Menjernihkan Makna Politik

TEMA politik cenderung dipahami secara salah, sebagian malah apriori. Tidak saja oleh mereka yang awam, sebagian kelompok terdidik pun tak sudi dengan politik.

Di dalam negeri, politik berwajah sangat buruk. Hal ini tidak lepas dari sikap pragmatisme partai politik yang merupakan rumah besar para politisi.

Selain itu, secara empiris, sejak merdeka, politik belum benar-benar mampu mewujudkan kesejahteraan bagi rakyat.

Situasi semakin memburuk tatkala parpol lebih enjoy dengan kader karbitan dari kalangan artis yang sebagian besar tidak begitu memahami apa itu politik.

Begitulah sebagian masyarakat memahami politik. Belum lagi kalau melihat ulah sebagian politisi dewasa ini, yang bertingkah layaknya anak ingusan dan sering cengengesan serta sangat plin-plan. Berdasi tapi tak bernyali, berbicara tanpa hati, dan berpolitik secara licik.

Hidup adalah Politik
Tetapi, menjauhi politik karena beberapa alasan seperti diuraikan di atas, bukanlah langkah solutif yang perlu dilestarikan. Karena pada hakikatnya hidup ini adalah politik.

Demikian disampaikan oleh mantan ketua MK, Mahfudz MD dalam diskusi "Membangun Integritas Bangsa" di Masjid Agung Ar-Riyadh Balikpapan, Juni lalu (23/6).

Politik itu tidak terbatas pada masalah partai politik. Politik itu meliputi segala hal yang mengatur kehidupan kita dalam berbangsa dan bernegara. Seperti masalah pendidikan, sosial-keagamaan dan lain sebagainya.

Jadi, tidak masuk partai politik, bukan berarti tidak berpolitik. Karena politik secara asli bermakna policy (kebijakan). Jadi, setiap upaya yang mengarah pada diberlakukannya sebuah kebijakan, berarti itu sudah politik.

Sebagai warga negara, tentu kita memiliki aspirasi yang ingin kita sampaikan atau perjuangkan untuk diakui oleh negara. Di sinilah terbuka ruang luas bagi siapapun untuk memainkan peran politiknya
secara konstitusional.

Jadi, jangan sampai kita terkecoh oleh ulah politisi yang merusak pengertian politik, sehingga tanpa klarifikasi, kita ikut-ikutan membenci politik.

Sebab, pada dasarnya politik adalah ilmu, dimana kehadiran manusia yang beriman, bertakwa sangat dinantikan untuk kembali menjernihkan makna politik yang sesungguhnya.

Kita mendamba praktik politik yang jernih sebagaimana politik di tangan Nabi Muhammad, Umar bin Khattab, Umar bin Abdul Aziz, Sholahuddin Al-Ayyubi, Muhammad Al-Fatih dan yang lainnya.

Belajar Politik
Kita mungkin bertanya, mengapa di Indonesia banyak sekali produk-produk luar negeri? Sementara itu, produk dalam negeri sangat sedikit.

Selain itu kita pasti pernah bertanya, mengapa harga BBM naik terus? Mengapa pendidikan susah? Dan, mengapa kriminalitas kian bebas?

Semua itu adalah buah politik. Oleh karena itu, kepada rekan-rekan muda, belajar politik sangat perlu untuk membekali diri kita pada kepedulian hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Kalau tidak, maka politik di negeri ini akan semakin merepotkan kehidupan kita sendiri. Beberapa catatan saya di laman tersayang ini sudah menjelaskan bahwa betapa banyak masalah politik yang mengancam eksistensi bangsa dan negara.

Seiring dengan bertemunya kita dengan Bulan Suci Ramadhan, yuk kita belajar politik sembari memperkuat ibadah penuh kesungguhan. Apalagi, secara historis, bangsa kita merdeka juga di Bulan Suci Ramadhan.

Jadi, selain sebagai seribu bulan. Bagi bangsa kita Ramadhan sejatinya adalah gerbang berpolitik bangsa dan negara. Bulan penataan hati, diri, keluarga, politik, bangsa dan negara.*

________
*) IMAM NAWAWI, penulis adalah kolumnis. Ikuti juga cuitan-cuitannya di @abuilmia

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel