Berhati-hatilah dengan Mimpi!

KITA harus punya mimpi atau cita-cita yang menjadi obsesi besar kita. Berani bermimpi berarti berani sukses. Maka, bermimpilah yang besar-besar.

Jangan bermimpi yang standar. Tapi ingat, kita pun harus berhati-hati dengan harapan kita. Sebab seringkali mimpi yang disertai keyakinan nyaris tak pernah meleset.

Kalau mimpi kita jelek, maka akan jelek pula yang dicapai. Jika mimpi kita indah, maka yang itu pulalah yang tersemai. Di awal ada pesan jangan bermimpi yang rendah-rendah. Peganglah kata pepatah, “Gantungkan cita-citamu setinggi langit”.

Kalau mimpi kita standar saja, maka kita akan sampai pada posisi yang standar itu saja sebagaimana obsesi kita. Jangan pernah berobsesi yang kecil-kecil.

Seorang kawan saya pernah mengisahkan perjalanannya dalam menuntut ilmu. Di saat SMP dulu, dia bercita-cita melanjutkan pendidikan tingginya di sebuah universitas termuka di Kota Bogor.

Saking terobsesinya dia, keinginannya itu ia tulis bagus-bagus di buku catatan hariannya. Beberapa tahun kemudian, persis ketika ia tengah kuliah di kampus yang diidamkannya itu, ia menemukan catatan yang pernah ditulisnya tersebut.

Kawan saya ini bahkan tak pernah menduga kalau harapannya itu benar-benar telah tergapai sekarang. Kini ia berencana melanjutkan pendidikan doktoralnya di sana jika masih diberi umur panjang.

Pada dasarnya dia hanya yakin apa yang dia tulis, meyakini apa yang ia idamkan, dan sentiasa mengasah diri untuk sampai ke tujuan yang telah dia impikan. Dan terbukti, mimpi itu nyata.

Namun yang tak boleh dilupakan, mimpi tak akan pernah menjadi kenyataan jika memang hanya sebatas mimpi atau khayalan semata.

Kita harus memiliki mimpi, bahkan bermimpi setinggi langit, tapi kita juga harus realistis yang disertai keberanian berbuat untuk menggapai obsesi-obsesi besar kita.

Kita mesti bersabar dalam menjalani usaha-usaha menggapai mimpi. Tidak mudah menyerah dan senantiasa berjiwa besar. Penemu bola lampu, Thomas Alva Edison, saja butuh ratusan kali percobaan untuk menghasilkan temuan yang mencengangkan dunia.

Sahabat Nabi Muhammad SAW yang bernama Abdurrahman bin Auf harus turun langsung survei dan berjualan ke pasar-pasar untuk menjadi pedagang besar.

Chairul Tanjung, pemilik grup holding Trans Corp konon pernah berjualan es lilin keliling kampus saat SMP. Sebelum seperti sekarang, Chairul juga pernah tertatih-tatih berjualan buku kuliah stensilan, kaos, dan buka foto kopian di kampusnya.

Masih banyak contoh yang lain. Intinya, orang besar sudah pasti lahir dari usaha yang juga besar. Mereka melakukan pekerjaan meski terlihat sepele dengan landasan jiwa besar dan keyakinan yang mantap.

Itulah etos kerja profetik yang mungkin mulai dilupakan, yakni etos kerja yang berangkat dari semangat jiwa besar untuk melayani, memberi, berbagi, dan tak terlalu risau seberapa besar hasil yang akan didapatkan kemudian. (YACONG B HALIKE)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel