian tersebut memberi pelajaran penting khususnya bagi para orangtua untuk selalu menjalin hubungan yang harmonis dan pentingnya kesalingpahaman.

Untuk menjadi orangtua yang sukses di rumah yang nyaman, ibu dan ayah harus mengelola hubungan mereka satu sama lain dan dengan setiap anak secara bersamaan; mengabaikan satu dan yang lainnya akan sangat menderita.

Selain itu, ketika ibu dan ayah tidak setuju dengan masalah dalam satu pola pengasuhan, maka ini juga rentan mengganggu hubungan keseharian.

Perbedaan dalam cara pria dan wanita memandang pola asuh dan stres yang menyertainya sebagian besar adalah hasil dari pengasuhan tetapi yang lebih bertanggung jawab adalah komposisi dan struktur otak.

Namun riset tersebut tidak sepenuhnya tepat bahwa ulah suami selalu menyebalkan sehingga selalu menjadi biang kerok atas tekanan yang kemudian dialami sang istri. Suami buruk memang ada, tapi yang baik jauh lebih banyak.

Karena itu, menjadi tak elok apabila antar pasangan saling menyalahkan. Adu mulut hingga saling menjatuhkan martabat satu sama lain. Ketimbang saling menjatuhkan, kenapa tidak saling memaduh kasih. Ini lebih menentramkan.

Singkat kata, egoisme adalah benalu yang merusak. Dikala pasangan saling menonjolkan ego masing-masing, maka salah satunya pasti menjadi arang dan yang lainnya menjadi abu. Artinya, keduanya sama-sama tak dewasa dan ini naif.

Mari membangun kebersamaan, Jauhi saling merasa lebih hebat. Suami memang kuat secara fisik, namun alangkah indahnya jika memperlakukan istri layaknya seorang ratu. Istri pun demikian. Menghormati suami dan memuliakannya sebagai pemimpin dalam keluarga. 

FAHRI BAABDUH

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel