Tradisi Menuntut Ilmu di Tengah Arus Teknologi Informasi

Ilustrasi teknologi informasi (Google)

BAGI
yang mengenal internet sejak awal tahun 2000-an, pasti sudah akrab dengan suara modem berderit-derit, menunggu beberapa menit untuk bisa tersambung ke server.

Di zaman sekarang ini, terlebih yang tinggal di daerah yang sudah dijangkau jaringan internet, informasi yang diinginkan bisa dengan cepat muncul di depan mata hanya dengan sapuan dan ketukan jari.

Begitu derasnya arus informasi yang diterima, membuat kita "tahu" banyak hal. Mendadak kita menjadi ahli dari profesi apa saja.

Mau jadi koki, tinggal cari video atau resep. Mau jadi dokter, tinggal buka situs-situs konsultasi kedokteran. Yang lebih miris, menjadi "ulama" pun mudah sekali, hanya dengan salin tempel artikel islami di jejaring sosial.

Memang betul, informasi yang disampaikan bisa jadi tidak salah sama sekali. Tapi jika Anda benar-benar ingin tahu resep masakan tersebut terbukti enak, Anda harus mempraktikkannya.

Atau agar tidak salah diagnosa, Anda harus bertatap muka dengan dokter. Pun begitu juga dengan permasalahan fiqih yang rumit, Anda harus menemui seorang ustadz yang memiliki kapasitas keilmuan terkait dengan masalah Anda.

Banyak dari kita yang tergesa-gesa dalam membagikan suatu informasi atau bertindak seperti kita sudah tahu, padahal belum paham atau bahkan tidak yakin sumber tulisan yang dibagikan dapat dipertanggungjawabkan.

Syeikh Al-Albani mengatakan, "Masalah dengan para pemuda saat ini adalah, begitu mereka telah belajar sesuatu yang baru, mereka mengira bahwa mereka tahu segalanya".

Tampaknya tidak hanya para pemuda saja, karena era digital tidak memandang usia. Perlu kita sadari bahwa suatu ilmu, apapun itu, didapatkan dari proses yang tidak sebentar.

Orang yang memiliki pengetahuan yang luas sekalipun, pasti hanya tahu sedikit atau bahkan sama sekali awam, tentang hal lainnya. Allah berfirman,

"Kami tinggikan derajat orang yang Kami kehendaki; di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu, ada lagi Yang Maha Mengetahui.​" (QS. Yusuf: 76)

Patutnya kita merasa malu, jika bangga hanya dengan berbekal Google, sampai-sampai saling berdebat di sosmed bahkan enggan merasakan pahitnya menuntut ilmu demi mempertahankan ego, bukan kebenaran hakiki.

Keinginan mempertahankan ego inilah yang seringkali membuat pandangan kita mengabur ketika melihat kebenaran.

Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, "Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain" (Muslim)

Semoga Allah menjauhkan diri kita dari sifat sombong, memberikan kepada kita ilmu yang bermanfaat dan kekuatan untuk mengamalkannya.

______
KARIN, penulis adalah pegiat komunitas menulis PENA Malika Depok

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel