Mengapa Tetap Berhijab Walaupun di Antara Sesama Wanita

Foto by By Abed Awad/ CNN.com

“MBAK, kenapa sih jilbabnya nggak dibuka? Sesama perempuan aja, lho.”

“Udahlah, biasa aja. Kita ‘kan sama-sama perempuan. Ngapain pakai malu-malu segala.”

Kalimat-kalimat semacam itu mungkin akan sering mampir di telinga ketika seseorang memilih untuk tetap menutup auratnya di hadapan sesama muslimah.

Baik yang masih ada keterikatan keluarga ataupun rekan ketika berada dalam kondisi santai, rehat dan sejenisnya.

Bagi beberapa muslimah, mungkin bisa saja nyaman melepas penutup auratnya ketika berada di ruangan tertutup bersama muslimah lainnya.

Namun, hal tersebut bisa saja menimbulkan kecanggungan bagi sebagian muslimah lainnya. Lalu bagaimana sebenarnya?

وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ

“Dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya) kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara lelaki mereka, atau putra-putra saudara lelaki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau perempuan-perempuan (sesama islam )." (Annur: 31)

Memang benar bahwa dalam ayat tersebut, disampaikan bahwa boleh menampakkan aurat kepada sesama muslimah dengan batasan tertentu.

Menurut jumhur fuqaha (mayoritas ulama) dari madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali menyepakati bahwa batas-batasnya sama seperti batas  aurat antara lelaki dan lelaki.

Hal tersebut sebagaimana disebutkan oleh Imam Al Kasani (Hanafi) dalam kitabnya Badai’ As Shonai’,  Imam Ar Ruaini (Maliki) dalam Mawahibul Jalil, Imam As Syirbini (syafi’i) dalam kitabnya Mughni Al Muhtaj, dan Ibnu Qudamah (Hanbali) dalam Al Mughni.

Namun, ada banyak alasan lain yang lebih memungkinkan muslimah menjaga auratnya sekalipun di hadapan muslimah lain. Terutama adalah menjaganya dari fitnah.

Sebab, perempuan rentan tergoda untuk membicarakan banyak hal. Maka dikhawatirkan aurat dalam makna khusus ataupun dalam makna luas, dapat menimbulkan fitnah. Baik bagi yang memandang maupun yang dipandang.

Nabi Muhammad telah bersabda dalam hadits Abu Said Al-Khudri:

“Seorang laki-laki tidak boleh melihat aurat laki-laki yang lain dan seorang wanita tidak boleh melihat aurat wanita yang lain. Tidak boleh pula seorang laki-laki berkumpul dalam satu kain dengan laki-laki yang lain (sehingga kulit mereka saling bersentuhan, pen). Demikian pula wanita tidak boleh berkumpul dengan wanita lain dalam satu kain.” (Shahih HR. Muslim no. 338)

Berikut beberapa penjelasan hal yang dapat menjadi alasan mengapa muslimah harus menjaga auratnya bahkan di hadapan sesama muslimah:

1. Menghindari fitnah
Beberapa kasus yang menerpa beberapa keluarga muslimah, percekcokan bisa terjadi berawal dari tampaknya aurat oleh sesama muslimah.

Misalnya, Si A yang melihat Si B dengan rambut yang lebih bagus, atau kulit yang lebih putih, akan timbul rasa iri dalam dirinya sebab minder ketika sama-sama tampak auratnya.

Akhirnya apapun dilakukan untuk membuatnya nampak lebih dibandingkan si B.
Lain halnya dengan si C yang melihat si D memiliki banyak kekurangan darinya, akhirnya timbul bangga dalam hatinya.

Ingin dipuji bahwa ada perbandingan yang kurang darinya. Akhirnya tergodalah untuk bercerita pada suaminya. Bahwa si D ternyata seperti ini dan itu.

Suami yang awalnya tidak pernah membayangkan wanita lain selain istrinya, setelah itu timbullah prasangka dalam hatinya. Terlebih ketika berpapasan dengan si D. Benarkah ada jerawat besar di dahinya? Benarkah kakinya berbentuk O?

Ini baru suami. Bagaimana ketika tergoda untuk bercerita kepada sesama wanita? Bisa dibayangkan pergunjingan panas bahwa si A begini si B begitu si C bagaimana dan seterusnya. Sebab lisan sangat sulit dijaga. Karenanya, sebaiknya tidak memancing lidah untuk bersilat.

“Janganlah seorang wanita bergaul dengan wanita lain kemudian ia mensifatkan (menceritakan gambaran) wanita tersebut kepada suaminya seakan-akan suaminya dapat melihat wanita tersebut.” (HR. Al-Bukhari)

2. Menutup pintu-pintu setan
Kasus LGBT tengah marak dibahas di sana sini. Pro dan kontra jelas bak api yang berlomba melalap apapun untuk menjadi semakin besar dan terlihat.

Segala lini kehidupan telah dirasuki hingga perlu penanganan khusus mengenai hal ini. Al-Qur’an dan hadits jelas telah memberikan larangan dan ultimatum pencegahan mengenai hal ini. Bahwa manusia hidup berpasang-pasangan, laki-laki dan perempuan.

Perlu diperhatikan dengan seksama, bahwa bisa saja tampaknya aurat kepada sesama jenis, memancing pelakunya untuk tenggelam dalam pusaran tersebut.

Dari melihat, kemudian kagum, dan tanpa sadar ia telah keluar dari fitrah dan menyukai sesamanya. Sebab tubuh, secara biologis tentu jauh lebih dulu dapat memikat dibandingkan faktor psikologis seperti sifat, dan tingkah laku seseorang.

Coba saja bertanya pada orang di sekeliling kita, hal apa yang dapat menimbulkan ketertarikan terlebih dahulu?

Sedari kecil, perlulah kita dibiasakan untuk menjaga aurat. Bahkan di hadapan sesama jenis. Sebab syaitan selalu memiliki celah untuk menggoda manusia.

3. Menjaga kesucian jiwa
Aurat adalah rahasia atau tabir diri yang akan lebih bijak bila hanya ditampakkan pada dia yang berhak. Dalam hal ini adalah suami.

Sesama muslimah dan bahkan mahram, ditampakkan aurat perempuan sekalipun hanya pada batasan yang semestinya, walau bagaimanapun dapat menimbulkan banyak kemudhratan.

Benteng kesucian jiwa tentu dapat runtuh akibat gempa kecil. Manusia takkan pernah dapat luput dari khilaf. Ayah kandung atau ibu kandung bahkan bisa jadi sasaran tindak asusila. Saudara sekandung lawan jenis, bahkan sesama jenis juga tidak luput dari godaan.

Sifat iri dengki, hilang kesyukuran, takabbur, sombong, berbangga diri, dan sifat tak terpuji lainnya bisa saja hadir tanpa disadari. Sebab setiap orang diciptakan berbeda.

Semakin tersembunyi aurat, diharapkan semakin menutup rapat sucinya jiwa dan bersihnya hati agar sama-sama tidak mengotori dan tidak terkotori oleh persoalan yang berawal pada masalah aurat.

Maka cukuplah kita bersandar pada hadits Nabi SAW:

“Tidak boleh seseorang pria melihat aurat pria lainnya, dan tidak boleh seorang wanita melihat aurat wanita lainnya.” [Hadits shahih. Riwayat Muslim (no. 338), Abu Dawud (no. 3392 dan 4018), Tirmidzi (no. 2793), Ahmad (no. 11207) dan Ibnu Majah (no. 661), dari Abu Sa'id Al-Khudriy radhiyallahu 'anhu]

Semoga Allah berkenan menjaga, membentengi aurat dan aib kita agar terhindar dari berbagai tipu daya syaitan yang terkutuk. Aamiin. (RIZKY N. DYAH)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel