Menjadi "Kepala Sekolah" PAUD di Rumah dan Pentingnya Ibu Cerewet

PENDIDIKAN Anak Usia Dini atau PAUD adalah keharusan. Namun, masuk lembaga pendidikan PAUD adalah pilihan. Wajar jika kemudian tidak sedikit orangtua yang "membuat" sekolah PAUD secara mandiri di rumah.

PAUD di rumah tentu menyenangkan. Meskipun pasti juga membutuhkan perhatian dan waktu yang lebih. Orangtua, khususnya ibu, dituntut untuk mengatur porsi setepat mungkin.

Ketimbang menitipkan anak ke lembaga/sekolah PAUD dengan biaya tinggi dan belum tentu ideal sebagaimaan diharapkan, maka melakukan program PAUD di rumah saja merupakan pilihan yang bijaksana.

Menyelenggarakan PAUD di rumah untuk anak sendiri memiliki sisi yang jauh lebih positif, tanpa menihilkan peran penting lembaga pendidikan PAUD. Program PAUD di rumah, orangtua dapat lebih intens membangun jalinan ikatan emosional dengan anak.

Ilustrasi/ Wikipedia

Namun, ada juga sejumlah keluhan saat memutuskan anak "sekolah" PAUD-nya di rumah saja. Diantara problem tersebut, anak-anak kerap dianggap susah diatur atau keluhan ibu yang lebih cerewet dari biasanya.

Seperti pengakuan seorang ibu muda beranak 5, sebut saja namanya Liya, yang mengaku lebih cerewet dan banyak ngomel setiap pagi di rumah sejak si kecil tidak ikut sekolah PAUD.

"Biasanya kan kalau pagi yang kecil dititip sekolah di PAUD. Jadi setiap pagi saya bisa leluasa membereskan pekerjaan rumah. Tapi sejak tidak ikut PAUD, saya sering ngomel dan marah-marah ke dia," kata Liya kepada Parentnial, Senin (2/4/2018).

Keluhan Liyah dan mungkin banyak kasus serupa dialami oleh ibu lainnya itu, adalah hal yang lumrah. Apalagi di masa-masa awal orangtua memutuskan si kecil menjalani PAUD di rumah. 

Tetapi dalam kasus sebaliknya, ada orangtua yang memasukkan anaknya ke sekolah PAUD karena beralasan jika di rumah anak malah jadi "korban" omelan dan membuat orangtua khususnya ibu selalu marah dengan tingkahnya yang "tak mau diam".

Padahal, jika mengetahui dan memahami pentingnya merawat emotional bonding antara orangtua dengan anak, cerewet kepada anak justru positif.

Kecemasan seperti dialami ibu di atas tidak perlu ada. Sebab, selama itu adalah "cerewet yang positif", justru ini sangat penting bagi anak.

Sejatinya cerewetnya ibu setiap pagi itu adalah hal positif yang akan menumbuhkan kedekatan dirinya dengan anak. Seperti mengomeli si kecil agar merapikan mainan, membersihkan noda, dan memintanya disiplin menempatkan sesuatu pada tempatnya.

Bagi setiap anak, omelan ibu itu berbeda muatan energinya dengan suara orang lain. Suara dan langgam yang keluar dari mulut ibu yang disebut "cerewet" itu tidaklah sederhana, sebab ia adalah sesuatu yang akan dikenang oleh sang anak ketika dewasa.

Jadi dalam "penyelenggaraan" PAUD di rumah dimana sang ibu yang langsung menjadi kepala sekolahnya, adalah merupakan keputusan yang tepat. Termasuk dalam hal kecerewetan. Cerewet itu memang watak wanita.

Tapi, cerewetlah yang positif. Cerewet yang mengandung dorongan, membangun jiwa, dan mendewasakan mental anak. Anak seusia dia mungkin belum paham kalimat demi kalimat positif tersebut, namun lambat laun pesan-pesan itu akan terpatri di alam bawah sadarnya.

Cerewet positif itu penting. Atau, kalau dalam istilah penceramah Salim A. Fillah, wanita idaman itu yang "cerewet shalehah". Yang omelannya mengandung doa dan pesan-pesan impulsif.

Dan ternyata, dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh University of Essex di Inggris ditemukan bahwa anak-anak yang dibesarkan oleh seorang ibu cerewet cenderung akan tumbuh lebih sukses daripada anak-anak dari ibu yang tidak cerewet.

Dikutip dari laman berita Daily Mail, disebutkan bahwa dari tahun 2004 hingga 2010, para peneliti mengikuti kehidupan 15 ribu anak perempuan yang berusia antara 13 sampai 14 tahun.

Penelitian itu mendapati temuan bahwa anak-anak yang dibesarkan oleh ibu dengan standar tinggi lebih berkesempatan untuk menjalani pendidikan hingga ke tingkat kuliah dan memiliki pekerjaan dengan gaji lebih tinggi.

"Harapan yang tinggi anak bisa bersekolah berasal dari orangtua, terutama dalam sebagian kasus di sini adalah peran ibu," terang salah satu peneliti Ericka Rascon-Ramirez.

Penelitian itu juga menemukan bahwa tipikal ibu yang rajin mengingatkan ini dan itu kepada anak gadisnya juga lebih memungkinkan menjauhkan anak dari pergaulan bebas. Dan, tentu ingatan tersebut harus ditanamkan sejak PAUD.

Kegiatan PAUD di Rumah

Lantas, bagaimana sang kepala sekolah mengelola PAUD miliknya di tengah kesibukan dan rutinitas sebagai ibu rumah tangga yang harus membereskan ini dan itu setiap pagi.

Sementara di waktu yang sama, anak-anak memahami bahwa kegiatan di pagi hari itu adalah sekolah atau bermain. Kepala sekolah yang baik tentu sudah punya semacam blue print untuk sekolahnya, apalagi ini adalah sekolah sendiri dan peserta didik adalah anak-anaknya sendiri.

Yang penting dipahami, anak anak usia dini pra-TK tidak harus diajari membaca, menulis, dan berhitung (calistung). Pada periode PAUD ini, mereka cukup dikenalkan dengan beragam peraga motorik dalam bentuk kegiatan bermain.

Pada periode ini adalah masa di mana anak-anak sudah perlu dikenalkan tentang jatidiri manusia dan mengenalkan dia tentang lingkungan sekitarnya seraya mendorongnya membangun sikap positif seperti membangun kebiasaan berbagi, sopan, percaya diri, dan rapi.

Perlu dipahami orangtua bahwa prinsip pendidikan anak usia 2-4 tahun adalah bermain sambil belajar atau belajar melalui bermain. Dengan demikian, hendaklah yang diterapkan di rumah benar-benar sesuai dengan jangkauan masanya.

Lalu pada usia 2-4 tahun, anak kita akan mulai unjuk gigi dan selalu ingin bergerak bebas dengan berusaha mandiri. Ini merupakan peralihan periode usia sebelumnya yang sangat bergantung pada orang lain (caregiver).

Adapun beberapa kegiatan pendidikan anak usia dini seperti dikutip dari Families Online yang bisa dilakukan oleh orangtua di rumah bersama si kecil, diantaranya:

(1) Kerajinan dan bermain berantakan

Berbagai macam kegiatan dapat dilakukan oleh anak di rumah melalui pantauan orangtua. Seperti menggambar lukisan, menggambar, mencetak, memotong dan menempel, membuat gambar kolase dan memainkan peran besar dalam kelompok pra-sekolah. Kegiatan seperti merangsang kreatifitas anak untuk menjelajahi berbagai bahan, tekstur, warna, dan zat yang berbeda.

Ini akan membantu mengembangkan koordinasi mata tangan mereka, imajinasi dan mengembangkan keterampilan motorik halus yang diperlukan untuk belajar menulis pada tahap selanjutnya.

(2) Buku, cerita, dan puisi

Harus ada kisaran buku yang baik yang dapat dijangkau anak-anak di 'pojok buku' atau 'kotak buku' tergantung pada ruang, sehingga anak-anak dapat melihat dan memilih buku untuk diri mereka sendiri.

Buku-buku harus diubah secara teratur dan tetap rapi sehingga anak-anak dapat melihat apa yang tersedia bagi mereka, ini juga akan mendorong mereka untuk terus kembali ke area buku untuk melihat apa yang baru serta melihat buku favorit lama.

(3) Bermain peran

Bermain toko, restoran, rumah wendy, dapur mini, dan pakaian ganti, adalah bagian yang sangat penting dari kurikulum pra-sekolah karena mereka menyediakan kemungkinan tak terbatas untuk bermain imajinatif. Ini adalah waktu ketika anak-anak juga belajar untuk berbagi dan bekerja sama satu sama lain melalui permainan khayalan mereka sendiri.

(4) Permainan meja dan mainan konstruksi

Berbagai macam mainan konstruksi seperti gelas, sedotan konstruksi, ubin fleksibel, dan batu bata berhutan. Dengan mainan ini anak-anak belajar bereksperimen dengan bentuk, ruang, dan keseimbangan serta cara memecahkan masalah teknis sederhana.

Meja permainan yang digunakan bisa berupa papan pasak, kartu dan permainan papan seperti pasangan yang cocok, jepret dan temukan yang aneh.

Permainan ini mengharuskan anak-anak untuk berkonsentrasi dan akan mengembangkan keterampilan menyortir, mencocokkan dan mengurutkan, mereka juga memperkenalkan konsep sportivitas yang baik!

(5) Waktu lingkaran

Permainan ini membutuhkan beberapa orang, Anda bisa melibatkan anak tetangga lainnya yang sebaya dengan anak anda. Cara bermainnya, mereka duduk bersama untuk menyanyikan lagu-lagu, menggunakan instrumen perkusi, bertepuk tangan, membubuhkan cap, dan memainkan syair lagu seperti yang populer saat ini "Baby Shak" atau syair lagu yang edukatif lainnya.

Sebagian besar anak-anak kecil sangat menikmati kegiatan musik, ini juga merupakan cara yang baik untuk memperkenalkan konsep-konsep seperti ritme dan penghitungan sambil mengembangkan keterampilan dan memori pendengaran.

(6) Bermain fisik dan petualangan

Anak-anak dapat belajar melompat, melompat, berguling, menjajakan sepeda, berjalan di sepanjang jembatan/kelokan keseimbangan. Kegiatan ini memang membutuhkan tempat yang lebih luas, namun di rumah minimalis pun bisa dilakukan. Kegiatan ini akan membantu mengembangkan kesadaran diri, kekuatan otot dan koordinasi dan kontrol tubuh (keterampilan motorik kasar).

Nah, para orangtua yang sedang menjalani menjadi guru smart untuk pendidikan usia dini para ananda tercinta, semoga artikel ini menambah ide Anda untuk total menjalani PAUD di rumah.

DEVINA SETIAWAN

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel